Pages

Cari

Selasa, 31 Maret 2015

Ledre Soklat Ungu

“Wo, sini...Aku bawain makanan kesukaanmu,” kata Mi.

Mi berjalan mendekati Wo yang sedang asik bermain layangan di pinggir lapangan, atau tepatnya adalah tanah lapang  yang gersang akibat kemarau yang belum diguyur hujan.

Mi ndeprok di dekat Wo, matanya mengikuti gerak langkah Wo. Tak sekejap pun dia melepaskan pandangan dari Wo.


Tidak jauh dari mereka, beberapa teman sebaya mereka juga sedang asik membunuh waktu bermain layang – layang. Bermacam bentuk dan warna layangan menghiasi langit sore kampung ndeso.

“Mi..bantu aku Mi....pegang kaleng ini,” teriak Wo.

Segesit tupai melompat. Mi segera mengambil alih kaleng tempat benang yang dilempar oleh Wo, dan Wo selimpat kancil mengatur strategi menghadapi serangan tak terduga kepada layang – layang nya. Kadang menarik benang cepat, kadang mengulur sampai jauh, kadang berteriak keras sekali.

“Ayo Mi kita tarik ke belakang sambil lari ya....kamu kuat kan?”

Mata Mi berbinar terang, ronanya mekar cerah, senyumnya merekah.

Berdua mereka menarik layang – layang itu mengitari lapangan berharap sangkutan itu mereka menangkan.

Nduk, wis surup..ayo mulih.”

Suara ibuknya Mi telah menghentikan langkah Mi dan Wo.

“Wo, aku pulang dulu ya sudah mau Magrib. Ini buat kamu, ledre kesukaanmu.”

Mi pun berlari menjauh dari Wo, menuju panggilan ibuknya. Wo hanya berdiri mematung, memandang punggung Mi. Sampai kemudian Mi berhenti, dan menolehkan kepalanya ke belakang.

Magrib itu, langit jingga di atas tanah lapang yang gersang itu hanya ada satu layang – layang berwarna soklat ungu, dan di pinggir tanah lapang Wo sedang menikmati ledrenya Mi.