Pages

Cari

Senin, 13 Oktober 2014

Sesuatu Yang Mengerikan


“Aku tak mengira hal mengerikan itu terjadi padaku.”

Secepat kilat jari-jari mungil kera itu menyambar pergelangan tangan kananku. Segenggam kacang tanah yang akan aku lemparkan ke kandang itu pun tumpah. Kuku-kuku kecil yang tajam tersebut menembus kulit tanganku. Beberapa tetes darah jatuh ke tanah. Perih.


“Tolong..tolonnggg,” dengan sekuat tenaga aku tarik pergelangan tanganku. Tapi cengkeraman kuku-kuku kera itu semakin kuat, menembus lebih ke dalam.

“Panggilkan pawangnya!” teriak seseorang entah kepada siapa.

Dibelakang kera yang mencengkeramku, ada sepasang mata yang menyala, menatap tajam ke arah dua bola mataku. Sambil menahan perih yang sangat aku beradu pandang dengannya.

“Nguk...ngukkk..wakwkk....” teriaknya lantang sambil menunjukkan deretan giginya yang runcing. Mungkin dia sedang berkata “Woi bedhes, koen ra kenal aku ta?!”

Beberapa orang pengunjung berusaha menolongku dengan cara menakut-nakuti dua kera tersebut. Ada yang mengacung-acungkan batu, ada yang melemparinya dengan kotak bekas minuman, ada yang meneriaki “husss, hussss!.”

Tapi kedua kera tersebut tidak bergeming sedikitpun.

Tiba-tiba aku merasakan cengkeraman itu sedikit mengendor, kuku-kuku itu tidak lagi menancap di pergelangan tanganku. Tapi jari-jari mungil tersebut masih memegang pergelangan tanganku dengan kuat. Geli rasanya.

“Nguukk, nggukkkk...” terdengar suara kera yang memegang pergelangan tanganku.

“Hah! Kera itu bisa berbicara kepadaku?” gumamku dalam hati. Mataku melotot, mulutku menganga, tak percaya.

“Bedhes elek, berani benar kamu datang ke sini? Sepertinya kamu tidak mengenali aku.”

“Siapa kamu, apa maumu?” kataku.

“Kamu ingat, tujuh tahun yang lalu di alas Ketonggo ada seekor kera betina yang sedang menyusui anaknya, jatuh dari pohon karena ditembak oleh seorang pemburu? Kemudian si pemburu tersebut menguliti tubuh induk kera, mengambil dagingnya dan otaknya. Belum puas dengan itu, si anak kera pun diambil dan dijualnya. Ingat?!”

“Aduh, aduh aduh...tanganku perih,” kera itu kembali menancapkan kukunya ke pergelangan tanganku.

“Iya, iya, aku ingat. Toh itu sudah tujuh tahun yang lalu, dan emakmu tidak akan bisa hidup lagi?”

“Dasar bedhes, ngomong seenaknya saja. Seandainya tujuh tahun yang lalu kamu tidak menembak emakku, mungkin emakku masih hidup dan aku tidak terkurung disini. Jadi tontonan yang lucu orang-orang kota yang mbedhesi semua.”

“Apa maumu?” aku merasakan lagi cengkeraman itu mulai kendor. Aku menunggu kesempatan untuk bisa menarik pergelangan tanganku lepas dari cengkeramannya.

“Aku ingin kamu juga merasakan seperti aku. Jadi tontonan yang lucu orang-orang kota.”

Inilah waktunya, dengan sekali sentak lepaslah pergelangan tanganku dari cengkeraman kera jelek itu.

“Nguk..ngukk..ngukkk,” teriakku.

“Loh, kenapa orang-orang itu pada tertawa melihatku,” kataku sambil menggaruk-garuk kepala dan melompat-lompat.


“Sekarang kita impas, bedhes!”


Prompt #66 di Monday Flash Fiction. Dengan jumlah kata 395 kata.
Terimakasih kepada Amran Hendriansyah Abenk, yang telah mengijinkan fotonya untuk dijadikan image dari cerita ini.
Bedhes = kera
Koen    = kamu
Elek     = jelek
Mbedhesi = berperilaku seperti kera
Alas      = hutan