Pages

Cari

Selasa, 07 Oktober 2014

Bukan Pencitraan

Sumber : Dokumentasi Pribadi Mas Dadyk Kusuma

Sekitar jam dua belas siang, sudah ada beberapa orang yang menunggu di luar pagar Masjid At Taqwa, masjid yang terletak di dalam komplek Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pasuruan.

“Dapat berapa kupon pak?”

“Satu saja, kalau sampeyan bu?”

“Tiga, yang dua titipan dari tetangga.”

***
Pada hari Senin, tanggal 6 Oktober 2014 Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pasuruan menyelenggarkan pemotongan hewan kurban. Sudah dua kali ini pemotongan hewan kurban dilaksanakan pada hari kerja.

“Sebaiknya orang yang berkurban menyaksikan hewan kurbannya disembelih, sebagaimana perintah Rasul kepada Fatimah, putrinya. Wahai Fatimah, beranjaklah kepada hewan kurbanmu, lalu saksikanlah, sebab semua dosa-dosa yang telah engkau perbuat akan diampuni pada saat tetes pertama darahnya.” Demikian Mas Ustad Shobirin mengemukakan alasannya mengapa dipilih pas hari kerja.

“Saya setuju dengan pendapat Mas Shobi, disamping itu kan sesuai dengan salah satu nilai-nilai Kementerian Keuangan, yaitu sinergi.” Kata Mas Prayit penuh semangat.

Bapak Djunaidi Djoko Prasetyo, Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pasuruan, dalam sambutannya sebelum acara pemotongan hewan kurban menyampaikan pesan bahwa kita harus belajar meneladani Nabi Ibrahim yang telah ikhlas mengorbankannya anak yang dicintainya yaitu Nabi Ismail.  Rasa ikhlas berkorban tersebut bisa diterapkan baik dalam bekerja maupun dalam kehidupan sehari-hari.

***
Di dalam pagar terlihat Mas Prayit dibantu Joni, seorang CS, bahu membahu mengangkat meja panjang untuk ditaruh di depan pintu pagar.

“Tolong daging-dagingnya bawa sini semua. Jam satu teng mulai kita bagikan.” Perintah Mas Mahmud, sang komandan panitia,  kepada para anggota panitia.

Panitia .yang terdiri dari pegawai, security, CS, bergegas mengangkat keranjang-keranjang yang berisi daging kurban tersebut.

Dari tiga ekor sapi dan satu kambing, daging kurban yang siap untuk disalurkan sejumlah 680 bungkus daging sapi dan 22 bungkus daging kambing.

“Nak, sudah bisa diambil belum dagingnya?” Tanya bapak berkopiah putih. Disodorkannya satu kupon berwarna hijau.

“Satu ya pak. Monggo pak.” Kata Mas Prayit, sambil meyerahkah sebungkus daging sapi.

“Alhamdulillah, mator selangkong nak. Tak doakan semoga orang-orang pajak sehat-sehat, murah rejeki dan enteng jodoh.”


“Aamiin, eh pak, saya rikues doa. Doakan saya kembali ke home base, ya pak ya?” Kata Mas Prayit penuh harap.