Pages

Cari

Selasa, 01 Juli 2014

Manfaat Godong Kelor

Dia berjongkok di bawah tembok belakang rumah pedagang buah di kampung itu. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan,dia meyakinkan dirinya bahwa tidak ada orang yang melihatnya. Mulutnya komat-kamit melafalkan mantera-mantera. Perlahan-lahan tangannya mengeluarkan pasir dari sebuah kantong. Setelah itu, dengan berjalan tenang ditaburkannya pasir yang dia ambil dari kuburan, yang telah di isi oleh gurunya, ke sekeliling rumah tersebut.


Malam semakin larut, bulan pada posisi tanggal tua, tidak terdengar suara binatang-binatang malam. Semuanya terlelap menikmati buaian mimpi.
Hap....meloncatlah dia keatas tembok setinggi hampir dua meter. Ilmu meringankan tubuhnya masih bekerja dengan baik.

“Semua lelap, jendela tak berteralis. Ah empuk, hanya sekali congkel dengan obeng.” Terdengar bisikan di telinga kirinya.

“Eits, tunggu. Ini terlalu mudah. Kamu sudah masuk ke 99 rumah dan mencuri tanpa pernah tertangkap. Sebagian besar rumah yang kamu masuki adalah rumah dengan keamanan maksimum. Apa kamu tidak merasa malu, masuk rumah yang tingkat keamanannya sangat minimum?” Bisikan di telingan kanannya.

“Ini bukanlah masalah mudah atau tidak mudah, bukan pula masalah reputasi. Ini semata-mata karena aku sangat butuh uang segera....untuk taruhan bola.”

Diambilnya obeng yang biasa dia pakai untuk menjalankan aksinya. Dia masukkan ke sela-sela daun jendela dan kusen. Krakkkk...dengan sekali tarikan terbukalah jendela tersebut.
Perlalahan, dia melangkahkan kaki melewati jendela itu. Meskipun dia biasa bekerja tanpa penerangan, tapi kali ini dia merasa lain. Matanya bekerja agak keras untuk untuk bisa menemukan lokasi disimpannya uang dan barang berharga lainya.

“Kaki ku kenapa ini, berat banget.”

Ditengah kegelapan itu, dia seperti melihat bayangan orang tua dengan memakai blangkon duduk bersila tepat lurus dihadapannya. Segera saja instingnya memerintahkan dia untuk berlari secepat-cepatnya keluar rumah tersebut.
***
Adzan subuh mulai terdengar dari beberapa langgar. Orang-orang pun sudah banyak yang bangun, ada yang ke langgar, ada yang kesawah, ada yang ke pasar.

“Hei, lihat...diatas pagarnya Cak Kempong kok ada orang sedang lari ditempat.”

“Ho oh....keringatnya segede grontol, Kang.”

“Wah, itu pasti maling yang gak bisa keluar dari rumahnya Cak Kempong, Yu.”

Tiba-tiba ada yang berteriak, “Godong kelor-godong kelor......Bakarrrrrrr..........”



Saya Arif Wibowo, selamat berpuasa.