Pages

Cari

Jumat, 17 Oktober 2014

Cerita Penjual Pecel


“Pecel satu bu, lauknya ceker pedes dua,” kata saya.

Sembari menunggu ibu penjual pecel itu menyiapkan pesanan, saya arahkan lensa kamera saya ke beberapa objek yang berada di luar Gelanggang Olahraga Ragunan.

Kalau minggu pagi, Gelangang Olahraga Ragunan ramai dikunjungi warga Jakarta yang menyempatkan diri untuk berolahraga di sana. Berbagai macam objek foto akan kita temui di sana.


“Monggo mas, pecelnya sudah siap.”

Mendengar itu, segera saya turunkan kamera saya dan saya masukkan ke dalam tas kamera. 

Saya hampiri ibu itu, saya pun duduk bersila di dekat dagangannya.

“Terimakasih bu,” sepiring nasi pecel itupun berpindah tangan.

“Hari ini rame bu?” tanya saya, membuka obrolan dengan  ibu itu.

“Alhamdulillah, lumayan mas.”

Tiba-tiba....

“Mbok, pecel dua. Lauknya ceker, kepala, sayap. Gak pake lama ya!” Seorang laki-laki, yang sepertinya baru selesai olahraga, memesan pecel juga. Berjalan dibelakang mengikuti laki-laki tadi, seorang perempuan.

Obrolan saya dan ibu itupun  terhenti. Saya melanjutkan makan saya, dan ibu itu menyiapkan pesanan pecel  tadi.

Sambil menyiapkan pesanan pecel dua piring, sesekali mata ibu itu tertuju kepada perempuan itu.

“Mas, ini pecelnya,” kata ibu itu.

Laki-laki itu mengambil pecel  pesanannya, di bawanya ke tempat yang agak teduh. Di mana di situ si perempuan sudah menunggunya.

“Maaf bu, sepertinya ibu serius banget memperhatikan perempuan itu,” tanya saya.

“Wajah mbak itu, mirip sekali dengan genduk, anak perempuan tunggal saya. Sekarang dia ada di Magelang.”

“Kerja di sana, bu?”

Mata ibu itu merah, sembab.

“Sebelum genduk berangkat, saya sudah ngomong ke genduk, ndak usah ikut-ikutan kerja ke negara monco. Di sini saja mbantu simbok dan bapak bertani. Katanya panas lah, kulit jadi hitam lah, penghasilan gak cukup lah.”

Saya menyodorkan tisu kepada ibu itu. Disekanya mata yang basah itu dengan tisu pemberian saya.

“Enam tahun yang lalu, genduk pulang dari Arab Saudi. Kondisi genduk kurus, omongannya ngglambyar gak karuan. Kata bapak pejabat yang mengantarkan genduk, kepala genduk kejedug lantai waktu jatuh di kamar mandi. Katanya ada pergeseran di saraf otaknya, sehingga jadi seperti itu. Oleh majikannya dipulangkan, disuruh untuk berobat dulu. Nanti kalau sudah sembuh boleh kembali lagi ke sana,” lanjut ibu itu.

“Sudah tiga tahun ini, genduk ada di rumah sakit jiwa Magelang. Penyakitnya tambah parah.”

“Mengapa ibu malah berjualan pecel di sini?” Tanya saya.

“Saya berbagi tugas dengan bapaknya. Bapaknya bertani dan mengurusi genduk di Magelang, saya mencari tambahan disini.”

“Ibu menjenguk putrinya berapa bulan sekali?”

“Enam bulan sekali saya pulang, membawa uang untuk biaya berobat genduk.”

Saya hanya diam.

“Ini bu,” saya serahkan selembar uang berwarna merah untuk membayar pecel yang baru saja saya makan.

“Kembaliannya simpan saja bu.”

Segera saya berlari ke tempat yang agak sepi, dan saya pencet deretan angka-angka di handphone saya.


“Assalamu’alaikum bu, bagaimana kabarnya bu? Sehat kan. Insha Allah hari ini saya pulang bu. Kangen.”


Foto diatas adalah karya cipta dari  Amran Hendriansyah Abenk .