Pages

Cari

Jumat, 19 Desember 2014

Malam Satu Suro Di Slamet Riyadi



Semakin malam, Jalan Slamet Riyadi malah semakin ramai. Mobil dan motor hilir mudik silih berganti, begitu juga dengan para pejalan kaki. Rombongan para pejalan kaki membentuk kelompok-kelompok sendiri, kelompoknya ada yang berdasarkan jenis kelamin, ada yang berdasarkan hubungan kekerabatan, ada yang berdasarkan kampung mereka tinggal, ada yang berdasarkan usia, dan ada juga yang campuran. Tapi yang aku lihat, kebanyakan para pejalan kaki itu usianya sudah setengah abad lebih. Pakaian yang mereka kenakan model pakaian wong ndeso, yang perempuan memakai jarit dan kebaya dengan rambut disanggul kecil. Yang laki-laki ada yang memakai beskap lengkap dengan blangkon. Beberapa dari mereka ada yang mengunyah sirih.


Mobil-mobil berjalan pelan di salah satu lajur, tidak seperti biasanya mereka beriringan teratur. Tampak olehku banyak orang berdiri menyemut di pinggir jalan. Mereka sepertinya sedang menunggu kedatangan sesuatu. .


Tidak ketinggalan ikut menyemarakkan malam itu, gerombolan komunitas sepeda motor. Beberapa jenis gerombolan komunitas sepeda motor memarkir sepeda motornya di bahu jalan, menambah macet jalan itu. Para pemilik sepeda motor tersebut saling bercengkrama, bersendau-gurau tanpa merasa terganggu dengan situasi yang macet. Aroma ciu, minuman beralkohol dengan kadar tinggi produksi daerah Bekonang, menyeruak dari mulut mereka.


“Nuwun sewu mas-mas, sepeda motornya tolong dipinggirkan, Kyai sebentar lagi lewat,” kata seorang laki-laki yang berpakaian jawa lengkap dengan keris yang terselip di pinggangnya.


Anak-anak muda itu tidak segera beranjak dari tempat mereka nongkrong.


“Maaf mas-mas, rombongan Kyai sudah hampir dekat. Minta tolong sepedanya di pindahkan dulu,” ulang bapak itu.


Mereka sepertinya ogah-ogahan memindahkan sepeda motor yang mereka parkir di bahu jalan. Rombongan pejalan kaki yang berada dibelakangku mulai meringsek ke depan. Aku pun mulai gerah melihat kekurangajaran gerombolan sepeda motor itu. Aku pandangi mereka satu persatu, nafasku mendengus berpacu dengan detak jantungku. Sudah tak tahan kakiku ingin melompat melesat menyikat gerombolan itu.


Secepat kilat, aku sruduk sebuah sepeda motor warna terang. Seperti efek domino, sepeda motor yang lainnya pun roboh saling menimpa. Para pemllik sepeda motor itu semburat ke segala arah.


 “Kiiyaiii Slaammeettt ngaaammuukkk...!”

Ilustrasi foto  Amran Hendriansyah AbenK