Pages

Cari

Jumat, 06 Maret 2015

Pada Suatu Masa



Seorang bocah laki – laki kecil memacu sepeda mini lawas memasuki pekarangan sekolah dasar swasta
Dadanya naik turun, mulut terbuka, mukanya merah dan berkeringat
Dihalaman sekolah teman – temannya sudah pada berbaris rapi mengikuti upacara bendera Senin pagi
Di depan pintu gerbang sekolah, seorang guru olah raga berwajah galak berdiri pongah.


Bocah itu menyandarkan sepedanya di sebelah kanan pintu gerbang sekolah, Ia tidak boleh masuk sebelum upacara bendera selesai.

“Hae Mi, kamu terlambat juga ya?” sapa bocah laki - laki itu kepada teman sebayanya, seorang perempuan  berambut poni berkepang dua yang sedang berdiri memegangi sepeda jengkinya . Rona merah semburat di pipi bocah perempuan yang dipanggil Mi  itu. Bola matanya memancarkan cahaya lembut, seperti bintang.  Seuntai senyum manis nan polos tersemat di bibir kecil Mi.

“Tadi malam aku disuruh Bapak mengantarkan jaburan ke masjid, terus aku disuruh Bapak menunggu sampai pengajiannya selesai. Aku tidur agak larut, bangunku kesiangan Wo,” cerita Mi kepada Wo.

Mata Wo beradu dengan mata Wi
Belalak mata dan sedikit gerakan kepala Wo telah terbaca oleh Mi
Berdua mereka bersepeda melindas jalan tak beraspal nan sepi
Sudut – sudut kampung mereka singgahi.

Tawa canda terdengar lepas
Senyum lebar menghiasi wajah segar
Pedal sepeda tak pernah berhenti mereka kayuh
Ciprat sisa air hujan semalam di baju sekolah tak mereka pedulikan.

Barisan upacara telah buyar
Diatas tiang bendera upacara, sepeda mini lawas tergantung
Dibawah tiang bendera upacara dua bocah berdiri mematung
Senyum lepas melesat ke angkasa, menari – nari diatas awan biru
Merindu masa sampai nanti.