Pages

Cari

Minggu, 21 Agustus 2016

Sila Pilih Hotel : Referensi Hotel Untuk Para Abdi Dalem

Jani begindi, Alhamdulillah dua minggu ini Saya diberi kesempatan untuk merasakan nginap di hotel. Bagi Saya yang wong wagu ra mutu, itu adalah suatu pengalaman yang asik. Saya lo sampai mencubit anu saya, meyakinkan diri sendiri bahwa ini bukanlah mimpi di siang hari pas hujan deras.


Pasti banyak yang ngenyek Saya, gak papalah, Saya terima ejekannya dengan suka cita. Eh, siapa tahu catatan Saya ini jadi bahan referensi sesama abdi dalem se Indonesia yang lagi pertama kali mau akan nginap di hotel. Atau dilirik oleh Garuda, atau Sriwijaya, atau Batik dan diminta menjadi kontributor mereka. Asik kan....



1. Fave Hotel Gatot Subroto


Beberapa kali ke Jakarta bersama rombongan abdi dalem, Saya biasanya diajak menginap di Kartika Chandra. La kali ini Saya dapat undangan sendirian, mumpung sendiri Saya pengin coba yang lain. Untunglah di daftar undangan tersebut ada nama seorang abdi dalem yang sangat terkenal, dan untungnya lagi Saya kenal. Tidak akan Saya sebut nama, ini sialnya adalah G.u.s_A.a.n. Langsung saja saya kontek beliaunya. Pertama beliaunya tidak memberi tahu tempat menginap, cuman memberikan clue "hotel belakang KC".




Langsung saja Saya gugling "hotel belakang KC". Dan ketemulah Fave Hotel Gatot Subroto .Via Traveloka, Saya pesan satu kamar untuk dua malam. Saya lihat rate nya sekitar 570 an ribu per malam. Untuk memastikan berapa yang bisa di bayari oleh pabrik,Saya pun bertanya pada Tukang bawa uang pabrik. Alhamdulillah ternyata pabrik mau membayari itu semua.


Saya hampir punya firasat jelek sama sopir Grab yang mengantar Saya dari Soekarno Hatta ke Fave Hotel. Karena Saya dibawa masuk ke gang, apalagi mobilnya pelan - pelan, dan sopirnya clingak - clinguk kiri - kanan seperti sedang memberi aba - aba pada koleganya untuk berbuat gak senonoh pada Saya. Eh, ternyata sopirnya juga baru kali ini ke Fave Hotel. 


Lobby Fave Hotel sangat kecil. Hanya ada sofa yang melingkari pilar. Di sebelah kiri sofa adalah resepsionis. Di sebelah kanan, Restauran dan Kafe yang tidak terlalu besar. Untuk mengantar tamu ke lantai 2 dan seterusnya ada dua buah lift yang menghadap sofa. 


Oleh Mbak Resepsionis, Saya diberikan kunci kamar 304. Sebuah kamar mungil ukuran 5 X 6 ( kira - kira ), dengan satu tempat tidur. Jarak satu meter di depan tempat tidur tergantung TV Led 30 inch.  Disebelah tempat tidur adalah kamar mandi tanpa bathtub, closet duduk, dan wastafel. Tidak ada printian - printilan di kamar mandi, seperti cutton buds, shaving kits, sisir.  Tidak ada almari untuk menyimpan baju kita, hanya gantungan baju. Tidak ada teko listrik buat bikin kopi atau teh, Dan lagi, sepertinya pihak Fave agak sedikit lupa memberikan space untuk tempat solat. 


Untuk mereka yang tidak banyak waktu menikmati sarapan pagi, Saya pikir sarapan pagi di Fave sangat cocok. Sedang untuk para penikmat sarapan pagi sepertinya agak terganggu, karena menunya mungkin kurang variatif dan gak bisa lama - lama karena harus bergiliran dengan tamu lainnya.


Untuk yang capek, tinggal pencet angka 0 di telepon kamar. Maka jasa layanan pijat sehat pun akan meluncur ( pasti banyak yang berpikiran mesumiah nih...)


Kalau hanya untuk tempat berteduh saja, cukuplah di Fave ini.



2. ibis Manado City Center Boulevard


Saya ke sini ngepasi Gamalama Ternate sedang mengeluarkan abu. Beritanya di medsos bahwa Saya mengungsi ke Manado. Padahal kehidupan di Ternate berjalan seperti biasanya, tidak ada yang panik, apalagi sampai mengungsi.


Hotel ini terletak di daerah boulevard, di tengah - tengah pusat perbelanjaan. Bagi yang hobby belanja dan hiburan, ibis hotel sangat dianjurkan. 


Ruang resepsionis terletak di depan pintu masuk. Di sebelah kanan resepsionis sebuah lobby yang tidak besar, namun nyaman. . Plafon di ruang lobby bermotif grafity. Disebelah kiri lobby, Restauran dan Kafe yang berkapasitas 30 an orang, dengan view laut.




Rate nya sekitar 550 an ribu. Pada waktu itu Saya mendapat kamar yang doble bed. Di depan kasur , sebuah televisi LED ditanamkan di dinding kamar. Ukuran kamar kira kira 8 X 5. Yang perlu diperhatikan, kalau solat tidak bisa berjamaah, karena space nya sempit.


Kamar mandi terletak di sebelah kanan pintu masuk, berbentuk setengah lingkaran. Properti kamar mandi standard yaitu wastafel kecil, closet duduk, shower, tanpa printilan - printilan.


Untuk para pemburu sarapan, mereka mungkin sedikit kurang terpuaskan.



3. Hotel Aryaduta Manado


Begitu kita masuk ke lobby nya, akan sangat terasa kelas hotel ini. Lobby nya lega, dengan atap berbentuk kubah yang tinggi. Kursi dan meja ditata dengan keren. Nyaman. Lokasi nya masih di daerah boulevard. Untuk akses ke pusat perbelanjaan bisa ditempuh dengan jalan kaki, naik angkot, ataupun taksi.


Hotel ini menyatu dengan RS. Siloam.


Kamar yang Saya tempati terletak di lantai 11, dengan view kota Manado, laut dan gunung. Kamarnya lumayan besar, kira kira berukuran 9 X 9, dengan single bed. Ada ruang tamu kecil yang kursinya bisa kita singkirkan untuk space solat.


Kamar mandi menganut mazhab lawas, ada bathtub nya, wastafel, closet duduk, disediakan printilan - printilan.


Untuk para tamu yang biasanya sarapannya seadanya, di restauran dan kafe ini Saya yakin mereka akan berlama - lama menikmati menu yang bervariasi.


Dengan rate sekitar 600 an ribu, hotel ini sering penuh. Kalau mau reservasi harus dua - tiga hari sebelumnya.


Oh ya, ada jasa layanan pijat sehat dengan menekan angka 1 di telepon kamar.


Okay, itu sedikit catatan Saya mengenai tiga hotel yang pernah Saya inapi. Catatan ini jujur tidak ada pihak yang mensponsori. Etapi kalau nanti - nantinya ada yang sponsori gimana ya?.....


Sampai jumpa di hotel selanjutnya.