Pages

Cari

Selasa, 27 Januari 2015

Remetamorfosis


“Mel, masih betah disini?” tanya petugas kebersihan stasiun Kota Baru.

Perempuan muda yang memakai baju you can see berwarna pink yang disapa Mel itu hanya diam, tidak menjawab pertanyaan orang itu. Pandangannya menerawang, tangannya memegang roti yang dimakannya secuil demi secuil. Lampu stasiun Kota Baru yang terang benderang malam itu  lebih menambah efek mulus dari kulitnya yang memang sudah mulus. Setiap orang yang lewat apalagi kaum adam, matanya tak lepas dari pandangan ke arahnya. Wajahnya sedikit murung..


Petugas kebersihan itu berlalu meninggalkanya, dia melanjutkan pekerjaannya menyapu dan mengambil sampah di ruangan peron stasiun itu.

Dihalaman depan stasiun terlihat beberapa taksi, dan angkot yang sedang diparkir. Mereka beristirahat sambil berharap siapa tahu ada rejeki penumpang di malam hari.

Tiba-tiba dari arah selatan, sebuah sepeda motor matic melaju kencang ke arah taksi dan angkot yang sedang diparkir tersebut. Sinar lampunya menyilaukan para sopir yang sedang santai.

“Jancuk, gak duwe wedi ta arek iki!” umpat seorang sopir yang merasa terganggu dengan ulah pengendara motor tersebut.

Para sopir itupun kompak menghadang pengendara motor tersebut. Pengendara motor itupun seperti tertantang, dia melaju lebih kencang ke arah kerumunan para sopir. Kira-kira jarak satu meter dari para sopir yang siap menghadang, pengendara motor itu menghentikan motornya. Derit suara ban bergesekan dengan aspal jelas terdengar.

“Woooo, ancen e arek gendeng!” umpat para sopir hampir serempak.

“Ha ha ha.....sori cak, ngreyen motor ki.”

“Rot, sudah ditunggu gendakanmu didalam tuh.” Kata seorang sopir taksi kepada pengendara motor yang bernama Jarot.

“Oke cak, aku ke dalam dulu ya. Titip rotomku.”

Bergegas Jarot menuju ruangan peron stasiun. Kakinya melangkah dengan pasti, sepertinya dia sudah tahu betul kemana tujuannya. Dia berhenti di dekat sebuah kotak telepon umum yang sudah tidak ada teleponnya. Pandangan matanya diarahkan ke segala sudut peron itu. Sepi, dia tidak menemukan orang yang dicarinya.

Seorang laki-laki yang memakai sarung, baju koko putih dan peci putih keluar dari musolla stasiun, tangan kanannya membawa sebuah tas plastik transparan.

“Mel...Mel...?” mata Jarot tak berkedip memandang laki-laki itu.

“Nama saya Mulyono,” kata laki-laki itu memperkenalkan diri kepada Jarot.


“Mel sudah masuk tong sampah,” lanjut dia sambil memasukkan tas plastik transparan yang berisi baju warna pink ke dalam tong sampah.

***
Foto dokumen pribadi Amran Hendriansyah AbenK