Pages

Cari

Kamis, 11 Juni 2015

Pertemuan Dengan Khidir

Temaram senja yang basah, rintik hujan masih setia menyambangi bumi.

Turun dari angkot itu, aku segera berlari menuju Masjid Khodijah. Aku tutupi kepalaku dengan tas kerja berbahan kalep atau kulit imitasi murahan.  Baju dan celanaku basah, juga tas kerjaku. Alhamdulillah, kepalaku hanya sedikit basah.


Di emperan masjid ada beberapa orang tua dan anak muda yang duduk menunggu hujan reda. Ada yang ngobrol, ada yang sibuk dengan hapenya. Aku taruh tas kerjaku di loker masjid, kemudian aku bergegas mengambil air wudlu. Waktu Asar hampir habis.

Pada saat tahiyat terakhir kepalaku menoleh ke kiri, sekelebat aku melihat ada seorang laki-laki dibalik pilar masjid yang jaraknya hanya satu sajadah dari tempat aku sholat. Setelah sholat Asar, aku teruskan dengan wiridan dan berdoa.

Ditengah aku sedang mencoba khusuk berdoa, tiba–tiba lak–laki yang duduk dibalik pilar itu datang mendekatiku. Dia duduk di sebelah kiriku.

“Maaf Pak, saya mau minta bantuan,” dia berkata begitu tanpa mengindahkan aku yang sedang mencoba khusuk berdoa.

“Apa sih orang ini, gak lihat orang lagi berdoa apa,” gumamku dalam hati.

“Saya datang dari Tuban, Pak. Saya tidak minta bantuan uang.”

Aku hentikan berdoaku. Aku menoleh ke dia. Rambutnya keriting, badannya kurus dibalut kaos oblong warna coklat bulak, kepalanya memakai kopiah model Ustad Arifin Ilham. Aku mengira umurnya sekitar 30an.

“Apa yang bisa aku bantu, Mas?”

“Nama saya Khidir, saya sudah empat bulan lebih mengembara ke beberapa kota. Saya memulai perjalanan dari Langitan.”

“Ooo...La terus apa yang bisa saya bantu, Mas?”

Mata Khidir berbinar, mulutnya manyun, duduknya lebih tegak. Dia bercerita pada suatu hari pernah mengemukakan keingingan kepada ibunya. Keinginan untuk menjadi orang yang lebih berguna bagi sesama. Kemudian oleh ibunya diberikan petuah, agar keinginannya bisa terlaksana, dia disarankan untuk meminta doa kepada 41 orang.

“Mohon dengan sangat Pak, sehabis sholat tolong doakan saya Pak.”

“Eh, gini aja Mas. Mari kita berdoa bareng, semoga apa yang mas dan aku inginkan di dengar Allah dan dikabulkan sesegera mungkin, serta berkah bagi kita.”

Maka aku pun dengan gaya sok khusuk memimpin doa.

“Terus, malam ini Mas mau kemana lagi ni?”

“Saya mau cari kerja Pak, kerja apa saja. Buat bekal besok.”

“Besok mau ke mana Mas?”

“Tergantung bisikan nanti malam Pak.”


“Gitu ya? Oh iya Mas, aku orang ke berapa ni?”

“Bapak orang ke 35, masih kurang enam orang lagi.”

“Mas kok bisa milih saya?”

Bibirnya terlihat agak melebar sedikit, persis senyum Monalisa yang penuh misteri. Dia ambil Al Quran yang tadi dia letakkan di atas ransel kumalnya, kemudian melanjutkan membaca Al Quran. Terdengar pelan bacaan Al Quran yang syahdu.

Aku berlari menyusuri jalanan yang basah, rintik hujan mengenai baju, celana, tas kerja. Sesegera mungkin aku pingin sampai di kos untuk istirahat.

Eh sebentar...Khidir? Mengembara? Minta bantuan doa?


Jangan – jangan dia.......