Pages

Cari

Jumat, 21 November 2014

Ketemu Srigala Di Semeru #3

Jumat sore, jam lima kurang dua menit. Saya sudah siap-siap untuk segera absen pulang. Sebenarnya jarak antara kos dengan kantor tidak terlalu jauh sih. Paling jalan kaki dua sampai tiga menit sudah sampai. Tapi perasaan untuk segera packing begitu bergemuruh di dada.


Saya pastikan one hundred percent begitu juga dengan Jabrik, Wong Li, Andi Padang, dan Priyatna.

Yang paling sering pulang telat adalah Priyatna, karena Priyatna ini tipe pegawai yang loyalis dengan bosnya. 

Kadang-kadang susah membedakan antara dia nglembur karena dinas atau pribadi. Tapi ya sesuai dengan pepatah “no pain no gain”. Dengan tipe loyalisnya tersebut, memang dia mendapat harga yang pantas. Jauuuhhhhh banggettt diatas kita.

Loh kok malah ghibah..sori ya Pri..

Oh ya, rencananya kita akan mendaki Semeru dari Malang, tepatnya adalah desa Tumpang. Ada dua titik starting point untuk mendaki Semeru, yang pertama dari Lumajang dan yang ke dua dari Tumpang.

Dan sebagian besar pendakian ke Semeru, starting point nya adalah dari Tumpang.

Setelah habis Isyak, kita berlima bisa berkumpul bareng untuk mempersiapkan pendakian ceria ini. Target kita adalah sampai puncak dengan bahagia, gak ngoyo seperti anak-anak muda. Yah, tau diri lah..sudah udzur..

“Okay, logistik kita bagi lima. Ayo ambil bagian lo Cil, bagi rata lo Cil jangan ambil yang makanan aja…enakan ente dong Cil” suara nyempreng Jabrik membuyarkan konsentrasi saya dalam memilah-milah logistik yang saya bawa. Kok ya tau aja si Jabrik tuh..

Acara per packingan selesai jam sepuluh malam.

“Ayo Ndi, kita cari angkot di depan Malang Plasa. Biasa nya sih jam segini ada angkot yang istirahat di situ” ajak Wong Li kepada Andi Padang.

Berangkatlah Wong Li ditemani Andi Padang mencari angkot di depan Malang Plasa. Biasanya di malam hari di depan Plasa Malang itu tempat mangkal angkot dan taxi beristirahat. Karena di situ ada nasi goreng yang mangkalnya khusus malam hari. Harganya sangat bersahabat dengan kantong para driver angkot dan taxi, dan kita. Kita pun sering makan di tempat tongkrongannya para driver itu.

“Cak, ke pasar Tumpang bisa gak?” tanya Wong Li kepada salah seorang sopir angkot yang lagi makan nasi goreng.

“ Berapa orang cak?” tanya balik sopir angkot tersebut dengan mulut yang masih mengunyah nasi goreng.

“Omil cak..elawes yo?” jawab Wong Li dengan bahasa walikan khas Kera Ngalam, yang berarti yang naik lima orang, dengan ongkos sewa selawe ewu ( dua puluh lima ribu ).

“Waduh, mbalik e kosong e cak, wis empat puluh ribu aja ya. 
Tak habisin dulu go goreng e”jawab si sopir angkot tanpa memberikan kesempatan kepada Wong Li dan Andi Padang untuk menawar.

Pukul setengah dua belas malam, ransel- ransel mulai kita masukkan ke dalam angkot tersebut. Berjejalan dengan kita berlima.

Waktu tempuh dari tempat kos kita di Gang Kabupaten ke Pasar Tumpang, yang biasanya di tempuh 20 an menit, malam itu hanya ditempuh dengan waktu delapan belas setengah menit. Lumayanlah, ngirit waktu satu setengah menit.

Sesampai di Pasar Tumpang, sudah terlihat beberapa pendaki yang sedang menunggu angkutan ke Ranu Pani. 

Ranu Pani adalah desa terakhir di kaki Gunung Semeru yang merupakan pos pertama menuju Semeru.

Angkutan ke Ranu Pani biasanya adalah jip, dan truk sayur. Karena hanya kendaraan itu yang kuat sampai ke Ranu Pani.

Beruntungnya kita, kolega dari Wong Li adalah petinggi desa Tumpang tersebut. Dengan sedikit kekuasaan dari petinggi tersebut, kita berlima mendapat tumpangan truk sayur yang akan ke Ranu Pani tanpa harus menunggu dan bersusah payah seperti pendaki yang lain….( pliss, jangan dilaporkan ke KPK, coz ini bukan gratifikasi tapi gratisisasi )

Jalan ke Ranu Pani lumayan asik. Berbelok-belok dengan kabut yang masih tebal. Semilir angin menerpa seluruh body kita. Mungkin ibaratnya seperti naik roller coaster diatas awan…

Sampai di Ranu Pani sekitar pukul empat subuh. Langsung saja kita menuju pos pertama untuk melaksanakan sholat subuh, setelah itu merebahkan tubuh sejenak, sambil menunggu mulainya aktifitas di pos Ranu Pani tersebut.

Setelah menyelesaikan administrasi di Pos Ranu Pani dan juga sarapan dulu di warung di sekitar Ranu Pani, kita berlima mulai bersiap-siap melakukan pendakian Semeru.

Etape pertama adalah Ranu Pani – Ranu Kumbolo, jaraknya kira-kira 10 an km.

Pada awal etape tersebut, jalannya agak terjal. Di sebelah kanan kita terlihat beberapa pepohonan yang hangus habis terbakar. Gak tau apa karena human error atau karena musim kemarau.

Dan disebelah kiri kita adalah jurang yang lumayan dalam.

Bersambung…