Pages

Cari

Jumat, 08 Agustus 2014

Prepekan

rimpi karuniasti's doc.

Tinnn..tinnnnn...tiiiinnn.....rrroonggg..rrronnggg..

“Wuaduh, sabar po o sih Cak!” gerutu Cak Bungkring, kepada seorang pengendara motor yang seenak udelnya menyalib becak Cak Bungkring yang sedang ditumpangi dua perempuan gemuk dan seorang anak laki-laki gemuk juga.


Priiitt, prriitttt....

Suara peluit tukang parkir saling bersahutan, berebutan menawarkan lahan parkirnya kepada setiap pengendara motor yang lewat Pasar Turen.

Disebelah Barat pasar, para bakul ayam kampung dan bebek rame melakukan transaksi jual beli dengan pelanggannya.

Bedak penjual daging sapi, ayam potong, baju, buah-buahan, belanja dapur, kue-kue, dan kebutuhan lainnya hari itu penuh sesak diserbu para pembeli.

“Bu ne, tak tunggu sini yo?” kata Bapak.

“Iyo Pak, aku sama Thole tak ke Tiga Putra.”

Saya digandeng Sibu menyeberangi jalan menuju Toko Emas Tiga Putra dan Bapak menunggu di seberang jalan sambil duduk diatas sepeda motornya.

“Mau jual atau beli bu?” tanya mbak-mbak pelayan Tiga Putra sesampainya Sibu di toko tersebut..

“Jual mbak, harga emas 23 sekarang berapa mbak?”

“Harganya sekarang turun bu, dipotong lima belas ribu per gram nya lo bu.”

Saya lihat Sibu masih tawar menawar dengan mbak-mbak pelayan Tiga Putra. Sepertinya Sibu kecewa dengan harga jual emas yang turun dan masih dipotong lagi. Saya tahu uang penjualan emas tersebut sangat dibutuhkan oleh Sibu, untuk persiapan lebaran besok

Dari jauh saya dengar ada anak kecil menangis, lama kelamaan suara tangis anak kecil tersebut semakin dekat. Saya lihat seorang gadis kecil, kira-kira seumuran anak TK Nol Kecil, sedang digandeng tukang parkir.

“Anak e sopo iku Cak?”

“La iki lagi nggoleki pak e mbok e, Cak.”

Orang-orang mulai berkerumun mengitari gadis kecil tersebut. Ada yang mencoba menanyai keberadaan orang tua gadis kecil tersebut. Tetapi tangis gadis kecil tersebut malah semakin banter.

“Di halo-halo ae pak. Nanti kan orang tua nya bisa dengar.” Usul seorang ibu.

“Ya kalau di Ramayana atau Matahari bu, la ini di pasar mosok ada halo-halonya.”

“Kok rame-rame ono opo Le?” tanya Sibu kepada saya. Saya lihat raut muka Sibu agak cerah, sepertinya cincin Sibu satu-satunya dihargai sesuai harga yang Sibu minta.       

“Ada anak hilang Bu, yang digandeng tukang parkir itu.”

“Orang tua sembrono, mosok anak anak sekecil itu dibiarkan sendirian.”

“Yo wis ayo kita ke Bapakmu Le.” Lanjut Sibu. Saya digandeng Sibu berjalan melintasi kerumunan orang-orang tersebut.

“Pak e...pak eee.....” Tiba-tiba gadis kecil itu berlari ke arah laki-laki setengah baya, berkopiah hitam tinggi, berbaju koko putih, dan bersarung kotak-kotak hitam.

“La iku bapak e, nyang ndi ae sih pak?”

“Sepurane cak, maaf bapak-bapak, maaf sudah ngrepoti. Terimakasih atas bantuannya.”

“Lain kali hati-hati pak, untung gak diculik orang, anaknya Pak.”

Kerumunan orang-orang tersebut sedikit demi sedikit mulai bubar. Mereka kembali ke aktivitasnya semula.

“Piye Bu ne, laku berapa cincin e?” tanya Bapak.

“Alhamdulillah, laku lumayan Pak ne. Bisa buat beli bajunya Thole.”

Saya tersenyum mendengar kata-kata Sibu.

“Ini Pak uang.....Astaghfirullah....Pak ne....Pak ne.....uang cincin ku Pak ne.....uang cincin ku Pak ne.”

Saya lihat air mata Sibu deras mengalir, dan Bapak berulang kali mengucapkan Astaghfirullah.


Saya tertunduk, besok sholat Ied di Masjid Al Azhar masih memakai baju lebaran dua tahun yang lalu, yang sudah kekecilan.


Saya Arif Wibowo, cerpen <500 kata