Pages

Cari

Rabu, 08 April 2015

Kebetulan Yang Menakjubkan

Detak jantung Mi berdegup keras. Aliran darahnya berpacu dengan hormon adrenalin yang melesat ke seluruh otot di tubuhnya. Sorot matanya teduh mengarah ke satu sosok di depannya. Secara tak sadar kedua tangannya mempermainkan sapu tangan warna ungu, warna yang sangat cocok dengan suasana hatinya saat itu.


Wo tak berani menatap mata Mi. Sesekali di arahkan pandangannya ke sepeda motor matic hitamnya, kemudian beralih memandang langit malam yang gelap berhiaskan sebuah bulan yang sedang ndadari dan bertabur milyaran bintang berkelap – kelip genit. Style Wo yang selama ini wagu, ra mutu, sarap, mendadak hilang lenyap melayang ke langit yang gelap.

Supermarket kecil di ujung jalan itu pun mulai sepi pembeli. Dua laki – laki pramuniaga supermarket itu mulai berbenah, merapikan barang – barang di toko, menghitung penjualan mereka hari itu, dan kemudian bersiap – siap untuk memberikan hak tubuh mereka  beristirahat.

Di pelataran parkiran masih terlihat sebuah sepeda motor matic hitam dan sebuah mobil keluaran pabrikan Korea warna abu – abu metalik.

“Wo....masih ingat aku Wo?” dengan mengumpulkan keberanian yang tersisa dan memusnahkan rasa gengsinya, Mi mencoba mencairkan suasana.

“Pertanyaanmu retoris. Bagaimana aku bisa melupakan perempuan kedua yang pernah aku kirimi surat, setelah Sibuku?”

Mi terdiam, Wo pun diam.

Mi mencuri – curi pandang ke arah Wo.

“Wo masih seperti dulu, wajahnya masih sumringah, sok ngalem, cerdas, masih terlihat bengal tapi gak neko – neko, cuman sekarang tambah seksi dengan perut buncit dan berkaca mata,” gumam Mi dalam hati.

“Wo, aku minta maaf atas kejadian dulu itu. Kita tidak pernah tahu apakah kejadian yang dulu itu baik bagi kita ataukah malah sebaliknya. Aku bersyukur kita masih diberikan kebetulan yang menakjubkan seperti ini. Menurutku, lebih baik kita berprasangka baik saja sama Allah, kan kata mu Allah itu sesuai persangkaan kita?”

Mata Wo perlahan – lahan diarahkan ke mata Mi. Wo melihat mata yang teduh, tegas, cerdas, sedikit genit, bengal. Masih mata yang membuat hati Wo semrepet.

Dari jendela mobil abu – abu metalik itu muncul tiga kepala bocah yang lucu dan menggemaskan. Mereka berteriak memanggil Mi.

“Ups..krucil ku sudah memanggil – manggil tuh. Aku pamit dulu ya.”

“Oh iya Wo, aku titip sesuatu yang paling berharga di kamu. Jagain ya, kalau waktunya tiba, tolong kembalikan ke aku. Aku tunggu.”

Wo melepaskan pandangan ke langit, bulan yang lagi ndadari malam itu adalah bulan terindah yang pernah dilihatnya. Milyaran kelap – kelip genit bintang di langit adalah harapan yang harus di raihnya, meskipun sulit tapi bukanlah sesuatu yang tidak mungkin.


Mensemogakan ketidakmungkinan menjadi kemungkinan.