Pages

Cari

Senin, 03 November 2014

Catatan Kecil Tentang Kepergian Bapak


Kamar Bapak yang ber cat orange itu sepi. Saya rebahkan badan saya di atas tempat tidur model ranjang rumah sakit punya Bapak, yang baru sebulan lalu dibeli dari hasil patungan tujuh anak-anaknya.
***
Ayo ndang budal, mengko selat telat,” ( ayo segera berangkat, nanti keburu terlambat ) kata Bapak sambil mengeluarkan sepeda ontelnya. Segera saya mencium tangan Sibu dan berlari, membonceng sepeda ontel Bapak. Minggu pagi itu, saya diantar Bapak ke RRI Surakarta untuk ikut mengisi siaran Taman Kanak-Kanak. Pada waktu itu saya berani tampil dengan menyanyikan lagu yang berjudul Bedug Agung.


Bedug agung, bedug agung
Onok unine, onok unine
Dangdut ecek- ecek, dangdut ecek-ecek.

Sepulang dari RRI Surakarta, Bapak membawa saya mampir ke Pasar Burung Triwindu. Sebagai hadiah karena keberanian saya tampil nyanyi ngawur, Bapak membelikan saya burung jalak.
***
Azan subuh sudah berkumandang dari Masjid Makmur. Suara siaran wayang kulit semalam suntuk dari radio transistor punya Bapak terdengar dengan jelas. Segera saya mengambil air wudu dan solat Subuh. Sehabis solat Subuh, saya lihat Bapak sudah ngangsu mengisi bak mandi dan Sibu sedang mengaji.

“Pak, kulo sepatu rodaan riyin,”  ( Pak, saya main sepatu roda dulu ) pamit saya kepada Bapak.

“Yo, ati-ati,”  ( Ya, hati-hati ) kata Bapak sambil meneruskan ngangsunya.

Sekitar tahun 80 an di Solo lagi booming olah raga sepatu roda. Tidak ketinggalan saya pun ikut terkena demam olah raga sepatu roda tersebut. Biasanya hari Minggu pagi, di jalan Slamet Riyadi di jadikan lintasan bersepatu roda.

Minggu pagi itu saya berangkat sendiri, karena teman-teman yang biasanya bareng main sepatu roda tidak muncul di tempat yang menjadi titik kumpul kita. Sebenarnya agak takut juga, karena hari masih gelap. Akhirnya dengan mengumpulkan sisa-sisa keberanian, sampailah saya di Slamet Riyadi. Baru ada beberapa anak yang main sepatu roda. Saya masih ragu-ragu untuk langsung main sepatu roda, atau menunggu agak terang.

“Wis ndang di enggo sepatu roda ne.” ( Lekas di pakai sepatu rodanya )

Loh..ternyata Bapak, dengan sepeda ontelnya mengikuti saya dari belakang. Mungkin Bapak ndak tega melihat saya jalan sendirian.
***
Pak, kulo wangsul riyin. Mangke dolan Solo malih kalian keluarga, tapi mboten ten rumah sakit, ten omah Laweyan mawon,” ( Pak, saya pulang dulu. Nanti main lagi ke Solo bersama keluarga, tapi tidak di rumah sakit, di rumah Laweyan saja ) saya pamitan ke Bapak mau pulang ke Malang, setelah dua hari menunggui Bapak di RS. Jebres Solo.

Lama tangan saya di pegang Bapak, matanya memandang saya, seperti ada sesuatu yang mau di omongkan Bapak. Saya dekatkan wajah saya ke wajah Bapak, Bapak seperti bergumam tapi tidak jelas. Saya cium ke dua pipi dan kening Bapak. Sabtu siang itu saya pulang ke Malang.
***
Senin subuh, saya, istri, dan ke dua anak saya tiba di Laweyan. Saya menepati janji saya untuk membawa keluarga mengunjungi Bapak. Bapak berbaring di ruang tengah.

“Monggo Mas, Bapak di sucikan dulu,” kata seorang tetangga kepada saya.

Saya, anak saya yang besar, para menantu laki-laki, para cucu, dibantu tetangga, memandikan Bapak dengan hati-hati.

Subhanallah, tubuh Bapak kuning bersih, pada waktu kita sucikan tidak ada sedikitpun kotoran yang keluar dari dubur Bapak.

Senin siang, bakda Solat Duhur, setelah di solatkan di Masjid Makmur, Bapak dimakamkan di TPU Keramat. Makam Bapak hanya berjarak 3 meter dari makam Sibu, yang telah 13 tahun mendahului Bapak.

Allahumaghfirlahu warhamhu waafihi wa’ fuanhu.

Selamat jalan Pak, semoga Panjenengan bertemu Sibu dan dimasukkan dalam golongan Khusnul Khotimah. Aamiin.



Bapak Sumarto Aminoto bin Mulyoharjono, lahir pada tanggal 10 Juni 1933 dan meninggal pada tanggal 26 Oktober 2014.