Pages

Cari

Selasa, 10 Juni 2014

Nyi Nimas

Pada malam yang panas itu, Nimas duduk di atas springbed murahan yang disana sini per nya sudah tidak berfungsi lagi. Semilir angin yang keluar dari dari kipas angin  yang ada di salah satu kamar losmen itu,  menyibak rambut panjang Nimas yang lepas terurai. Jarik yang kemarin malam dipakainya untuk nyinden, sekarang dipakainya untuk menutupi gunungan yang meskipun sudah setengah abad masih mampu membuat kaum Adam ternganga takjub meliriknya.


Disamping Nimas, berbaring lemas seorang pria muda.
“Duhhh....kamu hebat Tung. Terimakasih telah membuatku hepi malam ini.”

Anggukan kecil dan senyum puas tersungging di bibir Tatung, nama pria muda itu.
***
“Wedyan...tambah cantik aja mbak Nimas. Hei, tunggu dulu dong. Mau kemana mbak?” Tatung mencoba memegang  tangan Nimas, tapi tidak kena.
Nimas hanya memandangi Tatung, tanpa menjawab pertanyaannya.
***
“Ibuk kan sudah bilang to Le, jangan main-main sama sinden sundal itu. Kamu itu masih bau kencur, belum tahu apa-apa.” Air mata ibuk mengalir deras.

Suprapti, pacar Tatung hanya mengelus-ngelus perutnya. Tatapannya kosong.
“Anak kita, mas.”


Tubuh Tatung lemas, ringan, melayang ke atas. Di kamar nomor 12A itu dilihatnya seorang laki-laki muda dengan lidah menjulur keluar, tergantung oleh seutas jarik. Disekitar kamar tersebut ditemukan kembang tujuh rupa, kemenyan, dan Fiesta.


Saya Arif Wibowo, lamat-lamat terdengar suara kelenengan gamelan....