Pages

Cari

Senin, 06 Oktober 2014

( Prompt #65 ) Lelaki Tua di Tengah Gerimis

Sumber : Dokumen Pribadi Rinrin Indrianie

“Sepedanya kok di tuntun Kang?!” Pak Lik Parjo mengayuh sepedanya pelan , kemudian menghentikan sepeda ontelnya beberapa meter di depan Pak De Kamidi.

“Aku mau ngaso sebentar dulu Le, sambil ngeyup, kamu bablas saja nanti selak ditunggu anak istri mu.”


“Oo, tak pikir kebanan Kang. Yo wis, jangan lama-lama Kang, nanti selak Magrib.” Pak Lik Parjo meninggalkan Pak De Kamidi yang beristirahat di sebuah bangunan kecil bekas warung es degan di pinggir jalan.

Pekerjaan Pak De Kamidi dan Pak Lik Parjo adalah buruh pencari damen, sisa batang padi, untuk dijadikan makanan sapi. Damen tersebut mereka ambil dari sawah-sawah yang telah selesai dipanen. Tiap hari mereka selalu berburu sawah-sawah yang telah dipanen. Seringkali mereka harus mengayuh sepeda ontel mereka sampai ke desa-desa tetangga. Damen tersebut mereka setorkan kepada juragan pemilik sapi. Setumpuk damen yang mereka setorkan dihargai tidak lebih dari lima puluh ribu rupiah.
***
Wiiiyuuuuuu...wwwiiiiiyyuuuuuu....wwiiiyyyuuuuuuuuunnggg...

Suara sirine voorijder meraung-raung. Motor besar yang dinaiki pak polisi yang berbadan tegap itu berjalan zig-zag membuka jalan. Mobil, sepeda motor, truk, pada minggir semua memberi jalan kepada rombongan tersebut.

Dibelakang voorijder, sebuah mobil Alphard hitam melaju dengan kencang. Di dalamnya ada dua orang yang duduk dibelakang sopir.                                                                                                

“Kharisma dan wibawa Abah sangat besar. Untuk wilayah tapal kuda ini,  mustahil tidak ada yang tidak kenal dengan panjengan, Bah. Abah ngomong pilih hitam, hitamlah wilayah ini. Ngomong pilih abu-abu, abu-abulah wilayah ini” Berkata seseorang yang memakai kopiah hitam, berbaju koko putih dan bercelana hitam.

“Oh ya, Abah gak usah khawatir untuk asrama baru, paling lambat besok siang pasir, semen, besi, dan kayu sudah datang. Selanjutnya orang-orang kami yang akan menyelesaikan pembangunannya.” Lanjut orang itu.

“Hmmmm..” Jawab orang yang dipanggil Abah.
***
Untuk mengusir rasa dingin karena gerimis sore yang tidak berhenti-berhenti, rokok kretek murahan tanpa cukai tersebut dihisapnya dalam-dalam. Asap putih pekatpun keluar dari mulut Pak De Kamidi.

Kira-kira setengah jam lagi akan masuk waktu Magrib.

Dinaikinya sepeda ontel itu, kemudian dikayuhnya untuk melanjutkan setengah perjalanan pulang. Cipratan air dari sepeda motor maupun mobil yang lalu-lalang di sebelah Pak De Kamidi tidak dihiraukannya.

Wiiiyuuuuuu...wwwiiiiiyyuuuuuu....wwiiiyyyuuuuuuuuunnggg...Suara sirine voorijder meraung-raung.

Pak De Kamidi mengayuh sepeda ontelnya lebih cepat dari biasanya. Dengan sedikit zig-zag, Pak De Kamidi menghindari kendaraan-kendaaran yang menepi memberi jalan pada rombongan Alphard itu.

Pak De Kamidi berhasil menghindari himpitan kendaraan-kendaraan, dan meninggalkan mereka.

Wiiiyuuuuuu...wwwiiiiiyyuuuuuu....wwiiiyyyuuuuuuuuunnggg...Suara sirine voorider semakin mendekat.

Pak De Kamidi mempercepat kayuhannya. Kepalanya di tolehkannya ke belakang. Dilihatnya sebuah sepeda motor polisi dan sebuah mobil hitam besar tidak jauh dari nya.

Gubrakkkkk!!!!

Ban depan sepeda ontel Pak De Kamidi terperosok ke lubang di tengah jalan. Pak De Kamidi terpelanting ke depan, dan damen itupun tumpah ke jalan raya.

“Ada apa ini pak kok berhenti?” Tanya Abah sambil menurunkan jendela mobil.

Dilihatnya damen berserakan, dan seorang laki-laki tua yang tergeletak di tengah jalan.

“Kanjeng Guru?” Gumamnya dalam hati, dan dengan segera ditutupnya jendela mobil itu.

“Cepetan pak, saya selak ada pertemuan dengan Pak Bupati” Kata Abah,

Wiiiyuuuuuu...wwwiiiiiyyuuuuuu....wwiiiyyyuuuuuuuuunnggg...


Voorijder dan Alphard menggilas damen dan meninggalkan Pak De Kamidi yang terkapar di tengah jalan.

Prompt #65. 500 kata for Monday Flash Fiction