Pages

Cari

Selasa, 06 Oktober 2015

Surat Yang Tidak Pernah Aku Baca

Tengah malam aku terbangun. Tenggorokan serasa kering, haus. Aku lupa menaruh air putih di dalam kamar. Aku keluar kamar menuju dapur. Aku lihat lampu ruang tengah tempat aku dan teman – teman kos menonton televisi sudah padam. Kamar – kamar kos sepi, teman – teman pasti sudah dibuai mimpi semua. Segera aku percepat langkah kakiku ke dapur, segelas air putih dingin  aku ambil dari dispenser aku bawa ke kamarku.
Segarnya air putih dingin yang menyiram tenggorokanku membuat mataku berbinar terang. Tiba – tiba mataku tertuju pada sebuah amplop ukuran tanggung warna coklat yang tergeletak di meja belajarku. Amplop itu masih tertutup rapat.  
***
Liburan semesteran lalu aku pulang ke kota kelahiranku. Sebagai seorang anak kampung yang mendapat keberuntungan bisa kuliah di ibu kota adalah sebuah kebanggaan tiada tara. Maka kesempatan liburan semesteran itu aku pergunakan sebaik – baiknya. Aku kunjungi teman – teman lamaku yang tinggal di kota kelahiranku. Mulai dari teman TK, SD, SMP sampai SMA. Kami saling bertukar cerita. Saling membanggakan tempat kami kuliah. Kadang dilebih – lebihkan.
Pada malam terakhir liburan, aku dan beberapa teman lesehanwedangan di sebuah angkringan di tepi jalan protokol. Angkringan tersebut sangat terkenal, banyak sekali penikmat wedangan yang berkunjung ke angkringan tersebut. Ketika kami sedang menikmati hidangan yang kita pesan, aku mendengar suara gayeng dari penikmat wedangan di sebelah kami. Dibawah temaram lampu jalanan, aku lihat ada seorang perempuan yang menjadi episentrum dari kegayengan rombongan sebelah. Seorang perempuan dengan rambut poni yang dikepang dua. Gaya bicaranya cepat, tegas, njawani, dan lucu.
“Nur....Nur?”
Perempuan itu langsung diam dan mengarahkan pandangan ke arah datangnya panggilan itu. Aku melihat sepasang mata bulat lucu menatap tajam ke arah datangnya panggilan itu. Mulutku.
“Wo...Kowe Wo?”
Pangling ya?”
Wedrunbagus banget sekarang. Maksudku dulu jaman SD juga sudah bagus, tapi sekarang ratusan kali lipat dari jaman SD dulu.”
Dan wedangan malam itupun semakin gayeng, wagu , ra mutu. Semua kekonyolan yang pernah aku dan Nur alami mengalir ke permukaan. Hingga akhirnya pertemuan aku dan Nur malam itu harus disudahi. Dan kami pun saling bertukar alamat.
Semenjak itu kami intens berkomunikasi lewat surat. Kami saling mengirimkan kabar berita, cerita, teka – teki, dan segala hal yang menurut kami layak untuk ditulis di surat.
***
Sudah seminggu amplop coklat itu tergeletak di meja belajarku. Ada perasaan aneh di hatiku. Perasaan tidak enak. Tidak seperti biasa Nur berkirim surat dengan memakai amplop yang ada logo sekolah penerbangan. Di suratnya yang ke dua Nur pernah bercerita punya teman cowok yang sedang sekolah penerbangan. Waktu itu aku ketawa. La wong pemain terbangan saja kok pakai sekolah khusus.
Biarlah amplop coklat itu tetap tertutup rapat. Aku sudah tahu jawaban Nur atas ungkapan perasaanku yang aku kirim lewat telegram seminggu yang lalu.
****
Untuk membaca karya peserta lain silahkan menuju akun Fiksiana Community
Silahkan bergabung di grub FB Fiksiana Community