Pages

Cari

Jumat, 11 Juli 2014

[Prompt #57] Suatu Hari di Lorong Sekolah



“Tendang sini, tendang sini.....Lempaarrr....Horreee.....” teriak Wisnu kegirangan.

Bola mata saya melotot mau keluar melihat sepatu sebelah kanan saya bergerak kesana kemari, meluncur di sepanjang lorong sekolah itu. Dioper dari kaki Wisnu menuju kaki Dodi. Kadang juga dioper dari tangan Sidik menuju tangan Wisnu.


Kejadian ini merupakan kali kesekian mereka lakukan kepada saya, dan teman-teman yang lain diam, tidak berani berbuat apa-apa.

Kadang saya mengutuk diri saya mengapa saya dilahirkan dengan body spesial seperti ini, selalu menjadi objek penderita.

“Bangsat kamu semua!!!” teriak saya dalam hati.

“Wisnu, kita taruh diatas loker saja yuk.He he he...,” kata Sidik.

“Sudah ah, kasihan Abon. Tuh lihat mukanya merah padam gitu.Ini Bon, sepatumu.”

Wisnu berjalan kearah saya sambil tangan kananya membawa sepatu kanan saya. Saya pun berjalan ke arah Wisnu untuk mengambil sepatu saya.

“Alhamdulillah, berakhir juga penderitaan saya,” kata saya dalam hati.

Dilemparkannya sepatu saya, sialnya bukan ke arah saya tapi ke atas loker.

“Upsss...soriii,” kata Wisnu.

“Bangsat, tak hajar kamu semua!!!” kata saya dalam hati.

Seperti ada kekuatan yang menggerakkan tubuh saya untuk menerkam Wisnu. Kamipun jatuh berguling-guling di lorong sekolah itu, tangan kiri saya mencengkeram krah baju Wisnu dan tangan kanan saya berhasil memukul muka Wisnu tiga kali.

Tiba-tiba dari arah belakang, Dodik dan Sidik memukul saya, “Plak!!!”

***

“Wah hebat kamu Bon, berani melawan Geng Gondes meskipun ada lima jahitan di kepalamu.”

“Ah, itu sih terpaksa Peng. Eh, ngomong-ngomong bagaimana kabar mereka bertiga?”


“Itu terkapar di ranjang sebelahmu. Ada puluhan jahitan di tubuh mereka. Kita keroyok mereka rame-rame.”



Saya Arif Wibowo, flash fiksi ini berjumlah <300 kata. Saya ikut sertakan dalam Prompt #57