Pages

Cari

Kamis, 13 November 2014

Ketemu Srigala Di Semeru #2

Kurang satu minggu lagi, rencana besar kita akan dimulai. Insya Allah persiapan fisik sudah lumayan lah….Kalo seusia kita ini yang penting adalah endurance nya, kalo soal speed jelas kita kalah jauh dari mereka yang masih seusia anak kuliahan.

Padahal pada jaman kuliah dulu juga segini aja kemampuannya….


Untuk persiapan lainnya, seperti perijinan, Jabrik telah mengurus perijinannya di Balai Konservatori Sumber Daya Alam Malang. Kantornya di depan Balai Diklat Keuangan, sebelum terminal Arjosari.
Ijin ini penting, karena kalo terjadi apa-apa kan ada yang memantaunya. Disamping itu kan juga untuk mendidik masyarakat agar sekali waktu mengikuti prosedur yang berlaku…( niru omongan bapak ibu pejabat..)

Menurut pengalaman dari Jabrik dan Wong Li, yang pernah naik ke Semeru, musim pendakian yang rame adalah di bulan Juli-Agustus. Bulan-bulan tersebut bertepatan dengan liburan semesteran anak sekolah dan anak kuliah. Juga di negara Eropa pas musim panas, biasanya di musim panas tersebut banyak bule yang pada piknik. Salah satu tujuan nya adalah ke Semeru.

Oh ya, mungkin puncak keramaian pendakian adalah pada tanggal 17 Agustus. Karena pada tanggal itu biasanya diadakan upacara bendera di Semeru yang diikuti oleh ratusan, bahkan bisa mencapai ribuan pendaki. Saya kurang tau apakah mereka melakukan upacara di puncak Semeru atau di salah satu pos pendakian. Karena kalo di puncak Semeru apa gak bahaya tuh bos?..

“Li, nyari ransel dimana Li..ranselku masih ransel tinggalan jaman kuliah dulu je..masih edisi “melas”..” kata Priyatna sambil memegangi ransel birunya yang jadul banget. Tau kan ransel jadul? 

Yang masih ada besinya itu tuh. Seperti ransel di film nya Rano Karno.

“Nanti malem sekaliyan belanja aja kita. Kita cari logistik untuk empat hari” sahut Wong Li.

“Cil, jok lali beli jrigen tanggung, situ kan raja minyak. Gak bisa jauh-jauh dari air” sindir Wong Li kepada saya.

Maksudnya Wong Li, kalo biasanya orang-orang pake botol untuk tempat air, la kalo saya disuruh pake jerigen yang ukuran tanggung. Karena saya termasuk kategori orang yang gak kuat haus. Persis seperti para syeh raja minyak dari Dubai.

Saya sih dengan lapang dada menerima saja sindiran itu. La wong itu fakta jeh.
Seperti biasa setelah Maghriban di kamar kos masing-masing, kita ngumpul makan bareng di warung Mbak Saroh, yang letaknya di ujung gang.

“Mbak, go goreng jawa papat sing pedes, pake telor di dadar, minum e air putih ae” kata saya kepada Mbak Saroh yang sedang ngulek sambel.

“Kok tumben, maem e seragam?” jawab Mbak Saroh dengan muka terheran-heran.

“Iyo mbak, biar kompak” balas Jabrik sambil ketawa ngakak.

Setelah berhasil menyelesaikan santap malam yang seperti malam-malam kemarin, yaitu biasa aja, kami berempat ,saya, Jabrik, Wong Li, Priyatna bergerak untuk mencari logistik yang akan diperlukan selama pendakian nanti.

Untuk menghemat waktu, tim kita bagi dua.

Wong Li dan Jabrik kebagian tugas mencari bahan makanan.

Dengan bahagianya mereka segera bergerak ke Ramayana. Gimana gak bahagia, la wong tempatnya bersih, terang benderang, mbak-mbak nya ehm-ehm. Belanja logistik untuk lima orang untuk empat hari, apa gak sangar tuh. Keliatan bak orang borju bangget kan…

Tapi ya sudahlah, itu sudah suratan nasib mereka…

Saya dan Priyatna kebagian tugas mencari “hardware”. Semisal kompor tentara, parafin yang merupakan bahan bakar untuk kompor tersebut, nesting untuk tempat memasak, matras untuk alas tidur, sleeping bag sebagai pengganti tempat tidur. Dan berbagai pernik-pernik gak penting lainnya.

Jujugan kita jatuh pada toko perlengkapan outdoor yang sudah sangat melegenda  yaitu Alpina. Toko tersebut terletak di pinggir jalan Jl.MT Haryono, sebelum kampus Brawijaya. Tokonya luas tapi terlihat sangat sederhana, ubinnya bukan dari keramik tapi hanya diplester semen. Ukuran toko tersebut kira-kira 6X8 meter.

Didalam toko tersebut, disamping berisi barang-barang outdoor yang dijual, ada juga sebuah jeep Willys warna hijau tentara yang sudah dimodifikasi untuk offroad. Sepertinya si pemilik toko tersebut hobi offroad juga.

“Assalamualakum..mari silahkan, cari apa mas?” ( diucapkan dengan logat seperti Kabayan ) tanya seseorang yang berbadan kekar.

Mendengar logat Kabayan tersebut, langsung saja Priyatna menyahuti “Urang Bandung kang?”
Saya serasa ada di Paris Van Java, karena mendengarkan dua orang perantauan dari Sunda yang lagi ngobrol dengan serunya.

Nama laki-laki kekar tersebut adalah Asep, usianya kira-kira 40an tahun. Kang Asep tersebut adalah kepala toko Alpina di wilayah Malang. Beliau anggota Wanadri, kalo gak salah angkatan Hujan Kabut.

Setelah ngobrol seru dan juga sambil melihat-lihat barang-barang outdoor tersebut akhirnya saya beli sleeping bag merk Dody, tas ransel Carstenz, nesting, matras.

Priyatna pun membeli tas Alpina, sepatu gunung, topi rimba, tempat air yang seperti punya nya suku Indian, serta beberapa barang titipan Jabrik dan Wong Li.

Pukul sepuluh malem, kami meninggalkan toko Alpina tersebut. Disamping mata sudah ngantuk berat, juga untuk jaga kondisi karena besok kita harus kerja lagi.

Ketika kami tiba tempat kos, Jabrik dan Wong Li sudah tidur dengan nyenyaknya.

Dan logistik yang mereka beli, teronggok di pojok kamar Wong Li.

Bersambung.