Pages

Cari

Kamis, 16 April 2015

Es Lilin Saren


Aryo berjalan berjingkat – jingkat menuju ruang tengah. Gerakannya sangat halus, nyaris tak terdengar. Tiba – tiba dari arah dapur terdengar suara laki – laki dan perempuan sedang bercakap – cakap sambil berjalan menuju ke ruang tengah.

Aryo segera menghentikan langkahnya, dia menyembunyikan tubuhnya diantara sofa coklat gelap dan almari besar  yang berada di ruang tengah tersebut.


Laki – laki tersebut menghempaskan badannya yang tambun di sofa coklat tersebut. Si perempuan berjalan di belakangnya, ditangannya memegang sebuah lepek yang berisi dua buah es lilin merah menyala dan empat buah stroberi.

“Sudah taruh di meja saja Ma, dia pasti datang.”

Perempuan itu pun menuruti perkataan laki – laki itu. Diletakkannya lepek itu di tengah – tengah meja. Kemudian perempuan itu mematikan lampu utama di ruang tengah itu dan menggantinya dengan lampu hias yang temaram.

Samar – samar harum bunga melati menyeruak di ruang tamu itu. Bercampur dengan bau kemenyan yang sedikit menyengat..

“Pa...merinding aku. Bener dia akan datang malam ini?”

“Dia dulu sangat suka dengan es lilin dan stroberi, Papa yakin dia akan datang malam ini.”

Aryo masih diam bertahan diantara sofa dan almari, dia tidak berani menggerakkan anggota tubuhnya.

Tiba – tiba.....

Wussssss..wusssss.wwusssss,,,

Dari arah yang tidak diketahui,secepat kilat seekor srigala hitam telah muncul di hadapan laki – laki dan perempuan itu. Matanya tajam menatap kedua mata laki – laki dan perempuan itu. Lidahnya terjulur, air liurnya terus menetes.

Le....tenang le....Ini es lilin saren kesukaanmu. Terima kasih ya Le, berkat kamu Papa – Mama bisa kecukupan seperti ini.”


Lepek = piring kecil
Tole = panggilan untuk anak laki – laki

Saren = darah yang kental