Pages

Cari

Rabu, 04 Juni 2014

Penggalan Perjalanan Ke Argopuro #1

Terus terang saya bukanlah pendaki yang expert. Saya tidak menguasai ilmu perkompasan, makanya saya tidak pernah diajak rembugan untuk menentukan arah mana yang akan dilalui.  Saya tidak menguasai jalur pendakian, dalam arti kata saya hanya mengikuti kemana teman-teman perjalanan saya melangkah. Saya sudah sangat mempercayai teman-teman perjalanan saya. Mereka adalah para petualang sejati. Mari kita lihat CV mereka :
·         Jabrix, senior Trupala, alumni Rinjani, Semeru, Gunung Gede, Gunung Agung.
·         Wongli, senior di perkumpulan pencinta alam Kota Batu, anggota SAR Batu.
·         Andi Padang dengan tubuh yang atletis, kuat , baik hati, suka menolong, paling junior, mau diperintah-perintah.


Cerita ini hanya sepenggal pengalaman saya mendaki Gunung Argopuro......long time ago.

Jumat, sekitar jam tujuh malam suasana Terminal Arjosari Malang masih kelihatan ramai. Lalu lalang orang-orang yang turun dari bis maupun  yang naik bis silih berganti. Para calo, sopir taxi, pedagang asongan, penjual koran, pengamen dan pengemis ikut meramaikan suasana malam itu. Suara awak bis saling bersahutan menyebutkan nama-nama kota dengan seenaknya saja.

 “Ruan, ruan..linggo linggo,...mau ke Bromo mas, ini bis terakhir ke Linggo mas”  kata seorang kenek bis kepada kami berempat. Kenek bis tersebut pastilah mengira kami mau pergi ke Bromo, karena dia melihat tas ransel keren yang nyantol di masing-masing punggung kami. Sebenarnya malam itu kami berempat yaitu saya, Jabrix, Wongli, dan Andi Padang akan ke Gunung Argopuro yang terletak di perbatasan antara Probolinggo dan Situbondo. Terus terang belum ada salah satu dari kami yang pernah ke Gunung Argopuro. Informasi rute ke Gunung Argopuro hanya didapat dari cerita teman-teman yang pernah kesana, itupun gak lengkap.

“Oh mau ke Argopuro, naik bis ini nanti turun di terminal Probolinggo,” kata kenek tersebut. Kami pun segera naik bis Akas  jurusan Malang-Probolinggo tersebut. Terlihat tempat duduk hampir penuh, segera saja kami mengambil posisi dibelakang sendiri. Supaya sekaliyan bisa mengawasi ransel-ransel yang kita taruh dibelakang tempat duduk. Setelah bis terisi penuh, berangkatlah bis tersebut meninggalkan Terminal Arjosari Malang menuju Probolinggo.

Sekitar jam sepuluh  malam tibalah kita di terminal Bayuangga Probolinggo. Terminal tersebut kecil dan sepi, ada satu dua orang lagi ngobrol di lobi terminal, mungkin mereka pedagang asongan yang tidur disitu. Dan sepertinya sudah tidak ada lagi bis yang singgah ke terminal pada jam segitu.

“Numpang nanya pak, kalau mau ke Bremi naik apa ya pak?” tanya Jabrix kepada seorang bapak yang sedang istirahat di lobi  terminal.

“Jam segini sudah gak ada bis yang ke Bremi nak, baru ada besok jam enam pagi. Itupun berangkatnya dari terminal lama, bukan dari sini nak. Tujuan anak mau kemana?” jawab bapak itu.

“Mau ke Gunung Argopuro pak, naiknya dari Bremi pak. Maaf pak kalau ke terminal lama naik apa ya pak?” sahut Andi Padang.

“Naik ojek aja nak, mereka pasti tau kok. Oh iya nak, kalau mau sowan ke Dewi Rengganis harap hati-hati ya....,” kata bapak itu lirih.

“Ok pak, terimkasih pak..” jawab kita berempat hampir bersamaan.

Kebetulan sekali didekat terminal lama tersebut yang telah menjadi poolnya bis Akas ada sebuah penginapan yang bernama Bromo Indah. Lumayanlah kalau hanya untuk tidur semalam saja.

Jam lima pagi kita telah bangun dan segera bersiap-siap untuk berangkat ke Bremi.

Pendakian Gunung Argopuro dimulai dari Desa Bremi , Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo. Ketika memasuki jalur pendakian Bremi ini kita akan disuguhi lebatnya hutan Argopuro. Seperti biasa saya berada di barisan tengah, dan yang membuka jalan adalah Andi Padang. Dengan gagah beraninya dia melaju cepat jauh meninggalkan kita. Tandem yang cocok bagi Andi adalah Wongli. Keduanya sama-sama mempunyai enerji yang berlebih. Saya dan Jabrix berjalan bak mobil 1000cc, pelan tapi pasti. Sering berhenti untuk menghilangkan dahaga. Syukurlah sebelum sore menjelang kita sampai di danau yang bernama Danau Taman Idup. Disini kita berjumpa dengan teman-teman sesama pendaki dari daerah lain. Setelah berbasa-basi sebentar dan mengisi air, kita melanjutkan perjalanan ke etape berikutnya. Sebenarnya saya agak takut berlama-lama dipinggir danau tersebut, apalagi hati sudah mulai senja. Saya takut berebutan air dengan mahluk lain selain kita, contohnya babi hutan, kancil, rusa, srigala, macan, dan mahluk-mahluk lainnya.

Jalur Argopuro menurut saya merupakan jalur yang panjang melewati beberapa bukit, puncak Argopuro juga tidak seperti gunung-gunung yang lain, puncak Argopuro tidak terlihat dari bawah. Beberapa kali kita hampir putus asa karena salah dalam memperkirakan puncaknya.
Setelah berjalan seharian, rasa lapar dan ngantuk berbaur dengan capek memaksa kita untuk beristirahat. Pada saat itu kita tidak sempat untuk mendirikan tenda lagi, kita gelar saja ponco sebagai alas dan sleeping bag sebagai tempat tidur, terlelaplah kita memasuki alam tidur.
Keesokan harinya baru kita sadar, bahwa kita tidur diatas semak-semak yang merupakan bekas tempat bermainnya macan, karena ada bekas tapak macannya. Hiiii....atutttttt....
Wongli dan Andi, sebagai pendaki yang bertanggungjawab, akan menyediakan sarapan bagi kita berempat. Dengan menu mi instan, kornet, telor. Menu tersebut adalah menu biasa bahkan kita jarang sarapan menu tersebut kalau dalam keadaan normal. Tapi pada saat itu, menu tersebut superduper istimewa. Ajiib bin lazizzzzzz bin makyusssss dan juarahhhh.....

Perjalanan pun dilanjutkan tanpa tahu puncaknya ada dimana. Kita melewati semak belukar yang tinggi, ilalang, hutan dengan pohon yang tinggi. Kita akan bertemu dengan mata air yang bernama Aengkenik.

Setelah melewati beberapa sabana dan Rawa Embik, yang merupakan sabana terakhir maka kita akan mencapai puncaknya.

Puncak Gunung Argopuro terkenal sebagai petilasan Dewi Rengganis. Saya kurang tahu siapa itu Dewi Rengganis. Disekitar petilasan tersebut terdapat bekas-bekas sesajen. Saya berpikir hebat bener orang yang naruh sesajen ini, jauh-jauh hanya mau naruh sesajen tersebut. 

Yang agak kurang ajar adalah Wongli, setelah dia ganti baju dalam dan baju luar, tanpa rasa takut CD bekasnya dia lempar ke bawah. Bocah ini emang bener-bener gak kenal mitos. Hidupnya penuh syariah.


Bersambung