Pages

Cari

Minggu, 19 Juni 2016

Benarkah ada Radja Tempe di London?


 
Memasuki minggu ke tiga di bulan penuh berkah dan pengampunan ini, Saya telah mengkhatamkan sebuah novel. Novel yang disampulnya ada tag line "Sebuah Novel Penggugah Mimpi". Novel tersebut  ditulis oleh Fino Yurio Kristo. Di halaman 307, bab Tentang Penulis, tidak banyak mengungkap jati diri penulis. Hanya tempat dan tanggal lahir, serta negara - negara yang pernah dia jelajahi.


Novel yang berjudul Radja Tempe di Eropa : Dari Yogya Merajai London di halaman 1,2 dan 3 penuh pujian dari beberapa tokoh terkenal. Salah satunya dari Ahmad Tohari, penulis dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Bahkan Ahmad Tohari berkenan memberikan pengantar atas novel tersebut.

Novel setebal 307 halaman tersebut di cetak pertama kali di tahun 2014 oleh Penerbit Matahari Jakarta. Untuk anak muda seusia Saya ini, dimana mata harus sudah dibantu dengan lensa progresif, pemilihan ukuran hurufnya sangat bersahabat dengan mata Saya. Sehingga Saya dengan leluasa menyantap kata per kata dengan lahap.

Cerita ini mengambil setting di kota Yogya dan London ( pasti pada teriak : kan sudah disebutkan di judulnya! ). He he he, kalo pada teriak begitu berarti pada membaca dengan khusuk. Alhamdulillah.

Tokoh utama di novel ini bernama Ridho, seorang pemuda dari Desa Semugih, Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunungkidul, yang mempunyai cita - cita gila yaitu membuka restoran setara KFC atau McDonalds dengan menu utama tempe di kota - kota besar dunia.

Dikisahkan Ridho ini lulusan SMA yang tidak bisa meneruskan kuliah karena tidak ada biaya untuk kuliah. Ibunya seorang penjual gorengan di desanya, bapaknya dulunya adalah sopir angkot yang kemudian mengadu nasib di Arab Saudi. Tapi, sudah tiga tahun tidak ada kabar berita dari bapaknya apalagi uang kiriman, Ridho mempunyai seorang adik yang bernama Rinto, yang duduk di kelas 3 SMA.

Kegiatan sehari - hari Ridho adalah sebagai penjaga warnet di sebuah warnet di Kota Yogya. Di warnet tersebut juga Ridho menumpang tidur bersama dua penjaga lainnya yaitu Andri  dan Yanto.

Selain tokoh - tokoh diatas ada lagi tokoh perempuan. Yaitu Sara, seorang mahasiswi UGM jurusan Bahasa Indonesia yang berasal dari Manchester Inggris dan Rani Puspita Dewi, seorang mahasiswi desain grafis.

Ridho mulai akrab dengan Sara setelah Ridho membantu Sara menambal ban motor Sara yang bocor ditengah jalan. Sara juga yang menyemangati Ridho untuk mewujudkan cita - cita gilanya.

Sedangkan Rani Puspita Dewi adalah kekasih Ridho pada waktu SMA dulu. Rani anak orang kaya. Selepas SMA, Rani memutuskan untuk kuliah desain grafis di sebuah perguruan tinggi ternama di Yogya. Sedangkan Ridho karena keterbatasan biaya tidak melanjutkan kuliah. Mereka berdua akhirnya memutuskan putus secara baik - baik. Ridho dan Rani bertemu kembali ketika Ridho butuh jasa Rani untuk membuatkan logo dari Radja Tempe.

Novel ini memakai sudut pandang "Aku". Ridho menceritakan semuanya dengan mengalir lancar. Bahasanya lugas, percakapannya gampang dicerna, deskripsinya tentang suatu tempat sangat membantu kita membayangkan tempat tersebut. Tidaklah heran karena Fino, Si Penulis, pernah berkelana ke tempat - tempat yang menjadi seting lokasi novel tersebut.

Novel ini mempunyai alur cerita yang zig - zag. Di buka dengan masa sekarang kemudian melompat ke masa lalu, kembali ke masa sekarang kemudian ke masa lalu. Begitu seterusnya.

Tidaklah seru kalau suatu cerita tidak ada konflknya. Demikian juga tidaklah seru kalau Saya menceritakan semua isi novel ini. Apakah Ridho berhasil menggapai cita - cita gilanya? Konflik apa saja yang ditemuinya? Bagaimana juga hubungan Ridho dengan Sara dan Rani, apakah ada kemistri antara Ridho - Sara atau Ridho - Rani?

Kalau menurut Ahmad Thohari, novel ini sangat filmis. Mempunyai potensi kuat untuk dilayar - lebarkan.

Saya jadi ingat ada sebuah kampung di Malang yaitu Sanan, Dari dahulu Sanan terkenal dengan kerajinan kripik tempe. Sampai sekarang pun menjadi salah satu tujuan para wisatawan berburu oleh - oleh khas Malang. Tapi sepertinya tidak ada kreasi dan inovasi dalam mengolah tempe. Yang di jual oleh puluhan toko di Sanan ya hanya kripik tempe. Paling ditambahi rasa.

Saya bukanlah ahli kuliner, tidak paham tentang masak memasak. Mengapa di Sanan tidak ada inovasi atas olahan tempe? Saya yakin para pengrajin tempe di Sanan bukanlah arek wingi sore yang baru saja belajar mengolah tempe. Mereka sudah turun temurun mengolah tempe. Pasti mereka punya alasan kuat mengapa hanya menjual kripik tempe.

Saya berarap Ridho berkunjung ke Sanan dan membagi pengalamannya dalam mengolah tempe.

Oh, mungkin nanti di Radja Tempe 2 akan ada episode ini?
Selamat berburu novel ini.