Pages

Cari

Kamis, 18 Juni 2015

Sepenggal Kisah Tentang Padusan, Kala itu.

Wo menyandarkan sepeda mininya ke pohon jambu kluthuk yang ada di samping rumahnya. Kemudian langkah kecilnya bergerak cepat menuju ruang tengah. Sibu telah menunggunya.


“Le, ati – ati ya. Jangan nengah – nengah, di lajur kiri saja. Jangan gojekan sepanjang jalan, bahaya. Kalau mau nyebrang lihat kiri kanan dulu. Ini Sibu sangoni  lima arem – arem kesukaanmu dan teh hangat,” tangan kanan Wo  mencium tangan kanan Sibunya. Dimasukkannya arem – arem dan toples yang berisi teh hangat ke dalam tas sekolahnya

Kaki Wo mengayuh pedal sepeda sekuat tenaga. Pagi itu dia ada janji bertemu di depan sekolahnya dengan Gung, teman satu kelasnya. Mereka berdua mau padusan ke Pengging. Wo clingak – clinguk di depan sekolahan, tidak ditemuinya Gung. Sepi.

Sayup terdengar kriuk, kriuk, kriuk.....Panggilan dari perutnya begitu menyayat hati, menghiba – hiba untuk sudilah kiranya memberikan asupan bergizi sebagai sumber tenaga pagi hari ini. Tak kuasa hati Wo mendengar panggilan dari perutnya, dari  dalam tasnya dia keluarkan sepotong arem – arem.  Mak nyus.....

“Wooo......,” tak asing lagi ini adalah suara Gung.

“Sori Wo, ban ku mbledos je, nyari tambal ban susah banget. Belum ada yang buka. Untung tadi ada tukang tambal ban yang baik hati, meskipun tutup, mau nolong aku.”

“Itu karena wajahmu melasi sih Gung, ya wis ayo kita  kemon.”

“Wuasem ig..Ngenyik kowe Wo.”

Berdua mereka menyusuri jalan raya yang masih sepi. Saling memacu sepeda, zig zag bak pengendara moge. Sedikit beratraksi dengan melepas stang sepeda, kedua tangan direntangkan.

Tiba – tiba pada saat melewati belokan...

Pritttt..prriitttttt.....

Seorang Polisi Pamong Praja berperawakan gendut berdiri di tengah jalan, tangan kirinya memegang sempritan dan tangan kanannya memberikan aba – aba kepada Wo dan Gung untuk berhenti di pinggir jalan.

“Waduh, cegatan plombir ki Wo,” suara Gung bergetar.

“Gung, gak usah berhenti. Ngebut saja, aku lewat sebelah kiri kamu sebelah kanan. Allahu Akbarrrrr......”

Dua sepeda mini itu membentuk sebuah formasi seperti anak panah yang melesat dari busurnya. Dan pada saat mendekati titik sasaran, anak panah tersebut membelah diri menjadi dua, satu ke kiri dan satu ke kanan. Wussss....

Gubrak....Gubrak.

Sayangnya, anak panah yang membelah diri menjadi dua tersebut tidak sukses melewati titik sasaran. Mereka berdua terjerembab di galengan sawah. 

"Ha ha ha,,,,,,Jyaaaaannnnnn bocah - bocah wagu, la wong disuruh minggir kok malah ngeyil, " kata seorang laki - laki berperawakan tegap, yang sudah tidak asing lagi bagi Gung.

Mata Gung berbinar - binar, mulutnya melongo, lima detik kemudian kedua tangannya diayun - ayunkan ke atas dan kebawah berbarengan dengan kedua kakinya yang lonjak - lonjak.

"Pak e, pak e, pak e...." teriak Gung.

"Weih heibat kowe Gung, arep padusan wae di kawal Paspampres."

"Wuasem ig, ngenyik lagi kowe Wo."