Pages

Cari

Jumat, 18 September 2015

Satu Peluru Satu Nyawa


Dua puluhan meter di depan Jhon ada satu botol bekas minuman keras berjejer diatas pagar berduri. Dibawahnya berserakan pecahan botol dan puluhan selongsong peluru. 

Tangan kecil Jhon gemetaran memegang sebuah AK 47, mata kirinya dipicingkan sedang mata kanannya fokus pada sasaran. Wajahnya terlihat lelah.


“Fokus Jhon!” bentak Xavier, tentara yang telah mengasuhnya sejak  kecil. Jhon hanya bisa menuruti kemauan Xavier. Jhon tidak pernah tahu apakah Xavier itu bapak kandungnya, dia juga tidak pernah dikasih tahu dimana ibu kandungnya. Yang dia tahu sejak kecil adalah bentakan, cacian, AK 47, peluru, membunuh atau dibunuh.

“Tahan tembakanmu Jhon. Sepertinya sasaran botol itu terlalu mudah bagimu. Aku akan memberimu sasaran yang lebih mengasah kemampuanmu.”

Xavier mengeluarkan sebuah HT kecil.

“Bronco, bawa binatang  itu ke sini,.” perintah Xavier.

“Siap komandan,” jawab prajurit Bronco.

Tidak berapa lama datang seorang prajurit dengan menggelandang seorang perempuan yang lusuh dan kurus. Sekilas wajah perempuan tersebut mirip Jhon. Mata perempuan itu menatap tajam ke arah Jhon.

“Nak...” kata perempuan itu lirih.

Mata Jhon beradu pandang dengan mata perempuan itu.

“Jhon, sekarang kamu berlatih dengan sasaran yang bergerak. Binatang itu dalam hitungan ke tiga akan berlari sekencang – kencangnya. Kamu harus bisa menembak tepat mengenai kaki kanannya.” Perintah Xavier.

“Kalau kamu lulus, binatang itu menjadi milikmu,” imbuh Xavier.

Jhon pun dengan sisa – sisa tenaga mengangkat AK 47 nya, menunggu aba – aba dari Xavier.

Wajah perempuan itu begitu ketakutan. Bibirnya hanya bisa bergetar. Terbayang olehnya malaikat pencabut nyawa yang sebentar lagi akan menemuinya.

“Satu..Dua..Tiga.....Lariiii,” bentak Xavier kepada perempuan malang itu.
Jhon segera mengarahkan moncong AK 47 nya ke arah kaki kanan perempuan itu. Jari manisnya sudah siap menarik pelatuk yang akan mendorong peluru melesat menuju sasaran.

Dor...

Peluru itu menghunjam tepat di kening Xavier, menembus sampai ke belakang kepala.

“Kamu sekarang bebas Jhon, pergilah bersama ibumu itu.” Kata Bronco
***
Ikut meramaikan Prompt #88 di Monday Flash Fiction.
Foto adalah snapshot dari Hear Me Out nya Irma ( Album "Faces )