Pages

Cari

Jumat, 18 Juli 2014

Untuk Kamu Yang Berjiwa Militan

“Aku sisir sebelah kiri, kamu sebelah kanan, Set,” kata Selbi.

“Baik,” jawab Setyo.

Sudah  mulai habis dhuhur tadi, dua orang tersebut  terlihat mondar-mandir di sekitar perumahan Cempaka Puri. Orang yang berkata pertama perawakannya gemuk, berkaca mata tebal, potongan rambutnya cepak, memakai sepatu pantopel hitam mengkilap dan berjaket kulit hitam pas dengan warna kulit tubuhnya. Bola matanya bergerak kesana kemari, menyapu tiap sudut perumahan.


Sedang orang yang kedua, gaya bicaranya lebih santai, berambut ikal, kulitnya sedikit lebih putih dibanding orang yang pertama tadi.

Mereka berjalan dari ujung gang pertama, kedua, dan seterusnya. Diperhatikannya tiap rumah yang dilewati dengan teliti. Sesekali mereka menuliskan sesuatu di buku agenda yang mereka bawa.

“Rudi Salim, Gang Salak Nomor 23 ya...?” tanya Setyo.

“Di Surat Perintahnya nya tertulis begitu,” jawab Selbi.
Mereka berhenti di depan sebuah rumah besar bercat abu-abu yang sudah mulai pudar. Pintu dan jendela tertutup semua. Tidak terlihat ada aktivitas di rumah  tersebut.

“Sel, kamu cek bagian belakang. Mungkin ada aktivitas di bagian belakang rumah. Aku coba masuk dari depan.”

“Siap!”

Dengan sigap Selbi melangkahkan kakinya menuju belakang rumah.

Kemudian Setyo memencet bel yang ada di depan pintu pagar rumah.

Ting tong..ting tong..ting tong....

Tiga kali Setyo memencet bel rumah tersebut, tapi tidak ada respon dari penghuni rumah.

Kepala Setyo clingak-clinguk melongok mengintip dari balik jeruji pagar.

“Nyari Pak Rudi, Mas?”

“Eh copot, eh copot, eh copooottt.....”

Tubuh Setyo tersentak 30 cm dari permukaan tanah, degup jantungnya berdetak bak sprinter, mukanya merah merona.

“Waduh bapak ini mbikin kaget saya saja.”

“He he he..maaf mas. Kalau mau ketemu Pak Rudi, malam saja mas. Kalau siang Pak Rudi pasti gak ada di rumah.”

“Ke mana pak?”

“Ndak tahu saya mas. Oh ya, hati-hati dengan Karla dan Karlo. Biasanya sih kalau siang ada di belakang rumah.”

“Putra Pak Rudi?”

“Doberman.” Kata bapak itu, sambil berlalu dari hadapan Setyo.

Setyo bergumam lirih, matanya dipicingkan keatas, tangan kanannya mengelus – elus dagu yang gak ada jenggotnya,  “Dibelakang...Doberman....Selbiiii!!!”

Setyo pun secepat kilat melangkahkan kakinya menuju belakang rumah, mulutnya berkomat-kamit “Summum bukmun ngumyum fahum laayarji’uun.” Berulang kali dia melafalkan ayat tersebut.

Terlambat.....

Mulut Karla menggigit sepatu pantalon mengkilap sebelah kanan, Karlo menggigit sepatu pantalon mengkilap sebelah kiri. Terlihat juga sobekan-sobekan kulit warna hitam dan kain biru dongker.

Entah kemana Selbi menyelamatkan diri.....




Saya Arif Wibowo,  saya dedikasikan untuk para petugas yang berjiwa militan seperti kamu..ya kamyu...”Yunohu”

( Flash Fiksi 370 kata )