Pages

Cari

Rabu, 18 Februari 2015

Setia

Mata Juminten merah , kelopak matanya bengkak. Sajadah tempat dia bersujud basah oleh air mata. Suara isak tangis yang tertahan, lirih terdengar di sepinya sepertiga malam. Segala keluh kesah dan beban yang mengganjal dihatinya, Juminten tumpahkan dihadapan Gusti Allah. Malaikat – malaikat pun pasti akan heran dan trenyuh mendengar rintihannya di sepertiga malam itu yang berbeda dengan malam – malam sebelumnya.


Dengan perlahan mukena putih itu dilipatnya dimasukkan ke dalam filling kabinet plastik.  Dari dalam filling kabinet, Juminten mengambil sebuah  kaleng kue kecil yang sudah karatan. Sebuah amplop kumal dan lusuh dia keluarkan dari kaleng tersebut. Warna coklat amplop itu sudah berubah menjadi putih bulak. Dengan hati – hati dia keluarkan satu lembar surat dengan tulisan tangan yang jelek. Seperti tulisan dokter yang menuliskan resep obat di apotek. Bau apek surat itu tercium jelas.

Sepuluh tahun yang lalu, dia menerima sepucuk surat yang dikirim oleh Paijo, teman sepermainan masa kecil dulu,  yang lagi mengadu nasib di Ibu Kota . Di baris paling atas surat itu ditulisi Suratku Untuk Kamu. Surat tanpa basa – basi, surat yang sebenarnya adalah surat pribadi tapi tidak ada sisi romantisme sama sekali. Tidak ada kata – kata pujian maupun rayuan. Surat yang menceritakan bahwa Paijo  jatuh hati pada Juminten.

“Dik Jum, nanti kalau Dik Jum jadi ummi dari anak - anak saya, Insha Allah akan saya belikan rumah KPR tipe 36.” Itu kata Jarwo, laki – laki saingan Paijo, waktu melamar Juminten sepuluh tahun yang lalu. Orang tua mana yang tidak rontok hatinya mendengar anak perempuannya akan dinikahi orang mapan dan alim. Pesta pernikahan Juminten dan Jarwo pun diselenggarakan dengan sederhana.

Entah mengapa Juminten tidak pernah membuang surat dari Paijo. Seperti ada magnet yang membuat perempuan itu selalu ingin membaca surat itu. Surat yang berbeda dari surat – surat yang pernah dia terima. Setiap membaca surat itu, hati Juminten serasa kembali ke masa kecil yang ceria, bebas, sendau gurau tanpa takut dibilang saru. Ingatannya akan terbang ke lorong – lorong SD Swasta tempat dimana Paijo dan Juminten dulu menuntut ilmu, bermain sepeda bersama – sama sambil melihat rumah yang bagus – bagus di komplek sebelah kampung mereka. Berkejar – kejaran di lapangan bola,  Juminten jatuh dan rok nya robek hingga terlihat celana pendek olah raganya.

Sore tadi Juminten itu beradu pandang dengan Paijo, di depan rumahnya. Rambutnya kumal, bajunya dekil, kotor. Paijo hanya sekilas melihat Juminten, dia berjalan dengan cepat. Matanya mengarah ke segala penjuru dengan penuh curiga.

Bakda Magrib, kampung Juminten kedatangan sepasukan polisi yang bersenjata lengkap.

“Rumahnya yang berdinding kayu itu. Tim II maju dari depan, Tim I bergerak dari samping. Hati – hati, buronan ini raja tega!”

“Satu, dua, tiga,,Majuuuu!” teriak seorang komandan polisi kepada anggotanya. Sepasukan polisi itu menyeruak masuk ke rumah yang menjadi target sasaran operasi mereka.

Dor! Dor!.....Dor!

Mereka mendobrak pintu kayu yang sudah rapuh itu. Dengan sekali hentak, pintu kayu itu terlepas dari engselnya.

“Lapor Komandan, rumah itu sudah kosong. Tidak ada Raja Tega di rumah itu.”

“Apa?!”

Dari pintu belakang rumah Juminten, Paijo berjalan mengendap – endap menuju hutan kecil tempat dulu dia dan Juminten bermain bersama. Sambil membawa bekal makanan pemberian Juminten.

“Geledah semua rumah disini!” teriak komandan pasukan itu


for mq.