Pages

Cari

Kamis, 06 Oktober 2016

Eksplor Ternate IX : Obi


Hae Jum, pa kabar hari ini. Semoga tercurah segala kebaikan di langit dan di bumi untuk kamu dan aku. Eh, rambutnya dah agak panjang ya? Hehehe sok teu bingits ya . Kalo mau di potong jangan pendek - pendek ya Jum.

Dua hari ini aku berada di Pulau Obi, Jum. Bukan ubi Jummm, O be I. Coba lihat di Google Maps, kamu cari Pulau Obi. Aku juga baru tahu sekarang og. Pulau Obi ini masuk wilayah Halmahera Selatan. Kalau dilihat di peta, letaknya di bawah Ternate, pulau besar ke dua paling ujung.

Senin malam, berarti malam selasa, dari Pelabuhan Bastiong Ternate dengan menumpang kapal Obi Permai, aku melakukan perjalanan di malam hari menuju Pulau Obi dengan rute Ternate - Bacan - Obi. Perkiraan waktu tempuh adalah Ternate - Bacan sekitar delapan jam. Transit dua jam di Bacan, kemudian lanjut Bacan - Obi sekitar enam jam. Kamu bisa bayangkan kan Jum, betapa asiknya.


Di Obi belum ada bandara, sehingga moda transportasi satu - satu nya adalah kapal laut. Itupun cuman ada dua kali dalam seminggu yang dilayani oleh kapal Obi Permai dan Sumber Raya secara bergantian. Senin malam jadwalnya Obi Permai, Rabu malam gilirannya Sumber Raya. Begitu pula jadwal kembali ke Ternate.

Alhamdulillah Jum, pada saat berangkat cuaca sangat bersahabat. Lautnya tenang, setenang aku menunggumu.#Halah. Atau mungkin karena aku lelap ya, jadi ndak terasa goyangan ombak laut.

Setelah kurang lebih delapan jam di laut Maluku, Obi Permai merapat di Pelabuhan Kupal - Bacan sekitar jam lima subuh. Ada dua pelabuhan di Bacan, Babang dan Kupal. Untuk kapal yang tujuan akhir Obi, bersandarnya di Kupal ini.

Obi Permai transit selama kurang lebih dua jam. Alhamdulillah rejeki anak sholeh, Jum, aku ada teman di Bacan sehingga selama menunggu kapal transit aku bisa numpang boker, sholat, mandi, sarapan. Itu juga berkat doa - doa malam mu untuk ku Jum. Eh, bener kan?....Makasih ya Jum.


Jam Sembilan, Obi Permai melanjutkan perjalanan. Kapal melaju melewati jalur sisi dalam. Melipir sepanjang garis pantai, tidak kencang tidak laju sehingga aku bisa memanjakan mataku sepuas - puasnya menikmati pemandangan. Birunya air laut berpadu dengan hijau pohon - pohon di pulau - pulau yang dilewati. Awan putih berarak - arakan dengan latar belakang birunya langit. Segerombolan ikan terbang terlihat dengan lincah terbang di pinggir kapal. Sambil menikmati Pop Mie panas yang dijual di kantin kapal. Bayangkan dulu saja ya Jum, some day....


Ada sebuah pulau kecil diantara Bacan dan Obi, namanya Madapolo. Di sini Obi Permai transit lagi untuk bongkar muat barang maupun penumpang. Aku pun turun untuk melihat - lihat pulau kecil ini. Air lautnya bening banget Jum, bau khas cengkih menguar dari puluhan karung yang ditumpuk di pelabuhan. Gara - gara cengkih inilah bangsa - bangsa Eropa mau menempuh ribuan mil hanya untuk menemukan sumbernya.


Pada saat aku memasuki gapura desa yang bertuliskan "Selamat Datang di Madapolo", pikiranku membuat hipotesis dasar. Yaitu : Sepertinya Gajah Mada pernah bertemu dengan Marco Polo di pulau ini. Berangkat dari hipotesis tersebut aku bergegas mencari bukti - bukti peninggalan pertemuan Mada dan Polo.


Di pasar kecil pelabuhan aku bertemu dengan penjual gorengan yang ternyata orang dari Nganjuk. Aku Tanya mengenai Mada dan Polo, dia jawab, "Kulo nembe ten mriki Mas." Aku bertemu anak - anak pantai yang lagi berenang di pinggir kapal sambil teriak - teriak agar penumpang melemparkan botol bekas Aqua. Aku Tanya tentang Mada dan Polo, mereka malah balik bertanya siapa Mada dan Polo itu?

Memang saat ini aku belum menemukan bukti kuat pertemuan Mada dan Polo disini, tapi aku yakin hipotesisku bener Jum. Meskipun jutaan orang menganggap aku salah dan memaksa aku merubah pendapatku, tapi aku ndak bergeming Jum.#NiruBuMarwah

Jam tiga sore, Obi Permai tiba di Pelabuhan Laiwui - Obi dengan selamat. Dengan naik Pete - pete, nama angkutan umum disana yang bentuknya sejenis dengan angkot biasa cuman penumpang berada dibelakang sopir dan duduknya saling berhadap - hadapan, aku diantar ke sebuah penginapan. Nama penginapannya Nusantara. Aku lihat tadi memang ada lima atau enam penginapan. Tapi sebagian besar rumah penduduk yang karena kelebihan kamar maka disewakan. Kalau Nusantara ini murni penginapan. Ada delapan kamar yang disewakan. Tarifnya 100 ribu semalam. Fasilitasnya, kamu bisa bikin kopi sendiri. Keren kan.

Obi adalah sebuah kecamatan di Halmahera Selatan, dengan tiga desa utama yaitu Laiwui, Buton, dan Jikotamo. Luasnya berkali - kali dari luas Ternate. Jalanan sudah aspal semua. Kota kecamatannya terletak di Laiwui, pusat perekonomian juga di Laiwui. Sepertinya perdagangan di dominasi orang China dan Padang. Penduduk lokal bekerja di kebun cengkih dan pala yang merupakan warisan turun temurun.


Di Obi ada tambang nikel di daerah Kawasi. Banyak ekspatriat China yang bekerja di sana. Mereka saja berani menempuh ribuan mil untuk bekerja di sebuah pulau kecil yang sebagian besar orang Indonesia ndak tahu dimana Obi itu.


Listrik di Obi nyala secara bergantian. Dua malam nyala, semalam mati. Dan untuk pagi sampai sore padam total. Sinyal hape sudah triji, namun seperti lagunya BBB, putus nyambung.

Kehidupan di Obi seperti kehidupan di desa - desa Jawa. Pagi hari anak - anak SD, SMP, SMA berangkat sekolah, kebanyakan jalan kaki. Para pegawai pemda dengan seragam coklat - coklat mengendarai sepeda motor berangkat ke kantor. Para petani berangkat ke ladang, para ibu ada yang ke warung, ada yang ngerumpi, ada yang mandiin balitanya. Asik Jum.

Kemarin sore Jum, aku melihat langit berwarna keemasan. Sore itu akan jadi sore yang fangki Jum, ketika kita nikmati bersama.


Dan tadi pagi yang mendung, aku pergi ke sebuah dermaga kecil. Sepi, tidak ada orang disana. Ada empat speed boat yang bersandar. Aku melihat kita berdua duduk di ujung dermaga, gojek wagu ra mutu. Ngobrol A sampai Z, sesekali melempar pancing. Setelah capek ngobrol kita sewa speed muter muter Obi. Jiyaaannnn......

#ditulis diatas Obi Permai menuju Ternate.