Pages

Cari

Rabu, 11 Juni 2014

Penggalan Perjalanan Ke Argopuro #2

“Aku dan Wongli jalan duluan ya. Nanti kita ketemu di Aengkenik, tak bikinkan makan siang yang canggih deh pokoknya.” Kata Andi Padang.

Dalam perjalanan pulang , tim dibagi dua. Wongli berpartner dengan Andi, karena keduanya mempunyai kesamaan yaitu tidak bisa jalan pelan. Sedangkan saya dengan terpaksa harus menemani Jabrix yang hobinya potret sana potret sini. Untungnya dari 100 objek poto yang diambil oleh Jabrix, wajah maupun bagian dari tubuh saya turut serta memperindah 98 poto tersebut. Kalau kata orang sih potogenik. Yang dua poto hasilnya adalah hitam legam, terbakar.


“Cil, emang kemarin lewat sini ya?”

“Ya iya lah, kan lewat padang savana ini kan. Nanti kita akan ketemu Aengkenik, Brix.”

“Ehmmm...sebentar deh.”

Diatas rumput yang agak rata, Jabrix membuka peta kontur Gunung Argopuro dan dikeluarkanlah kompas kecil dari saku celana gunungnya.

“Cil..jangan panik ya, kita hitung amunisi Cil.”

Seketika itu juga diatas kepala saya seperti ada babel yang berisi adegan film yang menampilkan beberapa laki-laki dengan seragam warna orange, dibawah rimbunnya pohon yang disiram derasnya air hujan,  sedang membawa HT sibuk melakukan kontak dengan sesama teman mereka juga.

Segera saja saya dan Jabrix menginventarisir logistik yang masih tersisa. Empat bungkus mi instan, setengah kantong kecil permen, tiga botol air, setengah batang coklat, dua batang parafin.

“Wongli sama Andi gimana Brix?”

“Sambil jalan kita panggil-panggil mereka saja Cil.”

“Kita jalan kearah mana ni Brix?”

“Kalau kita mbalik lagi, kejauhan Cil. Belum tentu juga nemu jalur yang kemarin.”

Saya pasrah saja, ikut jalur nya Jabrix.

Baru kali ini dalam sejarah pendakian saya, mengalami gagal fokus jalan pulang. Ada beberapa kemungkinan yang membuat saya dan Jabrik gagal fokus jalan pulang, mungkin karena keasyikan ambil poto-poto, bisa juga karena ulah Wongli yang melempar CD. Ahh..sudahlah.

“Liii..Wongliii....Andiiii...Liii.... Andiii....,” sepanjang perjalanan pulang , bergantian kita memanggil mereka. Sebenarnya adalah sesuatu yang sia-sia memanggil nama mereka berdua. Sepengetahuan saya, mereka berdua adalah jagoan gunung. Tidak masuk akal lah kalau mereka berdua ikutan tersesat seperti kita.

“Brix, ada air tuh.”

Di sebuah batang pohon dipinggir jurang terdapat tanda panah yang arahnya menunjuk ke bawah, bertuliskan Mata Air.

“Elu tunggu sini ya Cil, gue mau turun ke bawah.”

Tiba-tiba dari arah bawah muncullah dua pendaki.

“Woi!!! Ngapain turun, gak ada air...”

Sepertinya suara nya kenal nih. Jreng, jreng...Dua kepala pemilik suara tersebut sedikit demi sedikit mulai terlihat utuh. Dan terlihatlah Andi yang membawa botol kosong, dan Wongli yang membawa bulu burung merak.

Kita berempat tertawa, ternyata semuanya mengalami gagal fokus jalan pulang.

“Ini gara-gara elu nglempar CD sembarangan Li, kita semua kena getahnya.” Kata Jabrix.

Senja mulai turun, dari kejauhan lamat-lamat terdengar suara adzan Maghrib. Tiba-tiba semerbak kemenyan menggelitik indra penciuman kita. Dalam diam kita berjalan, mulut komat-kamit melafalkan doa-doa sebisanya.

“Sopo sehh ki sing nyumet menyan” kata Wongli.

Wakakakak..dasar bocah gemblung.

Gara-gara ucapan Wongli itu, bau kemenyan tersebut hilang dengan sendirinya. Mungkin mahluk yang menyalakan kemenyan tersebut malu, karena ternyata triknya tidak bisa membikin kita keder.

Sampai jam dua belas malam, dengan diterangi sinar bulan dan senter yang byar pet kehabisan energi baterai, kita masih terus berjalan mengikuti jalan setapak. Disebelah kiri dan kanan kita adalah jurang. Kadang-kadang babi hutan tanpa permisi lari disamping kita. Tidak ada tempat bagi kita untuk beristirahat dengan mendirikan tenda.

Suara gemuruh air tepat di depan kita.

“Yo po ki, sepertinya air terjun didepan kita.” Kata saya setengah putus asa.

“Gue lihat dulu deh. Ayo Li, kebawah.” Ajak Jabrix.

Andi terduduk diam, mungkin dia capek mungkin juga takut. Sama seperti saya. Dua tiga jam lagi, akan masuk hari Senin. Bisa dipastikan kami berempat akan membolos kerja. Akan sangat aneh sekali ketika kita menulis surat ijin tidak masuk dengan alasan tersesat di gunung. Itupun kalau kita bisa menemukan jalan pulang. La kalau kita tidak bisa menemukan jalan pulang? Mungkin akan jadi headline dengan judul Empat PNS Hilang di Argopuro. Lucu juga ya.

“Cil..turun Cil...ada jalan makadam nih...” teriak Jabrix.
***

Dini hari itu, kami berempat tidur disebuah bangunan kosong dipinggir jalan makadam sebuah desa,  persetan dengan nyamuk, tak perduli bau menyan, tak perduli dengan Dewi Rengganis. Capek, ngantuk.


Saya Arif Wibowo, bukan Dewi Rengganis....