Pages

Cari

Jumat, 13 Juni 2014

Kali Ngingas



“Tun, siapa yang kalap?”

“Kurang tahu To, ayo ke sebelah utara dekat kuburan saja,” ajak saya.

Sore itu orang-orang pada berkerumun di pinggir kali Ngingas, kali yang membelah kampung Laweyan menjadi dua, lor kali dan kidul kali. Mereka pada ingin memastikan nasib anak yang kalap di kali Ngingas tersebut.


Kali Ngingas ini arusnya tidak terlalu deras malah condong ke tenang, tapi sudah beberapa kali memakan korban. Tiga minggu yang lalu kawan saya SD yang rumahnya kidul kali, kalap ketika lagi berenang bersama adiknya. Mayatnya sampai sekarang belum diketemukan. Kabar yang beredar, di kali tersebut ada pusaran yang tidak terlihat. Kalau sudah masuk pusaran tersebut,  alamat tidak akan selamat.

Saya dan Broto berlari kecil menuju kuburan yang berada diatas kali Ngingas. Dari lokasi tersebut kita dapat melihat ada lima bapak-bapak yang sedang berupaya mencari anak yang kalap. Ada yang duduk bersila, diam, mulutnya terlihat komat-kamit. Beberapa ada yang menyelam ke dasar sungai tanpa peralatan selam.

Tiba-tiba salah seorang penyelam muncul ke permukaan. Wajahnya pucat, gerakannya tidak karuan. Dipinggangnya melilit seekor ular phiton.

“Tolong pak...tolongg......ularrrr.....”

Gemparlah suasana di pinggir kali Ngingas, sore itu. Orang – orang semburat berlarian saling menyelamatkan diri sendiri.

Byurrrr....

Terlihat seorang laki-laki meloncat ke kali. Dengan cepat dia berenang mendekati bapak yang dililit ular phiton itu. Dipegangnya kepala ular phiton itu dengan kuat, dimasukkannya kepala ular tersebut ke dalam sungai. Ekor ular itu bergerak kesana kemari, sedikit demi sedikit lilitannya pun mulai mengendor. Beberapa orang ikut membantu melepaskan bapak tersebut dari lilitan ular. Akhirnya bapak itu pun lepas dari lilitan ular phiton itu.

“Woiii pegang ekornya......tarik ke pinggir.” Teriak laki-laki itu sambil tetap memegang kepala ular phiton tersebut.

Empat orang bapak-bapak membantu menarik ekor dan badan ular itu ke pinggir sungai. Nafas laki-laki yang memegang kepala ular itu terdengar naik turun.

“Ular ini sepertinya habis makan kambing, soalnya gerakan dan lilitannya tidak terlalu kuat,”

“Ya syukurlah, kalau tadi pas lapar matilah saya.”

“Eh lihat perutnya, sepertinya ini bukan bentuk kambing .”

Dirabanya perut ular phiton tersebut dengan kedua tangannya.

“Bundar, seperti batok kelapa .”

Diturunkannya kedua tangannya.

“Mosok ular ini makan beras sekarung penuh sih, ular yang aneh”

“Eits!!..sebentar, ada kayu di kanan kiri karung ini”

 “Innalillahi!!....jangan-jangan....”

( Cerpen ini saya ikut sertakan dalam event Fiksi Kota Kelahiran yang diselenggarakan oleh
Fiksiana Community )

Keterangan :
Kalap  : hanyut
Kali    : sungai
Lor Kali : utara sungai
Kidul Kali : selatan sungai