Pages

Cari

Jumat, 07 November 2014

Ndhog So : One For All and All For One



Sekarang lagi ngetrend hal-hal yang berbau tempoe doeloe. Sampai ada banyak event yang mengambil tema “tempoe doloe”.

Mulai dari jajanan, pakaian, produk, gaya hidup, bahasa, pokoknya semuanya diusahakan kembali ke tempoe doeloe.


Padahal tempoe doeloe itu jaman susah lo. Saya yakin orang-orang yang sok bergaya tempoe doeloe kalo kita masukkan ke mesin “time tunnel” ke era Orde Lama saja, pasti akan bilang “gakk kuaatt”.

Ngomong-oomong tentang tempoe doeloe, ada salah satu makanan tempoe doeloe yang menjadi favorit di keluarga besar kami, yang terdiri dari tujuh bersaudara. Setahu saya, makanan tersebut hanya ada di lingkungan keluarga kami. Saya belum pernah menemui menu makanan tersebut di resto-resto terkenal mapun warung-warung gak terkenal.

Saya juga tidak tahu pasti, apakah makanan tersebut asli karya Sibu, atau mungkin Sibu mendapat ilmu memasak makanan tersebut dari para leluhur Sibu. Wallahu’alam bisshowab.

Nama makanan tersebut adalah Ndhog So.

Yaitu daun blinjo atau bahasa jawanya godhong so, dirajang kecil-kecil, kemudian di ublek atau di blending dengan telur ayam. Dan terakhir adalah di goreng. Setelah digoreng, hasilnya adalah telor yang tebal dengan diameter yang lebih gede. Yang bisa dibagi untuk semua keluarga.

Dulu pada waktu kecil saya pernah berpikir, mengapa Sibu tidak pernah membuat telur ceplok untuk sarapan atau lauk anak-anaknya. Tapi pertanyaan tersebut tidak pernah terucap, kalah dengan lezatnya ndhog so.

Baru setelah dewasa ini saya menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Menurut saya tindakan Sibu tersebut merupakan tindakan seorang yang brillyan. Dengan membuat ndhog so tersebut Sibu telah mengajarkan kepada kami tentang prinsip dasar sebuah keluarga , yaitu One For All and All For One.

Dan pelajaran yang kedua dari tindakan Sibu tersebut adalah sesuai dengan prinsip dasar ekonomi, dengan biaya serendah-rendahnya untuk mendapatkan kepuasan sebesar-besarnya. Dengan hanya bermodal satu telor yang diambil dari petarangan dan beberapa lembar godhong so yang diambil dari pohon blinjo di halaman depan rumah, Sibu sudah bisa membuat lauk yang bisa dinikmati seluruh keluarga. Benar-benar brillyan.

Saya yakin tiap keluarga yang pernah hidup di jaman tempoe doeloe, sekarang, maupun nanti pasti punya suatu icon kenangan yang akan jadi pengingat bahwa mereka pernah hidup bersama dalam suatu rumah.

Meskipun sekarang kami berpencar mencari jalan sendiri-sendiri, Ndhog So made in almarhumah Sibu akan selalu jadi kenangan kami bertujuh.


Artikel terkait :