Pages

Cari

Selasa, 13 Januari 2015

Mencoba Merubah Nasib Di Negeri Orang

Gambar diambil dari halaman FB nya Mas Dwi Suwiknyo

Judul              : Diary Buruh Migran
Pengarang    : Arsya Kirana
Penyunting   : Tim Revive
Desain Cover: nartoanjala
Lay Out          : djanoerkoening
Cetakan I       : Desember 2014
Font Size       : 11
Halaman        : x + 310
Dimensi         : 14 cm x 21 cm
Harga             : Rp 58.500

Pertama kali saya melihat buku ini, dari halaman Facebook nya Mas Dwi Suwiknyo, pendiri Pesantren Penulis yang tinggal di Jogjakarta. Buku dengan sampul depan bergambar kapal layar berwarna merah dengan latar belakang kota Hong Kong serta pemilhan kata untuk judul buku tersebut yang provokatif, telah menarik keingintahuan saya mengenai kehidupan para pahlawan devisa kita di negara tempat mereka bekerja. Saya beli melalui Mas Dwi Suwiknyo seharga Rp 60.000 sudah termasuk ongkos kirim.


Sudah sering kita mendengar atau membaca berita mengenai nasib para pahlawan devisa. Ada yang bernasib baik, pulang dengan membawa limpahan materi, tidak sedikit pula yang pulang dengan nasib mengenaskan. Ada yang disiksa oleh majikannya, ada yang ditangkap oleh polisi setempat karena illegal, ada yang ditipu, bahkan ada yang pulang ke Indonesia sudah tidak bernyawa.

Buku ini ditulis oleh Yastri Apriani, yang mempunyai nama pena Arsya Kirana. Penulis adalah seorang Buruh Migran Indonesia yang berasal dari Tulungagung, yang telah bekerja di Hong Kong selama lima tahun.

Niat dari Arsya Kirana menulis tentang Buruh Migran Indonesia di Hong Kong adalah sebagai bahan pertimbangan bagi mereka yang akan terjun sebagai buruh migran di Hong Kong. Selain itu, yang utama adalah untuk merealisasikan doa yang selalu dia panjatkan ketika bekerja di Hong Kong, yaitu agar berguna bagi nusa, bangsa , dan sesama umat.

Cerita dimulai dari kegelisahan Penulis yang sedang tidak mempunyai pekerjaan alias menganggur. Mencoba melamar kerja ke beberapa tempat, hingga akhirnya menemukan lowongan pekerjaan ke luar negeri dari sebuah PJTKI.

Dengan restu sang ibu, berangkatlah Arsya Kirana ke Jakarta, tempat penampungan juga tempat mendidik para calon tenaga kerja sebelum mereka diberangkatkan ke negara tujuan. Banyak hal menarik yang terjadi di tempat penampungan tersebut yang diceritakan oleh Arsya Kirana, diantaranya mengenai fenomena hubungan sesama jenis, pemalsuan umur untuk pembuatan passpor.

Empat bulan Arsya Kirana tinggal di tempat penampungan, akhirnya tibalah waktu yang ditunggu-tunggunya untuk berangkat bekerja ke Hong Kong.

Dari sebuah desa kecil di Tulungagung, Arsya Kirana merantau ke Hong Kong, sebuah kota megapolitan yang gemerlap. Ada ratusan, atau mungkin ribuan wanita seperti Arsya Kirana yang berjuang di negeri orang dengan harapan untuk bisa merubah kondisi dirinya dan keluarganya.

Selama kurun waktu lima tahun dia bekerja, tentu banyak suka duka, pengalaman yang telah dilalui oleh Arsya Kirana. Dan dalam bukunya ini, Arsya Kirana menceritakan apa yang dia lihat, dia rasakan, dia kerjakan, dia kunjungi.

Dengan membaca buku ini kita bisa merasakan atmosphere taman Victory Park, tempat berkumpulnya para Buruh Migran Indonesia di hari libur dengan aneka kegiatan dan dandanan. Fenomena penyimpangan seks dan seks bebas yang sering terjadi di kalangan Buruh Migran Indonesia, maraknya perpindahan agama yang disebabkan oleh faktor ekonomi. Juga kasus-kasus yang sering menimpa para Buruh Migran Indonesia yang disebabkan karena kurang fahamnya mereka terhadap Undang-Undang.

Arsya Kirana juga menyelipkan beberapa percakapan bahasa Mandarin sehari-hari, sehingga secara tidak langsung kita bisa belajar bahasa Mandarin gratis.

Hal yang agak mengganggu adalah tidak tercetaknya tulisan di halaman 231, 232, 236, 237, 240, 241, 244, 245. Entah itu terjadi di semua buku yang dijual, atau hanya terjadi di buku yang saya beli.

Adalah sangat jarang sekali seorang Buruh Migran menceritakan pengalamannya selama bekerja di luar negeri dalam sebuah buku. Saya berterima kasih kepada Arsya Kirana yang telah bersusah payah menuliskan pengalamannya selama menjadi Buruh Migran di Hong Kong, sehingga kita menjadi lebih tahu permasalahan apa saja yang dihadapi para Buruh Migran.

Siapa tahu langkah Arsya Kirana akan diikuti oleh para Buruh Migran yang bekerja di Arab Saudi, Kuwait, Singapore. Bahkan mungkin akan ditiru oleh para asisten rumah tangga di Indonesia.

Semoga.....