Pages

Cari

Senin, 25 Mei 2015

Surat Ndleminganku Buat Mi #2

Assalamualaikum Mi,

Hae, hae, hae.....seminggu sudah aku tak berkirim surat, seminggu pula umur kita bertambah.

He he he, kamu pasti akan meneriakkan ini, “Pasanganku jadowellll bangeetttttt.” Ha ha ha, bener kan tebakanku.

Sebenarnya ucapanmu itu malah memperlihatkan kalau kamu  jadowel banget juga, termasuk dalam angkatan bahagia pemirsa Berpacu Dalam Melodi di TVRI era Bapak Pembangunan, anggota Fans beratnya Bung Koes Hendratmo. Qiqiqiqiqi. Wis ah gojekannya, aku mau cerita lagi kelanjutan dari ceritaku minggu lalu. Baca ya..


+++

Suara adzan magrib dari masjid – masjid sepanjang jalan yang aku lalui menelusup masuk melalui sela – sela jendela bus antar kota yang melaju kencang menerabas kepadatan jalan.

Wajah – wajah  para pekerja pulang kerja terlihat kuyu, sedikit sekali yang bersapa. Selebihnya diam, tenggelam asik dengan pikiran mereka masing –masing sambil tangan mereka memegang benda kecil ajaib yang telah memisahkan mereka dengan teman seperjalanan mereka.

Menjelang Isyak, bus yang aku tumpangi masuk ke terminal. Orang – orang pada berebutuan turun, aku menunggu sampai penumpang terakhir turun. Aku malas berebut turun, pertama karena aku baik hati lebih mendahulukan kepentingan orang lain dibanding kepentinganku sendiri, kedua karena aku selalu mengalah dalam berebut turun.

“Ihhh...Nganyelke banget ig”, pasti itu komen mu.

Aku berlari kecil menuju terminal bayangan, tempat dimana angkutan dalam kota pada ngetem. Aku lihat angkutan jurusan Gadang masih sepi, baru ada dua orang. Sopir dan seorang penumpang. Kalau menurut pengalamanku, satu orang penumpang itu adalah combe, atau sebagai pancingan bagi calon penumpang yang belum naik. Trik kuno.

Tiba – tiba, ada seorang perempuan muda memakai kaos lengan pendek warna putih, celana tiga per empat warna hitam berjalan mendekati saya. Raut mukanya ceria, bibirnya selalu tersenyum.

“Mas, terimakasih ya. Sudah mau datang di pesta ulang tahunku. Kamu tahu gak mas, hari ini aku bahagia banget. Ya Tuhan...terimakasih atas karuniamu.”

Kedua tangannya ditangkupkan di dada, kepalanya miring ke kiri kadang ke kanan, kakinya bergerak seperti jalan di tempat. Model ceri bel banget.

Jiyaannnn, Miiiiii....

Saat itu aku merasa menjadi bintang sinetron remaja yang lagi digandrungi pemirsa seluruh Indonesia Raya. Ribuan pasang mata melotot iri kepadaku, ratusan paparazi siap melumat segala gerak – gerikku. Aku lihat juga beberapa wartawan infotainmen ada di kerumunan para fansku.

“Gadang mas, Gadang...,” teriak sopir angkutan.

Aku pun melompat masuk, tak perduli dengan tatapan ribuan pemirsa yang kecewa karena jagoannya kabur. Dari balik kaca angkutan yang aku naiki, aku lihat perempuan tersebut masih saja ceria, menebarkan senyumnya ke sana kemari.

Aku sandarkan punggungku ke jendela angkutan. Huff..lega rasanya kembali jadi orang biasa Mi.

“Pak, demi kemajuan bangsa saya minta sepuluh ribu saja.”

Wottttt?!!?!!?!

Aku perhatikan satu persatu penumpang angkutan. Disebelah kananku duduk dua orang ibu yang baru pulang kerja, diujung bangku sebelah kanan seorang cowok pelajar SMA. Di depan saya duduk dua orang suami istri dan seorang anaknya yang masih kecil.

“Sesuai anjuran pemerintah, saya minta sepuluh ribu pak.”

Haladalah....suara itu ternyata datang dari seorang ibu yang duduk dipojokan samping kiriku Pakaiannya gak padu padan blas. Memakai kerudung ungu dengan kaos ketat coklat, celana legging warna oranye ngejreng. Secara sepintas melihat busananya kita bisa menangkap kesan tentang ibu ini.

Ibu itu berbicara panjang lebar dengan bahasa Indonesia yang medok jawa timuran, semua penumpang terdiam. Entah mendengarkan, entah mengacuhkan.

Tak berapa lama, ibu itupun turun sambil mengucapkan kepada sopir angkutan itu “Su(wu)n cak”.

“Diyamput...ancen e nasibku. Maeng isuk bareng aku, la kok saiki yo bareng aku maneh. Ndadak nge sun barang sisan. Put,put,put!!!”

+++

Mi, sampeyan pasti bertanya – tanya “Terus apa moral cerita diatas?”

Seperti biasa, aku yakin kamu sudah bisa mengambil moral cerita dari ceritaku diatas. Yaitu, moral penceritanya yang harus diperbaiki.

Mi, mudah – mudahan kamu tidak bosan dengan cerita waguku. Karena hanya kamu yang baca cerita waguku. 

Su(wu)n ya.....


Wasalam wr wb.