Pages

Cari

Rabu, 03 Desember 2014

Pelangi, Bawa Aku Turun

Kaubilang pelangi akan datang selepas hujan?
Kau bohong, buktinya hujan malam ini dia tak datang.
Kaubilang kau akan datang malam ini?
Kau bohong, padahal aku basah kuyup menunggumu di taman ( Andi Eksak )

Kata orang, hari Rabu adalah hari paling produktif. Hari Rabu berada di pertengahan minggu. Pada hari Rabu tersebut para pekerja sudah running melewati hari Senin dan Selasa, dan mereka bersemangat untuk menyongsong harapan baru di akhir pekan. Bahkan untuk menunjukkan betapa produktifnya hari Rabu tersebut, ada pepatah yang mengatakan “Belilah barang, produk hari Rabu.”


Demikian juga dengan Slamet, seorang pegawai middle level di sebuah perusahaan Pengerah Jasa Tenaga Kerja yang kantornya begitu megah, terletak di jantung ibu kota.

Hari Rabu jam delapan pagi, Slamet sudah  setor jari manis kanan ke mesin finger printWajahnya sumringah, senyumnya selalu terkembang memperlihatkan deretan gigi bagian atas yang sedikit maju ke depan, warnanya campuran antara putih, coklat, dan kuning. Setiap orang yang bertemu dengannya selalu disapa duluan.

Dengan langkah tegap, Slamet berjalan menuju meja kerjanya yang berbentuk kubikel. Pertama-tama yang dilakukannya adalah membuat secangkir kopi pahit, untuk menemaninya bekerja seharian penuh ini.

“Wuih, Pak Slamet ceria banget pagi ini,” kata Palupi, salah seorang stafnya ketika bertemu di pantry.

“Mosok sih Lup? Perasaan seperti kemarin, biasa-biasa saja.”

“Oh iya Pak, kabarnya Mbak Ajeng bagaimana Pak?”
***
Ajeng adalah pacar Slamet. Mereka berdua bertemu di PJTKI tempat Slamet bekerja. Pada saat itu Ajeng sedang mendaftar menjadi Buruh Migran Indonesia sebagai pembantu rumah tangga di Hong Kong, dan Slamet yang menerima berkas pendaftaran dari Ajeng.

Slamet tertarik kepada Ajeng karena menurutnya Ajeng orangnya lugu, nurut, dan lucu. Pada waktu Ajeng berada di tempat penampungan, Slamet selalu berkunjung ke situ. Slamet selalu membawakan oleh – oleh buat Ajeng. Slamet pun pernah bertemu dengan ke dua orang tua Ajeng. Pada waktu itu ke dua orang tua Ajeng datang dari Bekasi untuk menengok Ajeng sebelum Ajeng berangkat ke Hong Kong.

Saat ini Ajeng sudah berada di Hong Kong memasuki tahun ke lima. Sebenarnya Slamet sudah meminta Ajeng untuk menjadi istrinya, dan berhenti menjadi Buruh Migran Indonesia. 

Tapi Ajeng meminta waktu satu tahun lagi, karena orang tuanya masih sangat membutuhkan bantuan Ajeng untuk melunasi utang-utang mereka.
***
“Uh, eh, baik. Insha Allah bulan depan pulang, dan menetap di sini. Doakan saja rencana pernikahan kita lancar.”

“Aamiin. Kita semua ikut senang  kalau Mbak Ajeng menikah sama Pak Slamet.”

Slamet kembali ke meja kerjanya. Dinyalakannya komputernya.

Ting, ting....

Terdengar bunyi notifikasi email. Sebuah surat elektronik dari pengirim ajeng@gmail.com masuk ke email Slamet.

Assalamualaikum wr wb

Mas Slamet yang keren, apa kabarnya? Mudah-mudahan sehat dan tambah ganteng. Sebelumnya, Ajeng minta maaf sebesar-besarnya. Ajeng bingung Mas, antara berbakti kepada orang tua atau menepati janji Ajeng kembali ke Indonesia dan menikah dengan Mas Slamet.

Kemarin Bapak telpon, minta uang buat membayar utang ke Haji Kodir yang semakin lama semakin besar. Terus majikanku yang sekarang, mengajak aku menikah dengannya karena istri majikanku terkena stroke sudah lama.

Mas, maafkan aku kalau aku memilih menikah dengan majikanku agar utang-utang Bapak bisa aku lunasi.

Wassalamualaikum wr wb.

Krompyang......


Slamet berlari menembus kaca menuruni pelangi.


Flash Fiksi 500 kata memenuhi prompt #73 di Monday Flash Fiction

Foto hasil jepretan dari Slamet Rianto Tobey