Pages

Cari

Rabu, 13 Mei 2015

Surat Ndleminganku Buat Mi #1

Assalamu’alaikum Mi...

Apa kabar Mi? Semoga kamu sehat wal afiat di sana sebagaimana aku disini. Kalau tidak salah hitung, sudah empat purnama kita tidak berjumpa secara wujud. Hanya ndleminganku ini yang sangat beruntung bisa menemui mu secara nyata. Ndleminganku ini mungkin sudah ke sepuluh di empat purnama ini, atau mungkin yang ke dua belas? Ah entahlah, aku hanya berharap semoga saja kamu tidak bosan membaca ndleminganku yang wagu, ra mutu, lebay.

Oh ya Mi, kali ini aku tidak akan bahas masalah hubungan kita. Karena hubungan kita sudah sangat jelas. Sejelas matahari yang bersinar di siang hari.

Kali ini aku akan bercerita tentang tiga orang biasa yang pernah aku temui. Seandainya kamu tidak suka pun, tidak apa – apa. Ketidaksukaanmu atas isi ndleminganku ini tidak akan merubah penilaianku kepadamu.


+++

Bapak Tua ini sering aku temui di perempatan jalan protokol, di bawah flyover. Aku yakin dia sudah lama meninggalkan dunia hitam, itu terlihat dari rambutnya yang persis seperti Pak Hatta Rajasa. Jemarinya tidak pernah lepas dari batang rokok dan dari mulutnya selalu mengeluarkan asap. Ketika dia berbicara, terlihat giginya sudah tidak lengkap lagi. Menurut perkiraanku usianya sudah kepala tujuh.

Setiap aku sampai di bawah flyover habis subuh, menunggu bis yang akan mengantarkankan aku ke tempat kerja, Bapak itu sudah stand by di situ. Setiap ada bis yang datang, dia akan berteriak kepada para calon penumpang yang bergerombol di bawah flyover memberitahukan  kemana jurusan bis tersebut. Dari jasa nya tersebut, dia mendapatkan uang sekedarnya  dari para kernet yang merasa terbantu dengan jasanya. Atau mungkin merasa kasihan. Entahlah.

Pagi itu, bis yang biasa aku tumpangi tidak kunjung datang.

“Kayaknya Tentrem yang jam 05.10 rusak mas. Tunggu Tokyo saja.”

“Oh iya Pak ? Wah alamat terlambat nih saya Pak.”          

Oh iya Mi, aku kasih tahu kamu ya, Tentrem dan Tokyo adalah beberapa nama bis yang menguasai jalanan antar kota di sini. Sopirnya seangkatan sama Ananda Mikola, nekatnya melebihi Schumachel. Jiyaannnnn, aku yakin kamu akan sport jantung kalau duduk di belakang Pak Sopir yang sedang bekerja mengedalikan bisnya.

Aku tahu Mi, kamu pasti mau menanyakan dimana rumah Bapak Tua itu, dengan siapa dia tinggal, dimana anak – anaknya?...Aku bisa membayangkan kok antusiasnya kamu dengan cerita ku ini. Dengan mata yang pating plorok, bicara cepat yang tidak bisa dihentikan, tangan yang bergerak kesana kemari. Wis, pokoknya ngangeni bingits.

Mi, menurut cerita Bapak tua itu, dia hanya tinggal bersama istrinya. Dia mempunyai tujuh anak  semuanya sudah berkeluarga dan tinggal di luar kota. Sebenarnya, anak – anaknya tidak membolehkan dia bekerja seperti itu. Mereka itu lo, tiap bulan mengirimi uang untuk kebutuhan Bapak Tua itu dan istrinya, tapi Bapak Tua itu gak kerasan kalau hanya ongkang – ongkang di rumah. “Sakit semua,” katanya.

Tahu gak Mi, anak – anak mereka itu sarjana semua lo. Beberapa ada yang bekerja di Bea Cukai. Terus terang aku gak menyangka dengan cerita Bapak Tua itu. Lebih gak menyangka lagi pada waktu dia bercerita sudah dua kali naik haji. Masya Allah...

Usut – punya usut, dia dulu adalah pegawai di kantor bupati Sidoarjo, sebagai ajudannya Pak Bupati. Ibadah haji yang pertama karena diajak Pak Bupati, haji yang kali kedua atas jerih payahnya sendiri.

Mi, sebenarnya ada satu lagi yang dia ceritakan tentang hal – hal yang berkaitan pekerjaan yang dia kerjakan saat ini. Pekerjaan jalanan dengan konsekuensi akan selalu berhubungan dengan Bapak Petugas. Tapi menurutku, cerita tersebut perlu aku klarifikasikan dulu dengan Bapak Petugas. Takutnya kalau aku cerita ke kamu tapi ternyata cerita Bapak Tua tersebut tidak diakui oleh Bapak Petugas, aku kan bisa dituntut menyebarkan berita bohong. Biarlah nanti pas aku dan kamu ketemu secara wujud, aku beberkan semuanya.

Mi, pas aku wasap kamu, dia sekilas melirik ke tanganku. Tahu – tahu dia ngomong begini,” Melihat garis tangan Sampeyan tadi itu, Sampeyan  orangnya begini, begini, begitu, begitu.”

Weh, sok tahu banget dia. Memang ada satu dua hal yang benar tebakannya. Salah satu tebakannya, dia bilang kalau aku pinter. Itukan terlalu umum banget, gak usah jadi peramal pun bisa menebak itu.

He he he...Kamu pasti bilang “Nganyelke tenan ig...”

Mi, aku kok wis ngantuk ki. Aku sudahin dulu cerita tentang orang biasa yang pertama. Besok aku lanjutin orang yang ke dua dan ke tiga.

Oh iya Mi, nama Bapak Tua itu Haji Hasan.


Wassalamu’alaikum, Mi.