Pages

Cari

Jumat, 15 Agustus 2014

Putih Atau Merah ?

“Bapak kemana Buk? Tetangga-tetangga kalau ketemu saya pasti pada nanyakan Bapak.” Kata Mas Aryo, kakak saya.

“Ya jawab saja, Bapak lagi tugas ke luar kota.”


Saat ini Bapak adalah karyawan perusahaan jamu tradisonal di kota Malang. Tugasnya di perusahaan tersebut adalah memasarkan jamu ke warung-warung di wilayah Jawa Timur. Sudah lebih dari dua minggu Bapak belum pulang ke rumah.

Seingat saya Bapak sudah tiga kali berganti profesi. Yang pertama adalah tukang cukur keliling, belum setahun sudah berhenti jadi tukang cukur karena sepi. Yang kedua ikut rombongan ludruk keliling. Agak lama Bapak ikut  ludruk tersebut, keluar dari ludruk tersebut karena Bapak tidak sependapat dengan Pak Surat, pimpinan ludruk keliling itu. Dan yang ketiga adalah sekarang ini.
***
Akhir-akhir ini situasi di kampung kami lagi panas. Sebulan yang lalu, seorang Kyai yang sangat dihormati di kampung kami, Gus Joned, di culik oleh gerombolan orang tak di kenal pada saat beliau akan berangkat sholat Subuh di surau dekat rumah beliau. Sampai sekarang keberadaan Pak Kyai tersebut belum diketemukan.

Dan dua minggu yang lalu, Pak Jatiman, teman Bapak di perusahaan jamu di Malang, ditemukan meninggal dunia di tengah-tengah hutan jati. Pak Jatiman sering mengumpulkan para petani di kampung kami dan para karyawan teman-temannya Pak Jatiman, termasuk Bapak, untuk diberikan pengarahan. Saya pernah melihat pengarahan Pak Jatiman di Balai Desa. Saya lihat Bapak dan teman-teman Bapak yang lain pada rokokan, tidak memperhatikan apa yang di omongkan Pak Jatiman. Saya sendiri juga tidak tahu apa yang diomongkan Pak Jatiman. DI akhir acara orang-orang pada menyanyikan Genjer-Genjer.

Sehabis Maghrib, keadaan di kampung kami seperti kampung mati. Sebagian besar bapak-bapak dan laki-laki dewasa pergi meninggalkan rumah. Katanya sih ronda.

Pada suatu malam,

“Tok, tok, tokkk.”

“Kus...Kusno...Kus....Buka Kus!”

Kami bertiga gemetaran mendengar ada orang mengetok rumah kami dan memanggil-manggil nama Bapak.

Dengan memberanikan diri, Ibuk membuka pintu rumah.

“Pak Kusno belum pulang, Pak.”

Tanpa banyak bicara, dua orang laki-laki dewasa masuk rumah kami. Matanya tajam mengawasi setiap sudut ruangan. Dimasukinya dua kamar tidur, kamar mandi, dapur. Dan memang itu ruangan yang ada di rumah kami. Mereka tidak menemukan Bapak.

“Awas jangan bohong, rumah ini sudah kami awasi!”

Merekapun pergi ditelan gelapnya malam.
***
Dimatikannya lampu teplok yang ada di ruang tamu, Ibuk membawa kami ke kamar mandi.

“Ssst..diam ya.” Kata Ibuk.

Saya dan Mas Aryo terkejut bercampur senang. Kalau saja Ibuk tidak menutup mulut kami, hampir saja kita berdua berteriak kegirangan. Dengan hati-hati Bapak turun dari blandar yang ada diatas kamar mandi. Wajahnya terlihat capek, tubuhnya agak kurusan, kulitnya lebih hitam dari biasanya. Bapak tidak banyak bicara. Di peluknya kami satu persatu.

“Bapak tidak punya banyak waktu. Mulai hari ini jangan mengharap bapakmu pulang lagi. Anggap saja sudah tidak ada.”

“Buk, ini ada sedikit uang. Aryo, jaga Ibukmu dan adikmu. Apapun yang terjadi, kalian harus berusaha tetap sekolah.”

Setelah Bapak berkata begitu, Ibuk membawa kami ke kamar tidur. Kami tidak tahu Bapak keluar rumah lewat mana.
***
Tiga puluh tahun setelah kejadian itu, Mas Aryo telah menjadi seorang Kepala Sekolah SMP swasta terkenal di Ponorogo, dan saya telah menjadi seorang konsultan pajak di Surabaya. Dan Ibuk tinggal di Ngantang Batu, sambil mengasuh beberapa anak yatim piatu.



Saya Arif Wibowo, adaptasi dari cerita seorang teman.