Pages

Cari

Jumat, 03 Oktober 2014

Wakil Rakyat Seharusnya ( Tidak ) Merakyat




Wakil rakyat seharusnya merakyat.....

Tanggal 1 Oktober kemarin, para calon anggota dewan yang terhormat telah resmi dilantik menjadi anggota dewan yang terhormat. Secara de jure, mulai tanggal tersebut mereka adalah wakil rakyat, wakil saya.

Dan media masa serta media sosial tak henti-hentinya menampilkan hiruk pikuk para wakil rakyat tersebut.


Mulai dari kostum yang dipakai para wakil rakyat yang perempuan. Begitu hebohnya para ibu wakil rakyat tesebut menyambut hari istimewa, hari pelantikan mereka. Menurut salah satu media masa, mereka rela berdandan mulai subuh, sampai mereka rela juga untuk tidak datang di Lubang Buaya memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Atau mungkin para wakil rakyat itu lupa, kalau 1 Oktober itu hari Kesaktian Pancasila. Sama seperti saya, selaku rakyat, yang udah lama gak ngeh dengan 1 Oktober...hehehehe...

“Aku ndak tahu siapa yang milih aku, aku juga ndak tahu tugasku.” Terdengar suara sengau melengking dari seorang wakil rakyat waktu ditanya oleh wartawan infotainmen tentang kesan dia terpilih menjadi wakil rakyat.

Hahahhahaah....

Pernyataan tersebut mirip banget dengan pernyataan saya, selaku rakyat, kalau ditanya juragan saya mengapa kerjaan saya gak selesai tepat pada waktunya.

Media masa dengan gagahnya mempertotonkan kepada rakyat Indonesia, para wakilnya saling berlomba-lomba mengemukakan pendapatnya pada waktu sidang hari pertama.

Wow!!!!

Menunjukkan betapa cerdasnya para wakil rakyat tersebut. Memang wakil rakyat tersebut tidak jauh dengan rakyat yang diwakilinya, salah satunya saya. Saya dan kawan-kawan kalau lagi berdiskusi juga sering saling mengemukakan pendapat ( yang ngawur ). Kalau istilah jawanya pating clebung.

Dari sidang hari pertama tersebut, kita bisa melihat para wakil rakyat begitu antusiasnya mengikuti sidang. Semangat mereka begitu membara. Mereka meninggalkan bangku mereka, saling berpacu menuju meja paling depan.

Kerennnn....

Sama seperti saya, rakyat yang diwakili oleh mereka, yang susah banget untuk mengantri dengan tertib waktu ada pembagian zakat fitrah dan pembagian daging kurban.

Matur suwun Gusti Allah, panjenengan telah memberikan kepada bangsa Indonesia wakil-wakil rakyat yang mencerminkan banget perilaku kami....

Bangsa Indonesia? Kami?....Eh, saya ding.

Matur suwun Gusti Allah, panjenengan telah memberikan kepada saya wakil-wakil rakyat yang mencerminkan banget perilaku saya, salah seorang rakyat dari 250 juta rakyat Indonesia.

Jadi menurut saya, salah seorang rakyat dari 250 juta rakyat Indonesia, para wakil rakyat tersebut sudah sangat mencerminkan perilaku rakyat yang mereka wakili. Malah lebih.
 

Maju terus wakil rakyatku, maju terus bangsaku!!!



NB: Opini ini adalah opini pribadi salah seorang dari 250 juta rakyat Indonesia. Bukan mencerminkan opini dari 250 juta rakyat Indonesia. Abaikan.

Sumber foto dari nababan.wordpress.com