Pages

Cari

Kamis, 03 September 2015

Ganti Player


Jam sembilan pagi kurang lima menit, Wito sudah menunggu di ruang tunggu BPR Kita. Satu – satunya BPR yang ada di kota kecamatan di selatan kota Malang. Di depan ada seorang security, laki – laki muda bersih tegap, yang sibuk dengan ponsel android lokalan. Di bagian teller, ada seorang perempuan muda. Di sebelah teller ada  ruangan tersendiri, mungkin ruangan bos BPR itu, masih kosong. Satu dua orang pegawai mulai berdatangan.

Dengan langkah malu – malu, Wito mendatangi meja teller. Seorang wanita muda berdiri dan tersenyum manis menyambutnya. Dengan santun wanita muda itu mengulurkan tangannya, mengajak Wito berjabat tangan. Wito terlihat teramat kikuk, seumur hidup baru kali ini ada seorang perempuan muda cantik yang mengajaknya berjabat tangan. Ragu – ragu diulurkan tangannya kepada perempuan muda itu.

Perempuan muda itu melihat Wito dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dengan setengah hati dia mengulurkan tangannya dan memperkenalkan dirinya serta menawarkan bantuan kepada Wito

Wito menjabat erat tangan teller itu, matanya melotot hampir jatuh memandangi wajah teller itu. Tak sepatah katapun terucap dari mulutnya yang menganga.

“Bapak saya sakit keras. Sudah tiga bulan ini beliau hanya berbaring di tempat tidur. Kami tidak punya uang untuk membawanya ke rumah sakit. Yang kami punya hanya sepetak sawah. Kata orang – orang , tempat mbak ini bisa memberi pinjaman uang dengan jaminan sawah kami.”

Dari dalam tas ransel doreng lusuh, Wito mengeluarkan selembar foto yang sudah buram, foto seorang laki – laki muda kerempeng dengan pakaian tentara yang kebesaran.

“Bapak saya ini dulu ikut dalam Serangan Umum 1 Maret di Jogja, Mbak. Satu pasukan dengan Pak Harto.” Kata Wito dengan bangganya.

“Dan ini surat tanah kami, Mbak.”

Kemudian dikeluarkannya selembar kertas yang bertuliskan Petok D.

“Maaf Bapak, pinjaman yang kita berikan hanya untuk para pengusaha. Belum ada program pinjaman untuk orang sakit. Mungkin Bapak bisa minta bantuan ke kelurahan, kecamatan, rumah sakit pemerintah agar mendapatkan keringanan pembiayaan.”

Wito diam, matanya menatap tajam mata teller itu. Secepat kilat tangan kanan Wito mencengkeram krah baju teller itu. Wajah teller sangat ketakutan dan kesakitan karena lehernya tercekik krah bajunya sendiri.

“Tunjukkan dimana tempat penyimpanan uang!” kata Wito lirih.

Dibawah todongan pisau di pinggangnya dan leher yang tercekik krah baju, teller itu melangkahkan kakinya menuju tempat penyimpanan uang di ruangan bos nya. Di pojok ruangan ada sebuah lemari besi setinggi satu meteran. Mata Wito berbinar terang, bayangan ribuan lembar kertas uang berjejal di benaknya.

“Buka lemari itu!!” perintah Wito.

“Kuncinya ada di bos saya,” jawab teller dengan gemetar.

Wito mengeluarkan ponselnya dan mengirim sebuah pesan.

“Pak, segera kirim dinamit satu biji untuk membuka lemari besi.”

Tittt...titttt...titttt. Sebuah pesan pendek masuk di ponsel seorang lelaki yang tua tapi masih terlihat tegap, memakai kaos hitam. Matanya sedang mengawasi ke sebuah monitor laptop.

“Bodoh kamu Wito, kalau kamu ledakkan bisa hangus semua uang nya.”

Lelaki itu menekan sebuah tombol di laptopnya, muncullah gambar profil para player.

“Aku pilih Wagiman saja, sepertinya dia lebih cerdas dan licik dibanding Wito.”

Blep.

Di layar monitor laptop terlihat Wagiman naik mobil dengan menenteng senjata laras panjang menuju sebuah bank besar di tengah kota.

Foto koleksi Abenk. Thanks Bro.