Pages

Cari

Rabu, 11 Maret 2015

Piknik Dengan Spoor




Adik Jiddan dan Mak e

Spoor atau kereta api adalah moda transportasi yang sudah tidak asing lagi bagi saya. Dulu waktu saya masih TK nol kecil, kadang – kadang diajak Almarhum Bapak melihat spoor di Stasiun Purwosari, kira – kira jaraknya sepuluh menit perjalanan bersepeda ke arah utara dari rumah Mbah Kung yang kami tempati. Pertama kali naik kereta api pada saat saya TK nol besar, piknik ke Candi Prambanan bersama Bapak, Sibu , mas dan mbak saya. Itupun gratisan karena diajak oleh Pak De dan keluarganya, yang merupakan pegawai PJKA ( Perusahaan Jawatan Kereta Api, sekarang menjadi PT. KAI ). Yang masih saya ingat dari perjalanan itu penumpangnya berjubel, sesak, panas.


Saya mulai intens memakai spoor ketika kuliah di STAN Jakarta. Dimulai dari berangkat pendaftaran dan test ujian masuk STAN Jakarta bersama Dandit, teman satu SMA. Itu pengalaman tak terlupakan, karena pertama kali naik kereta kelasnya priyayi, yaitu Senja Utama. Oh ya , mumpung ingat sekaliyan saya mau mengucapkan terimakasih tak terkira kepada Dandit yang telah ikhlas membayari tiket Senja Utama Solo Balapan – Gambir. Gusti Allah sing mbales Ndit.

Spoor adalah pilihan moda transportasi yang paling realistis bagi saya pada waktu itu. Meskipun penuh sesak, bercampur dengan  ayam, barang dagangan, sayur mayur, copet, tidur di bawah kolong kursi, asongan dan pengamen yang bebas masuk ke gerbong, toilet yang bau dan jorok, jam keberangkatan dan kedatangan yang karet banget, calo bebas keluar masuk loket. Dan seabreg kesan negatif lainnya.

Pernah saya mudik dari Jakarta ke Solo naik spoor dari Jatinegara menuju Solo Balapan, nama spoornya adalah Sapu Jagat. Ini adalah spoor cadangan angkutan lebaran. Berangkat dari Jatinegara jam sembilan malam, sampai Solo Balapan jam sembilan malam juga keesokan harinya. Byuhhhh....

Suatu waktu naik spoor dari Solo Balapan menuju Jakarta sehabis liburan kuliah.  Kereta belum berangkat, suasana gerbong sudah lumayan penuh, saya pun mencari angin berdiri di dekat pintu masuk maupun ke luar di depan toilet spoor. Disitu sudah ada dua perempuan yang lagi asik mengobrol sambil duduk nglesot. Di luar spoor ada dua laki – laki berpakaian rapi sedang menikmati rokok nya.

Pritttt..pritttttt..prriiitttttt...

Pluit sudah ditiup  spoor pun berjalan pelan meninggalkan Solo Balapan. Dua laki – laki tadi masuk ke gerbong berdiri di dekat pintu masuk, tiba – tiba salah satu diantara mereka naik ke atas gerbong. Saya pikir mereka hanya punya satu tiket, sehingga untuk menghindari pemeriksaan tiket salah satu diantara mereka harus rela bersembunyi diatas gerbong.

Ketika saya mendongak mencoba melihat gerakan lincah laki – laki yang naik ke atap gerbong tadi, saya menangkap gerakan secepat kilat dari laki – laki yang berdiri di dekat pintu masuk. Tangannya menarik dengan kuat tas yang di selempangkan di tubuh perempuan yang asik mengobrol tadi. Dengan dua kali hentakan, lepas sudah tas itu dan laki – laki itu melompat dari kereta hilang ditelan rimbunan sawah. Pecah tangis dari perempuan yang kehilangan tas itu. Orang – orang pada pada berlarian menghampiri perempuan naas itu. Semua perhatian tertuju pada perempuan itu.

“Tas ku, tas ku....tas ku,” sebuah teriakan nyaring terdengar dari deretan kursi tengah. Seorang bapak, kedua kakinya mengangkang berpijak di kursi kereta, tangannya mencari – cari sesuatu di rak barang atas. Jendela kereta terbuka lebar.
Adrenalin saya berpacu, jantung berdegup keras. Saya gemetar, lunglai.
***
Seminggu yang lalu, saya dan istri berencana mengunjungi Mas Nono, kang mas saya nomor tiga, di Yogyakarta. Hal yang menjadi pertimbangan kami adalah jarak yang lumayan jauh Malang – Yogyakarta dan juga waktu yang sempit. Mengingat style berkendara saya yang penuh sopan santun, dan juga cerita dari Mas Ade, teman satu kantor, yang begitu mengagungkan spoor era sekarang membuat saya tergelitik untuk mencobanya.

Kamis pagi saya mencari tiket di Alfa Midi dekat kantor. Lah kok ndilalah ada trouble, kata pegawainya sedang ada kerusakan jaringan. Byuh....Bayangan tentang ruwetnya pesan tiket ada di benak saya.

Saya pun pindah ke Indomart. Alhamdulillah di sana berjalan lancar, sekalian saya beli tiket PP untuk tiga orang.

Jumat sore mobil saya titipkan di kantor lama, di dekat Sarinah Malang. Bertiga naik angkot menuju Stasiun Kota Baru. Angkot berhenti di seberang stasiun, dibawah gerimis yang terus mengguyur Malang, kami bertiga berlari menyeberang jalan memasuki ruang tunggu stasiun. Ruang tunggunya kecil, bersih, teratur. Di depan loket tidak terlihat antrean yang panjang. Paling satu dua pembeli yang pesan buat esok hari. Pedagang asongan tidak ada sama sekali, begitu juga pengamen. Tempat duduk panjang yang disediakan untuk calon penumpang sebagian besar sudah diduduki cewek – cewek. Mungkin mereka para mahasiswa yang mau pulang ke pangkuan orang tua mereka. Untunglah masih ada tiga tempat duduk yang kosong.

Sekitar jam tujuh para penumpang Malioboro Ekspres dipesilakan masuk ke peron. Sebelumnya para penumpang harus mencetak sendiri tiket nya di printer dekat pintu masuk.

Suasana peron juga sama dengan ruang tunggu. Besih, rapi, sepi, aman. Beberapa penumpang pada kleseton menunggu kedatangan kereta yang menurut jadwal jam 20.05, sambil memainkan gadget mereka tanpa ada rasa takut atau jijik.

Jam 20.17,  Maloboro Ekspres masuk Stasiun Kota Baru. Para penumpang dengan tertib memasuki gerbong sesuai dengan tiketnya. Kami bertiga dengan gampang menemukan tempat duduk kami, kelas ekonomi AC. Keretanya bersih, kita sudah tidak perlu lagi membawa lilin, AC nya dingin, ada colokan buat nge-charge gadget, toiletnya berfungsi dengan baik. Tidak ada lagi penumpang yang berdiri, semua mendapatkan jatah kursi.

Bagi yang tidak membawa makanan, tidak usah kuatir karena secara periodik bagian restorasi akan berkeliling membawakan makanan sesuai pesanan. Tidak perlu bingung juga membuang sampah, karena petugas kebersihan selalu berkeliling untuk memungut sampah.

Semakin malam kereta melaju semakin cepat, meninggalkan Malang. Kantuk menyelinap masuk ke mata, membuat jiwa melayang meningglkan raga untuk sementara.


Jam 04.15, selamat datang di Yogyakarta.