Pages

Cari

Selasa, 19 April 2016

Ini Indonesia.....



Saya kadang capek nerangin ke teman – teman, keluarga, atau siapa saja yang bertanya kepada Saya tentang Ternate. La wong Saya ini baru mau masuk Pulau Ternate, babar blas gak ada bayangan kalau juragan pusat itu mau mindahin Saya ke Ternate. Yang Saya tahu Ternate terkenal dengan Gunung Gamalama.




Tapi karena sudah ada gentlemen agreement antara Saya dan juragan pusat, siap ditempatkan dimana saja, ya udah. Siap86 Gan.



Tanggal 12 April 2016, dengan menaiki Garuda dari Manado menuju Ternate. Saya bersama seorang teman yang baru pindah juga, dan dengan dua orang teman yang sudah dua tahun di Ternate. Iseng Saya lihat majalah yang ada di depan tempat duduk saya. Saya lihat ada peta jalur penerbangan Garuda. Ya Allah……( pekik Saya dalam hati ). Ternyata dari Malang jauhhhhhhh bingits. Apalagi dari Solo.


Manado – Ternate ditempuh oleh Garuda selama 50 menit.




Saya ini bukan orang yang sering jlag – jlug di bandara, jadi Saya gak bisa menilai Bandara Sultan Baabullah. Kalau menurut Saya, selama disitu ada Garuda berarti bandara tersebut sangat layak.




Yang pertama ingin saya ketahui adalah kampungnya Bunda Dorce Gamalama, eh setelah tanya warga sekitar ternyata Bunda Dorce bukan berasal dari Ternate. Gamalama palsu.


Minggu pertama di Ternate Saya disibukkan dengan mencari kos dan mengisi kos. Dapat kos seharga Rp 900 ribuan, kamar mandi dalam, halaman luas, tapi kosongan. Kalau sudah gini, pasti akan membandingkan dengan di Jawa. Eh, tapi yang di Jakarta mungkin seharga itu juga ya?.....


Yang pertama menarik perhatian adalah angkutan umum nya. Yang pertama adalah angkot. Hampir sama dengan di Malang, warnanya biru. Yang membedakan adalah….banyak perbedaannya.


Modifikasinya keren banget, melebihi mobil pribadi. Bannya radial. Sound nya seperti mau ada pawai Agustusan. Bermandikan cahaya lampu. Kursinya menghadap depan semua, dengan kapasitas penumpang delapan penumpang. ( Mohon dikoreksi kalau salah, karena belum pernah naik. ) Dan yang lucu, gak ada trayek resmi. Berkeliaran seperti becak.

Oh iya, becak tidak diperbolehkan di Ternate karena kontur daerahnya naik turun. Kasihan Abang becaknya Jo.


Yang kedua adalah ojek. Tiap orang bisa jadi ojekers disini. Semisal Sampeyan naik sepeda motor, kemudian ada orang nyegat kita sambil bilang “Ojek Bang?”…Ostosmastis Anda telah dilantik menjadi ojekers. Demikian juga sebaliknya, Sampeyan bisa seenaknya mengangkat orang jadi ojekers.


Ada lagi sarana transportasinya yaitu kapal laut, speedboat, ferry. Sampai tulisan ini diunggah Saya belum merasakannya. Tunggu cerita Saya ya…


Pasti pada nanya makanan. Yang suka ikan laut, Ternate adalah surganya. Apalagi bisa masak sendiri. Harga ikan mentah murah banget, tapi kalau sudah mateng, ya lumayanlah. Pernah maen ke pasar ikan, harga satu ember cumi cuman limapuluh ribu. Ada satu tempat makan ikan laut yang terkenal yaitu di dalam terminal. Tempatnya kumuh, tapi ampunnnnnnn kalau malam Minggu bisa antri satu – dua jam ( katanya sih… ).





Kemudian apalagi ya?...Hmmmm kondisi kotanya kecil, bersih, di batasi langsung oleh laut. Di tengah kota ada pantai namanya Pantai Falajawa, tiap sore dan minggu pagi rame dengan orang berenang di laut. Airnya bening, terumbukarangnya kelihatan. Yang sekarang lagi trend di Ternate adalah inlineskate. Hampir tiap hari bocah – bocah bermain inlineskate di pinggir jalan. Gak kenal pagi, siang, malam. Juga skateboard yang pakai listrik. Di mall ada beberapa ibu – ibu muda belanja pakai skateboard listrik. Saya saya sampai nggumun, di daerah terpencil ternyata ada juga yang beli barang seperti itu. Tapi..sudahlah gak usah dibahas.


Untuk pariwisata di tengah kota yang pasti laut. Ada keraton Ternate. Orang menyebutnya Kedaton. Jangan dibanyangkan seperti keraton Solo atau Jogja. Keratonnya kecil, seperti rumah orang kaya jaman dahulu. Waktu Saya kesana ditemui oleh abdi dalemnya. Bapak itu menerangkan saat ini kedaton tidak punya sultan, karena belum ada pemilihan putra mahkota sepeninggal Sultan Mudafar Syah. Mayoritas penduduk Ternate adalah muslim.




Ada beteng peninggalan VOC, namanya Fort Orange. Di depan beteng ada kanal kecil, mungkin niru di Belanda sana. Kita bebas masuk kesitu tanpa dipungut biaya.





 Untuk bahasa, mereka memakai bahasa Indonesia dengan kecepatan 360 km/jam. jadi kita harus konsentrasi penuh untuk mendengarkan perkataan mereka.

Jangan dikira di Ternate gak ada mall atau cafe ya. Sepengetahuan Saya ada KFC, Excelsso, PaparonsPizza, Hypermart. tapi Saya gak pernah masuk kesitu. Takut malu - maluin.

Kalau Ramon Tungka melakukan ekspedisi 100 hari Keliling Indonesia, Saya mungkin 360 hari X 2 Keliling Ternate.

Doakan saya sehat, biar bisa mengabarkan Ternate ke dunia luar.