Pages

Cari

Senin, 01 Desember 2014

Ketemu Srigala Di Semeru #4

Setelah berjalan lebih dari setengah hari, dengan menyusuri perbukitan yang ditumbuhi bunga edelweis tibalah kita di pos pendakian Ranukumbolo.

Ranukumbolo adalah nama sebuah danau dari beberapa danau yang ada di wilayah Semeru.


Di pinggir Ranukumbolo tersebut terdapat shelter atau pondokan untuk istirahat sejenak para pendaki. Baik yang mau naik ataupun yang turun dari Semeru.

Biasanya di Ranukumbolo ini, para pendaki berkesempatan mandi di danau sepuas-puasnya. Atau juga memanfaatkan waktu dengan bernarsis ria berfoto dipinggir danau. Dengan latar belakang puncak Semeru yang mengeluarkan asapnya, dengan gaya sok pendaki. Tau gaya sok pendaki kan?…kedua tangan dibuka lebar-lebar kaki juga dibuka lebar, kalo kata orang jawa mbegagah.

Ada juga yang gaya gini, tangan sedakep di depan dada dengan bahu agak miring ke kiri atau ke kanan…heheh gaya paporit saya tuh.

Dan tugas fotografer kita pasrahkan kepada ahlinya, Jabrik. 

Dengan kamera Nikon jadulnya yang selalu ditenteng dikalungkan lehernya, Jabrik berburu obyek-obyek foto  yang keren. Sebagian besar foto-foto Jabrik melibatkan saya sebagai modelnya. Seharusnya Jabrik berterimakasih kepada saya, sayangnya sepertinya dia lupa untuk mengucapkan terimakasih.

Sebagai anggota yang paling junior, dan berasal dari kota yang terkenal dengan rumah makan nya, maka tugas Andi Padang lah untuk menyiapkan makan siang dan juga menghidangkan teh yang akan kita nikmati berlima.

Dibantu dengan Priyatna, yang jago masak lalapan, mereka berdua berkolaborasi memasak masakan istimewa yaitu mi goreng instan dengan ditambahi korned.

Itu adalah mi goreng instan terlezat yang pernah kita nikmati seumur hidup kita…hhehhe..lebay ya?..

“Mas, berangkat duluan. Saya tunggu di Kalimati mas,” kata seorang pendaki dari Jakarta yang ketemu kita di Ranukumbolo.

“Ok mas, sebentar lagi kita nyusul kok. Kita beresin ini dulu,” jawab Wong Li sambil mencuci bekas tempat makan yang tadi kita pakai dipinggir Ranukumbolo.

“Eh, ada batu prasasti tuh di tepi Ranukumbolo,” teriak saya sambil menunjuk ujung atas batu prasasti yang menyembul di permukaan air danau.

Setelah sholat Dhuhur yang di jama’ qoshor dengan sholat Asar, kembali kita meneruskan perjalanan menuju etape berikutnya.

Setelah Ranukumbolo ini kita melewati padang rumput yang luas. Dengan jalan yang sedikit menanjak, ada yang menamai tempat ini Oro-Oro Ombo yang berarti dataran yang luas. Dan ada juga yang memberi julukan Tanjakan Cinta.

Saya kurang mengerti filosofi mengapa dinamakan Tanjakan Cinta. Kalau menurut saya sih itu adalah tanjakan yang membikin ngos-ngosan. Atau mungkin cinta itu membikin kita ngos-ngosan?…tak taok aku.

Tapi, Ranukumbolo kalau dilihat dari Tanjakan Cinta…duuhhh…ibaratnya itu, sampeyan selama sebulan hidup betetangga dengan  Spongebob, Gary, Squidward, Olga,  dan yang lainnya. Bosan kan.

Nah di bulan berikutnya sampeyan di beri kesempatan hidup bertetangga dengan Ayu Ting-Ting,  Cinta Laura, Dian Sastro…wuih..endah bukan?…

Nah itulah ibarat yang pas untuk menggambarkan betapa endahnya Ranukumbolo kalo dilihat dari Tanjakan Cinta.

Menjelang sore, selepas dari Oro-Oro Ombo dan Tanjakan Cinta kita mulai memasuki hutan cemara. Suasananya sudah mulai redup. Disamping memang sudah sore, juga sekeliling kita adalah pohon cemara yang tinggi-tinggi dengan daun yang rimbun. Sehingga sinar matahari tidak leluasa menyinari sampai kebawah, tertahan oleh rimbunnya daun cemara.

Itulah yang dinamakan Cemoro Kandang.

Mataharipun benar-benar sudah meninggalkan siang. Bergantian tugas dengan bulan untuk menyinari malam.
Suara-suara gesekan cemara bersahut-sahutan dengan suara-suara serangga malam dan juga binatang-binatang malam.

Disaat teman-teman yang lain menikmati malam di Alun-Alun Malang atau di daerah Payung Batu yang bermandikan cahaya, kita berada ditengah hutan. Hanya mengandalkan senter dan sinar bulan. Kelelahan setelah berjalan seharian penuh. Emang siapa yang nyuruh ???

Kadang saya tidur sebentar, tapi tetap sambil berjalan. Dan terjerembab adalah hal biasa. Itu yang membikin kita jadi gak ngantuk lagi.

Target kita adalah, sebelum jam sepuluh malam kita harus sudah sampai di Kali Mati. Kita akan mendirikan tenda disitu untuk istirahat sejenak, karena besok pagi-pagi sekali akan meneruskan pendakian.


Di Kali Mati tersebut terdapat mata air yang bernama Sumber Mani.

Bersambung cak....