Pages

Cari

Rabu, 05 Agustus 2015

Aku dan Kamu.

Aku lihat jam di tanganku, pukul setengah enam sore. Peron itu semakin penuh dengan para pekerja yang akan naik kereta menuju rumah mereka masing – masing. Suara dari pengeras suara stasiun memberitahukan bahwa kereta untuk jurusan Kota Baru akan memasuki jalur dua. Ratusan orang mulai berkerumun mendekati jalur dua. Perlahan masuklah kereta ke jalur dua. Para calon penumpang saling berlomba mendahului masuk ke kereta yang masih berjalan pelan.


Aku berdiri, tapi tidak ikut berdesak – desakan dengan para calon penumpang tersebut. Mataku menyapu pandangan dari ujung ke ujung. Tiba – tiba HP ku bergetar, sebuah pesan singkat masuk ke inbox.

“Aku masih kejebak macet. mau nunggu aku kan?” begitu bunyi pesan singkat tersebut.
Sudah lebih dari dari tiga bulan, kami telah merencanakan pertemuan ini. Kami berdua berjanji ketemu di sini, dan dari sini kami akan naik kereta ke Kota Impian yang akan memberikan harapan indah bagi kami berdua.

Aku duduk di sebuah bangku kosong, menunggunya sambil membaca novel.

Tak seberapa lama, aku merasa sebuah tangan kasar dan keras memegang pundakku.

“Bangun Mas, sudah malam. Mas mau kemana?” tanya seorang Satpam.

Aku tergagap, tangan kananku reflek mengelap air liur yang membasahi pipi kiriku. Aku lihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

“Ya Allah...sudah lebih dari dua jam aku tertidur.”

Sudah tidak ada lagi kerumunan calon penumpang, loket juga sudah tutup. Sepi dan dingin.
Aku ambil HP dari saku celana.

“Mangkanya gak ada telpon dari kamu, la wong HP nya bejat. Mati.” Sumpah serapahku pada HP ku.

Sebuah benda keras kecil melayang dari belakang mengenai kepalaku. Segera aku menoleh ke belakang.

“Nyari siapa Pak?” suara perempuan yang sepertinya sangat familiar di telingaku.

“Kurang ajyaaarrrrrrr.......Kok gak bangunin aku Miii. Bikin bingung orang saja.”

“Halah, percuma kamu di bangunin Wo. La wong sampai ngowoh – ngowoh gitu. Pules banget.”

“Mosok sih, kok aku gak kerasa ya. Wkwkwwk.....”

“Seperti biasa, jawabanmu wagu, ra mutu, tur nylekit Wo. Dan sekarang rencanamu apa Wo?”

“Kita tunggu di peron ini, sampai kereta kita datang.”

###

Terimakasih kepada Abenk atas foto nya yang keren.