Pages

Cari

Senin, 15 Agustus 2016

Ndleming Wagu Ra Mutu Setelah Makan Malam di K62 Ternate



Salah satu keunggulan dari suatu usaha jasa adalah pelayanan kepada konsumen. Di beberapa mazhab usaha jasa terdapat premis bahwa konsumen adalah raja. Tahu sendiri kan bagaimana kelakuan raja itu. Jangan sampai sang raja kecewa atas pelayanan yang diberikan. Karena akan sangat berabe kalau raja kecewa. Itu baru dari seorang raja, lah kalau rajanya banyak, wah gak terbayangkan betapa chaosnya keadaan.



Untungnya tidak semua raja bertingkah laku lalim dan durjana. Banyak juga raja yang dirugikan tapi nrima saja, maksimal nggrundel.


Jani begindi, kemarin malam kita diajak makan malam oleh salah seorang teman di Restoran dan Kafe Kalumpang 62 Ternate. Sebagai anak kos, ajakan itu adalah rejeki nomplok yang tidak terkira. Yang biasanya makan nasi kuning atau paling banter ikan bakar di terminal Ternate, maka ajakan ini adalah perbaikan gizi yang harus kita terima tanpa syarat dan kondisi tertentu.




Ruangan Kalumpang 62 cukup lega, bersih, nyaman. Terdiri dari dua lantai. Lantai atas ada ruangan seperti hall. Dibawah tangga ada sebuah panggung kecil , ada sebuah electone diatas panggung itu.


Kita bersembilan mengambil tempat disisi pojok kanan dengan pertimbangan lebih lega, lebih nyaman bisa senderan di tembok.




Kemudian datanglah pramusaji membawa menu. Sebagai anak kos,tentu  tidak mau mensia - siakan kesempatan emas ini. Kita cari menu yang tidak biasa kita makan. Akhirnya setelah membolak - balik daftar menu yang sangat asing bagi kita nama - namanya, terpilihlah menu nasi goreng, sop buntut bakar, mie goreng, steak , dan yang lainnya lupa.


Disinilah premis konsumen adalah raja seharusnya di terapkan.


Satu jam lebih pesanan kita belum jadi. Pramusaji yang kita tanyain hanya menjawab "Sedikit lagi, sedikit lagi.." Padahal di dapur ada lebih dari tiga orang disana. Terus ngapain aja mereka pating kruyuk di dapur...? Untunglah ada sedikit hiburan lagu - lagu dari artis lokal, lumayan dari pada lumanyun.


Saya tidak akan menilai masakannya, karena lidah saya ini bukan lidah sekelas Pak Bondan. Produk akhir dari lidah saya ini cuman dua, enak dan lumayan. Saya tidak bisa mendiskripsikan secara ndakik rasa seporsi makanan. Kalau menurut teman saya yang jago masak, nilainya di kisaran 6 - 8.


Yang ingin saya sampaikan, bahwa tiada gading yang tak retak. Selalu saja ada kelebihan yang diiringi dengan kekurangan. Tinggal bagaimana kita menutupi kekurangan tadi dan membuat lebih yang sudah tinggi. ( Eh, kok wagu banget bahasa saya ini... )


Bersyukurlah K62, karena yang datang tadi adalah raja - raja yang tidak lalim, tidak bengis, dan nrimo.


Cuman, itu menjadi catatan bagi kami. Next?......Nggak janji deh.