Pages

Cari

Selasa, 11 November 2014

Penghuni Hotel


Pucuk cemara sudah merunduk menyongsong malam. Yang menunggu penjemputan sudah meninggalkan pekarangan dengan puji syukur setinggi langit. Tinggal aku sendiri yang masing mencangkung di pojok sambil terus melotot ke pintu pagar, berharap kalau-kalau ada yang mendekat. Yang ada cuma angin senja, menerbangkan bau rerumputan bercampur debu, memperberat kecemasanku.




"Mas Koyo," orang yang sebentar-sebentar melemparkan pandang ke arahku dari pagar kawat berduri, tiba-tiba menghampiri, merapat, membuatku tegak. "Saya Kiswoyo, masih ada hubungan darah dengan Mbak Uci," katanya menyebutkan nama akrab istriku. Aku merunduk dibuat ucapannya itu. Istri! Bisikku dalam hati. Ada duka di balik kata itu. "Sudah gelap. Kelihatannya dia tak bakalan datang. Kalau Mas tak keberatan, ikut saya saja. Nginap dulu di rumah saya. Tak jauh dari sini," sambungnya.


Aku masih bingung dengan kebebasanku. Tidak tahu apa yang harus aku perbuat.

“Apa ndak ngrepoti sampeyan dan keluarga, dan juga apa kata tetangga-tetangga sampeyan kalau sampai tahu ada bekas narapidana tinggal di rumah sampeyan,’ tanyaku.

“Halah, kalau ada yang tanya ya aku jawab saja ada tamu dari Banyuwangi. Beres kan Mas Koyo?”

Entah apa yang ada di benak Kiswoyo, mengajakku menginap di rumahnya. Padahal aku dan Kiswoyo bukanlah teman akrab maupun saudara yang ada hubungan darah. Mungkin Kiswoyo iba kepada nasibku yang hampir mirip dengan kata pepatah, sudah jatuh masih ketimpa tangga pula.

“Maaf Kis, aku pinjam uangmu lima ratus ribu saja. Untuk ongkos ke Madiun, di sana aku punya teman bekas narapidana juga, yang sudah bebas duluan. Katanya sekarang dia punya usaha bengkel las. Siapa tahu ada pekerjaan buatku.”

Kiswoyo mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya. Jari-jemarinya bergerak-gerak di dalam dompet, mulutnya komat-kamit, menghitung uang yang ada di dalam dompetnya.

“Apa gak sebaiknya nginap di rumahku dua-tiga hari Mas. Siapa tahu juga aku punya pekerjaan buat sampeyan.”

Kiswoyo tidak menjawab pertanyaanku, malah untuk kesekian kalinya mengajakku untuk menginap dirumahnya.

“Kamu nggak percaya sama aku Kis?! Nanti kalau aku sudah punya uang, aku kembalikan utangku.”

Mulut Kiswoyo ternganga, matanya melotot. Kiswoyo tidak menyangka dengan nada bicaraku yang meninggi.

“Bukan begitu Mas Koyo, masalahnya aku lagi gak punya uang. Ada sih dua ratus ribu, tapi itu mau akau gunakan untuk keperluanku.”

Berani benar Kiswoyo menolak keinginanku.

Kepala Kiswoyo tidak sempat menghindar, ketika kepalan tangan kananku melayang ke arah nya. Darah segar meluncur dari hidung Kiswoyo. Badan Kiswoyo limbung, kedua tangannya memegangi hidungnya yang berdarah.

Dengan sekali jejak tepat ke arah ulu hatinya, Kiswoyo jatuh mencium tanah. Segera aku ambil dompet yang ada di saku belakang celana panjangnya.

“Tolong..tolongggg..copetttt..!!!” teriak Kiswoyo.

“Sialan, masih bisa teriak juga dia,” batinku dalam hati.

Berhenti!!!” seorang sipir penjara berlari keluar sambil membawa pentungan.

Aku berhenti diam, tidak mencoba melawan.

“Hah!!! Kamu Yo, baru satu jam di luar sudah bikin ulah,” kata sipir tersebut.

Dengan kedua tangan di borgol di belakang, aku digelandang masuk ke dalam bui lagi.

Diam-diam aku bersyukur, karena kembali ke hotel yang nyaman, hotel prodeo.
***

Flash Fiksi diatas di ikut sertakan dalam Prompt#70 di Monday Flash Fiction
Foto ilustrasi karya cipta dari Amran Hendriansyah AbenK