Pages

Cari

Sabtu, 21 Mei 2016

Pesona Gadis Kretek.




Buku ini Saya temukan saat Saya jalan - jalan di sebuah mall di kota Ternate. Di lobby mall tersebut ada cuci gudang buku - buku dari sebuah toko buku yang paling terkenal se Indonesia. Jujur, yang pertama Saya lihat bandrol harganya. Heheheheh.....Pasti para haters ( kalo ada.....) akan punya bahan untuk membully Saya. Eits, Saya punya penjelasannya. Di Ternate tu biaya hidup bisa dikatakan tinggi. Sekali makan saja rata - rata Rp 20.000. Kalo tiga kali makan Rp 60.000. Sedangkan harga buku di Ternate, yang gak cuci gudang, rata - rata Rp 100.000. Lah, Saya seorang anak kos kas harus pinter memanage uang saku Saya toh? Senyampang ada buku murah dan Saya tertarik, ya sudah Saya beli saja.


Okay, segitu saja prolognya. Sekarang Saya mau meresensi Gadis Kretek dari sudut pandang Saya.


Gadis Kretek yang ditulis oleh Ratih Kumala terdiri dari 275 halaman. Buku yang Saya beli tersebut merupakan cetakan kedua ( Oktober 2012 ), sedangkan cetakan pertama pada Maret 2012. Wuih hebat juga ya, setahun sudah cetak dua kali. Gadis Kretek terdiri dari 15 bab. Bab 1 diberi judul Jeng Yah.


Romo, pendiri Rokok Kretek Djagad Raja, sudah tiga tahun separuh badannya mati,  hanya bisa berbaring di tempat tidur. Romo mempunyai seorang istri dan tiga anak laki - laki yaitu Tegar, Karim dan Lebas. Tegar dan Karim lah yang selama ini mengurusi kerajaan Rokok Kretek Djagad Raja, sedangkan Lebas lebih memilih sebagai fim maker.


Siang itu Ibu, istri Romo, membanting wadah obat yang sebenarnya akan diberikan ke Romo. Diantara isak tangisnya, Ibu berbisik berharap Romo meninggal sekarang saja. Lebas yang melihat kejadian itu serasa tak percaya. Karena selama tiga puluh tujuh tahun usia perkawinan mereka, Lebas tidak pernah melihat kehadiran orang ke tiga dalam mahligai perkawinan kedua orang tuanya.


Tindakan Ibu tersebut ternyata karena Ibu mendengar Romo dalam tidurnya menyebut sebuah nama, Jeng Yah. Igauan Romo tersebut membuat Ibu marah besar dan cemburu buta. Tegar, Karim, Lebas tidak ada yang berani menanyakan siapa Jeng Yah itu kepada Ibu. Nama Jeng Yah tersebut membuat mereka bertiga sangat penasaran.


Rasa penasaran tersebut diolah dengan keren oleh Ratih Kumala. Alur cerita yang dibuat oleh Ratih Kumala sangat mengejutkan. Seperti pada Bab 3 sampai 8, kita akan diajak oleh Ratih Kumala mengikuti cerita Idroes Moeria dari jaman Belanda, jaman Jepang, sampai era 1965. Siapakah Idroes Moeria?. Sebenarnya ingin Saya ceritakan, tapi nanti jadi gak seru baca bukunya.


Membaca Gadis Kretek ini memaksa kita untuk selalu fokus, selalu mengingat - ingat nama para tokoh, merk rokok kretek, pabrik rokok kretek. Karena kalo tidak, kita bisa bingung sendiri.


Menurut Saya, Ratih Kumala dalam Gadis Kretek ini mencoba menyampaikan pesan tentang kelapangan hati untuk menerima segala sesuatu baik yang menyakitkan maupun yang tidak menyakitkan. Khususnya kelapangan hati Tegar, Karim, Lebas dalam meluruskan sejarah.


Oh iya, harga Gadis Kretek Rp 25.000.