Pages

Cari

Selasa, 18 November 2014

"Kutukan Gua Ketonggong"


“Orang-orang itu pada mau kemana Mas?” tanya Sri dengan intonasi yang  bergetar.

Saya injak pelan pedal gas mobil VW Safari saya, jarum di speedometer berada di posisi angka 0. Di depan mobil VW Safari saya dua orang laki-laki berjalan menuju ke suatu titik kerumunan yang berjarak sepelemparan batu dari posisi kami saat ini. Laki-laki yang satu berpakaian formal, sedangkan yang satunya memakai baju warok yang serba hitam.


“Sudah dapat?” tanya laki-laki yang memakai baju warok.

“Sudah Kang. Laki-laki dan perempuan.”

“Dasar orang-orang bodoh, mau-maunya mereka bertapa mencari pesugihan di gua pinggir pantai yang curam. Mereka suami-istri?”

“Bukan Kang.”

“Wah, sebenarnya yang diminta Ki Kodok sepasang suami istri. Tapi gak apalah dari pada gak ada.”

Saya dan Sri diam membatu mendengar pembicaraan dua orang tersebut. Senjapun turun,  suasana sekitar mulai gelap dan binatang-binatang nokturnal berlarian keluar dari sarangnya.

“Mas, aku takut. Kita pulang yuk,” rengek Sri.

“Kemarin kamu ngotot ngajak ke sini, sekarang sudah di sini malahan ngajak pulang. Nanggung Sri, kita sudah setengah jalan,” jawabku setengah kesal.

Saya lihat dari kaca spion, terlihat ada beberapa mobil di belakang kami.

“Lagian Sri, kita sudah gak bisa putar balik. Di belakang kita ada banyak mobil. Sudah nikmati saja film horornya, atau kalau gak berani tidur di jok situ saja.”

**
“Mas, Mas, bangun. Drive in nya sudah sepi, sudah selesai filmnya. Ayo pulang Mas.”

“Loh, mobil Safariku dimana Sri? Kita ada dimana Sri?”


Asap dan bau dupa begitu menyengat di dalam ruangan yang lembab dan gelap.


Flash Fiksi 244 kata untuk Prompt#71 di Monday Flash Fiction