Pages

Cari

Rabu, 29 April 2015

LAWAN KECU

Gerimis kecil sore itu mengiringi saya dan Bal keluar dari tempat parkir sepeda Lapangan Argopuri, satu – satunya lapangan badminton di kota kecamatan kami. Saya dan Bal tergabung dalam satu  klub badminton anak – anak yang berlatih tiap Jumat siang sampai jam lima sore.


“Wo, tadi lihat wajah musuh kita gak? Yang pas shuttlecock mu bergulir tipis di bibir net,” tanya Bal sambil mengayuh sepeda Phoenix barunya.

“Iya, aku lihat. Wajah mereka langsung pating kecumuk gak karuan.  Puas banget aku Bal. Eh, berarti skor kita sekarang 1:3 ya. Lumayanlah pecah telur.”

Gerimis sore menjelang Magrib itu membuat para pengendara motor maupun sepeda mengurungkan niat mereka untuk keluar rumah. Becak pun tidak ada yang lalu – lalang karena para calon penumpang lebih memilih menghangatkan diri di rumah bersama keluarga dengan ditemani kopi atau teh panas yang manis dan kental.

Di atas aspal basah sore menjelang Magrib itu hanya terlihat dua sepeda yang beriringan. Satu sepeda Phoenix dan satu sepeda mini.

“Bal, nrabas belakang Pasar Kabangan saja ya, lebih cepat,” teriak saya kepada Bal yang melaju di depan saya.

Sebelum Pasar Kabangan ada sebuah jalan kearah barat menuju komplek perumahan yang jumlahnya tidak sampai dua puluh rumah. Ujung dari jalan komplek itu adalah gang sebelah barat Pasar Kabangan. Keuntungan lewat jalan komplek tersebut lebih cepat dan lebih aman karena tidak berpapasan dengan mobil dan motor.

Gerimis semakin deras, mendung tebal menambah gelap sore menjelang Magrib.

Dari arah belakang, saya mendengar deru sebuah motor. Dua orang laki – laki dewasa berboncengan lewat disamping saya.

Tiba – tiba pas di depan langgar tua di pinggir pasar Kabangan, sepeda motor tersebut berhenti menghadang kami berdua. Laki – laki yang dibonceng turun dan secara kasar merebut sepeda Phoenixnya Bal. Tarik menarik Bal dan laki – laki dewasa itu terlihat tidak seimbang.

“Tulung..tulungg....ono kecuuu....tulunggg...kecccuuu,” dengan perpaduan takut dan mewek, saya berteriak sekencang – kencangnya.

Ndladug, ayo cepetan. Keburu ada orang!” kata laki –laki yang membonceng kepada temannya yang sedang berusaha merampas sepedanya Bal.

Dengan mengumpulkan sisa – sisa keberanian, saya kayuh sekuat tenaga sepeda mini saya kearah laki – laki yang sedang berusaha merampas sepeda Bal.

Gubrakk...

Laki – laki yang sedang tarik menarik dengan Bal jatuh tertindih saya dan sepeda mini saya.

“Gobloggg, sama bocah saja kalah. Cepetan nyengklak!” umpat laki –laki yang berjaga – jaga diatas motor.

Breemmm...

Secepat kilat kedua kecu itu memacu motornya kearah timur.

"Kamu gak apa – apa Wo?”

Stang sepedaku bengkong Bal, tapi gak apa – apa. Eh, Bal..tadi misalkan kecukecu masih ngeyil mau aku lempari pakai batu loh.”

“Haiyak..lambe mu Wo.”                          

pating kecumuk  = dalam keadaan kacau
nrabas                = potong kompas
kecu                   = sebangsa begal
ndladug              = umpatan khas orang Solo
nyengklak          = membonceng dengan melompat
stang                 = stir sepeda
bengkong          = bengkok
lambe               = bibir
ngeyil                = pantang menyerah