Pages

Cari

Rabu, 13 Agustus 2014

Cerita Kang Suraji

“Kita belum ke Kang Suraji lo Yah.” Kata istri saya.

Salah satu tradisi lebaran adalah bersilaturahmi ke sanak famili. Setelah pagi tadi sehabis sholat Ied, kita bersilaturahmi ke tetangga kiri kanan rumah, maka siang ini giliran Kami bersilaturahmi ke sanak famili di luar kampung.

Segera saja Saya, Istri, dan dua pasukan saya dengan menaiki Taruna menuju rumah Kang Suraji yang berada kurang lebih 10 km arah Utara dari dari rumah kami.


“Assalamu’alaikum....Assalamu’alaikum..”

Tak terdengar jawaban dari dalam rumah.

Beberapa saat kemudian.

“Wa’alaikum salam...ayo masuk, ayo masuk Le.”

Kami pun dipersilakan masuk oleh Kang Suraji. Dipanggilnya istri dan anak-anak Kang Suraji.

“Ngaturaken sugeng riyadi, sedaya kalepatan nyuwun pangapunten, Kang, Mbak Yu.”

“Podo-podo Le, semono uga aku. Wong tuwo akeh lupute.”

Kang Suraji ini adalah anak dari almarhumah bude nya istri saya. Usianya kira-kira 55 an tahun, orang nya kecil, pekerjaannya tukang becak di Pasar Turen. Secara nasab dan umur, hirarki Kang Suraji memang diatas hirarki istri saya. Sehingga istri saya memanggil dia dengan embel-embel Kang.

Photo : Abenk's doc.

Menurut cerita istri saya, dulu pada waktu mendiang ayah dan ibunya istri saya masih hidup, dan anak-anak Kang Suraji masih empat ( sekarang sudah sepuluh ), tiap lebaran mereka pasti ke rumah. Kang Suraji dan istrinya berboncengan sepeda pancal, keempat anaknya mengendarai dua sepeda mini saling berboncengan dua-dua.

Waktu mudanya Kang Suraji ini sering bepergian ke beberapa pesantren dengan sepedanya untuk mencari ilmu agama.

Kang Suraji pun menceritakan salah satu pengalamanya.

“Pada suatu sore aku pernah bersepeda lewat Batu. Jalannya kan berbelok belok dan naik turun, karena gak kuat, sepeda aku tuntun. Dibelakang aku lihat ada truk yang mau lewat. Wah, kebetulan ini bisa nunut. Aku cegat truk tersebut, aku bilang mau nunut. La kok truk tersebut bablas saja. Ya sudah, aku lanjutkan bersepadanya dengan pelan-pelan.”

Beberapa waktu kemudian, aku lihat truk tadi berhenti di tengah jalan. Sopirnya clingak-clinguk kebingungan.

“Ada apa mas, kok berhenti di tengah jalan?”

“Gak tau mas, tau-tau berhenti sendiri.”

“Coba sampeyan starter lagi.”

Jrengggg......

“Mas, monggo bareng saya . Sepedanya taruh belakang mas.” Kata sopir truk tersebut dengan senangya.

“Sampeyan hebat Kang, sampeyan apakan mobil e kok  bisa nyala mesin e?” tanya istri saya.

“Cuman tak pegang, sambil tak bacain Sholawat. La kok kersaning Gusti Allah nyala mesin e.”

***
Hmmmm, sering kita tertipu dengan penampilan. Penampilan biasa, lusuh, tukang becak, tapi ilmu agamanya tinggi.

Saya Arif Wibowo, lusuh, biasa, buruh, tapi ilmu agamanya tetep cekak..duhhhh Gustiiii....