Pages

Cari

Rabu, 15 Februari 2017

Kelas Inspirasi Halmahera Selatan #3 di SDN Loleongusu : Sehari Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi.

Relawan Inspirator ( ki - ka ) : Pak Polisi Dwi, dr. Agil, Kakak Pajak Arif, dr.Ona, Pak Tentara Ribut

Saya sudah beberapa kali ke Labuha dengan rekan kerja dalam rangka urusan pekerjaan. Tapi Jumat malam ini, tanggal 10 Februari 2017, saya akan traveling sendirian ke Labuha. Jujur, bisikan dihati yang mencoba menahan kepergian malam itu terlintas pula. "Ngapain naik kapal sendirian, Jumat malam lagi. Waktunya orang istirahat, santai, setelah lima hari kerja." Alhamdulillah, dengan mengumpulkan sisa - sisa kekuatan niat yang kuat, saya perlahan - lahan bisa mengalahkan bisikan - bisikan tersebut.

Jam delapan malam, Mas Sam, seorang keamanan di kantor, menjemput saya di tempat kos. Mas Sam ini selain keamanan di kantor, beliaunya sering dimintai tolong untuk cariin tiket kapal plus kamarnya. Saya diantar sampai menemukan kamar yang telah dipesan. Setelah selesai urusan tiket dan kamar, Mas Sam pun berpamitan pulang. Malam ini bulan terlihat penuh, langit cerah, ombak tenang. Semesta mendukung perjalanan malam ini. 


Jam 04.30, kapal Aksar Saputra berlabuh di Pelabuhan Babang, Labuha. Rupanya tempat tidur di kamar nomor 18 telah melenakan Saya. Goyangan ombak seperti ayunan yang meninabobokan, delapan perjalanan tidak terasa sama sekali. Setelah  turun dari kapal, segera saya hubungi Udin. Udin adalah adik kelas jauh dari STAN yang saat ini sedang bertugas di Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan ( KP2KP ) di Labuha.  Dia juga ikut Kelas Inspirasi ini. Segera Udin mengantar saya ke messnya, memberi kesempatan saya untuk bersih - bersih badan dan bersiap ke Pelabuhan Habibi untuk bersama rombongan Kelas Inspirasi Halmahera Selatan #3    ( KI Halsel #3 ) menuju lokasi tempat kita akan menginspirasi anak - anak Halmahera Selatan.

Berawal dari talkshow di Radio RRI Pro2 FM Ternate, yang membahas tentang Kelas Inspirasi. Yang saya ingat pada saat itu akan ada pendaftaran relawan untuk KI Halsel #3 pada bulan Januari 2017. Segera setelah talkshow itu, saya mencari tahu tentang KI Halsel. Baik di FB, situsnya, maupun dari youtube. Dalam benak saya, "Ooo, ini Indonesia Mengajar." Kemudian saya lihat jadwal pelaksanannya tanggal 10, 11, 12 Februari 2017 bertepatan dengan hari Jum'at, Sabtu, Minggu. Jum'at untuk briefingnya, Sabtu pelaksanaan Kelas Inspirasinya, dan Minggu acara refleksi. Saya pikir tidak menggangu jam kerja, karena saya bisa berangkat Jum'at malam setelah pulang kantor, dan Minggu malam bisa pulang naik kapal sampai di Ternate hari Senin sekitar jam empat subuh. Yang mendorong saya untuk mendaftar via online , Saya pikir ini adalah pengalaman yang sangat berharga merasakan sebagai Butet dengan Sokola Rimbanya, ataupun Rosa Dahlia yang mengajar di Asmat. Meskipun Saya jauuuuhhhhhh banget levelnya dengan mereka, karena saya cuma sehari.

Ada sekitar 35 orang ( kalau tidak salah ya..) para Relawan Inspirator. Mereka terdiri dari bermacam profesi. Ada dokter, tentara, polisi, pajak, bankir, wartawan, pegawai BPS, insinyur, seniman, penyiar radio, pertambangan, apoteker, arsitek, pegawai BPN, pegawai BNPB. Tiga urutan terbanyak adalah dokter, polisi, tentara.

Jam tujuh pagi para relawan sudah berkumpul di Pelabuhan Habibi Labuha. Rombongan relawan dibagi delapan kelompok sesuai dengan SD yang akan mereka datangi. Ada dua kapal yang akan membawa rombongan relawan. Kapal pertama membawa rombongan relawan yang akan menuju SDN Marakoko/Kakupang, SDN Marikapal, SDN Tawabi, SDN Jere. Kapal kedua membawa robongan relawan ke SD LPM Bobo, SDN Pelita, SDN Akedabo, dan SDN Loleongusu. Berdasar daftar dari panitia, saya masuk di SDN Loleongusu. SDN Loleongusu merupakan sekolah yang lokasinya paling jauh sendiri diantara empat SD tadi. 

Sebuah longboat sudah parkir di pelabuhan Habibi. Sedikit gambaran, longboat ini lebarnya sekitar satu meter dengan panjang sekitar sepuluh meter, tidak tersedia jaket pelampung, bermesin dua. Rombongan yang terdiri dari 32 orang, satu persatu menaiki longboat. Wajah - wajah terperangah memancar dari masing - masing relawan. Untungnya ada beberapa bapak polisi dan tentara yang ada di rombongan longboat ini. Sedikit banyak membuat tenang hati - hati yang ndredeg.

Lima belas menit pertama, mesin longboat berkali - kali mati. Untungnya cuaca cerah tidak hujan, ombak tenang. Tapi itu sudah membuat beberapa wajah merengut, gelisah, terlihat mulut - mulut beberapa Ukhti bergerak - gerak melantunkan doa - doa. Seorang bapak tua yang berdiri di tengah longboat, bertugas menguras air laut yang masuk ke dalam longboat. Saya takutnya kalau mesin mati dan ombak besar, kapal pasti akan terombang - ambing. Untunglah ombak pagi itu tidak bergejolak, dan mesin akhirnya bisa bekerja dengan normal. 

Setelah dua jam perjalanan, tibalah di Pelabuhan Pelita. Ternyata yang turun di sini adalah rombongan yang mau ke SD LPM Bobo dan SDN Pelita. Rombongan SDN Akedabo dan SDN Loleongusu masih harus melanjutkan berlayar lagi. Lagi - lagi mesin longboat ngadat lagi. Hampir setengah jam kita terkatung - katung diatas longboat, hingga akhirnya panitia memutuskan berganti kapal kayu yang agak besar atau biasa disebut kora - kora. Dengan kora - kora ini kita bisa menikmati perjalanan, tidak was - was.

Rombongan relawan SDN Loleongusu yang terdiri dr. Agil Rumboko  , dr.Fahima Abusama, Bapak Polisi Dwi, Bapak Tentara Ribut, Mbak Catur Nugraheni ( BPN Labuha ), Mas Agung ( Panitia dari PPD ) dan saya tibalah di pelabuhan kecil di Loleongusu . Jam sudah menunjukkan pukul 11.30 siang. Rombongan kami disambut dengan meriahnya, seperti menyambut kedatangan Presiden. Bapak Lurah beserta staf , Bapak Kepala Sekolah, bapak dan ibu guru bergantian menyalami kami satu persatu. Murid - murid SDN Loleongusu berjajar dikiri kanan sambil menyanyikan lagu ( Maaf, saya lupa lagunya apa. Karena sangking terhenyaknya saya. ) Dan yang paling berkesan kita disambut dengan tarian Cakalele. Terus terang baru kali ini saya disambut dengan upacara adat yang wow. Biasanya saya hanya bisa melihat di berita televisi tentang penyambutan pejabat A, atau tamu negara B dengan tarian adat. Lah ini saya yang disambut dengan tarian adat. Kekinian banget.

SDN Loleongusu mempunyai murid dari kelas 1 sampai kelas 6 sejumlah 59 murid. Ada tiga lokal bangunan yang digunakan untuk aktifitas belajar dan sebuah lokal bangunan yang digunakan untuk kantor dan ruang baca. Dua lokal bangunan kelas yang sepertinya masih baru berdiri kokoh, berdinding bata, atapnya berplafon dan lantainya keramik. Sedangkan yang satu lokal bangunan kelas berdinding kayu yang sudah lapuk, atapnya banyak yang jebol, lantainya dari semen. Bersebelahan dengannya adalah kantor sekaligus ruang baca. Kondisinya setali tiga uang.Tenaga pengajar di SDN Loleongusu terdiri seorang Bapak Kepala Sekolah, tiga orang Ibu Guru tidak tetap, seorang Bapak Bagian Umum merangkap Guru Bahasa Daerah. Ditambah seorang Pemuda Penggerak Desa ( PPD ) yang telah tinggal di Loleongusu selama enam bulan, Erita Apriliasih. SDN Loleongusu adalah satu - satunya sekolah yang ada di Loleongusu. Kalau mereka mau melanjutkan SMP, SMA harus ke Labuha.

PPD adalah sebuah program dari Pemerintah Daerah Halmahera Selatan yang terinspirasi dari Indonesia Mengajar. Program ini mengajak para pemuda - pemudi dari segala jurusan ilmu untuk menjadi PPD yang akan ditempatkan di sebuah daerah terpencil di Halmahera Selatan ( tanpa sinyal, listrik byar pet, transportasi susah, dan sebagainya ) sebagai tenaga pendidik selama setahun. PPD saat ini telah memasuki tahun ke tiga. Yang berhasil lolos sebagai PPD ke 3 tahun 2016 ada 17 orang.

Oleh fasilatator, yaitu Mbak Catur dan Mas Agung, telah dibuatkan jadwal open mic untuk para inspirator. Sebelumnya para murid telah dibagi menjadi tiga Rombongan Belajar ( Rombel ). Rombel I terdiri dari kelas 1 dan 2, Rombel II terdiri dari kelas 4 dan 5, Rombel III terdiri dari kelas 3 dan 6. Inspirator ada empat profesi, yaitu dokter ( dr. Agil dan dr. Ona ), tentara ( Bapak Ribut ), polisi ( Bapak Dwi ), pajak ( saya ). Setiap inspirator akan open mic selama 30 menit per Rombel.

Beberapa hari sebelumnya saya telah mencoba belajar mempersiapkan diri agar nantinya bisa open mic dengan sukses dihadapan para pemilik masa depan bangsa ini. Saya googling apa saja yang berhubungan dengan Kelas Inspirasi. Saya buka youtube, belajar bagaimana open mic yang wow. Di kepala saya pun sudah ada gambaran apa yang akan dilakukan.

It's show time. 
Grogi juga masuk ruangan diiringi tatapan polos para murid SDN Loleongusu. Tidak nampak wajah lelah setelah sedari pagi menunggu kedatangan kita. Mata mereka berbinar - binar melihat tas  yang berisi boneka lebah saya letakkan diatas meja guru. Sebagai pembuka, Saya sapa mereka dengan selamat pagi meskipun matahari sudah diatas kepala kita. Oh iya, sebagai pengetahuan saja, 100% murid SDN Loleongusu adalah beragama Kristen. Saya perkenalkan nama Saya, pekerjaan saya, asal - usul saya. Kemudian, blank. Bingung saya mau ngomong apa. Kalau dokter dengan jas putih dan stetoskopnya sudah menarik perhatian para murid. Demikian juga tentara dan polisi. Dengan seragamnya yang gagah dan juga perbendaharaan lagu - lagu marsnya sangat seksi di mata para murid. Lah Saya, berbaju batik tanpa alat peraga, Mars Pajak saja gak hapal, apa seksinya bagi para murid.

Saya pernah baca bahwa tujuan kelas insiprasi ini adalah para profesional memperkenalkan profesi mereka agar para murid mempunyai banyak pilihan cita - cita serta termotivasi untuk mempunyai mimpi yang besar. 

Untuk mencairkan suasana, saya pancing para murid untuk maju ke depan memimpin tepuk semangat. Pada malu, gak ada yang berani maju. Saya keluarkan sebuah pulpen yang ada tulisan kantor. "Yang berani maju memimpin tepuk semangat, kakak kasih pulpen."

Bapak kepala sekolah dan ibu guru ikutan menyemangati para muridnya untuk maju. Masih pada belum pede juga, Saya naikkan hadiahnya ditambahi dengan boneka lebah. Riuh rendahlah suasana. "Ngana tara suka boneka e?" pancing Saya. "Suukaaaaa..." Jawab mereka serempak. "Terus kenapa ngana tarada yang maju mimpin ngana pe kelas e?" Akhirnya ada yang berani maju juga. "Siapa ngana pe nama?" Anak itu menyebutkan sebuah nama. ( Maaf, Saya lupa nama para murid karena nama mereka sangat asing bagi Saya disamping faktor U ) Suasanapun cair, mereka lebih berani untuk diajak berinteraksi. 


CIta - cita mereka ditempel di Perahu Impian.

Untuk mencoba memberikan pemahaman apa itu pegawai pajak, saya mencoba memberikan gambaran seperti keadaan sebuah kelas. Dimana kelas itu ada Ketua Kelas, Wakil Ketua, Bendahara, Sekretaris. Dan juga ada iuran kelas yang akan digunakan untuk membeli keperluan kelas, misalkan sapu, tempat sampah. Tugas mengumpulkan iuran itu ada di Bendahara. Begitu juga pegawai pajak, tugasnya mengumpulkan uang yang akan digunakan untuk bangun jalan, jembatan, gedung sekolah, ( Ini adalah bagian yang paling satir, karena salah satu lokal bangunan SDN Loleongsu sudah sangat parah). Untuk lebih menarik minat mereka, Saya bercerita bahwa untuk menjadi pegawai pajak itu sekolahnya gratis, di Jakarta, namanya STAN. 

Diakhir sesi, Saya minta mereka menuliskan nama mereka dan cita - cita mereka di selembar kertas. Kemudian kertas itu dilipat dijadikan pesawat terbang. Suasana agak sedikit chaos karena ada beberapa murid yang tidak bawa alat tulis. Untunglah saya membawa pulpen lumayan banyak. "Siapa yang tara punya pulpen e?" Tanya Saya. "Sayyaaaa.....Saya...Saaayaaaa...." Tangan - tangan kecil itu berebutan mengacungkan jari mereka. Bahkan yang sudah bawa pulpen pun mengacungkan jari. 

"Satu, dua, tiga..Lemparrrr!!!" Maka pesawat - pesawat kertas itu meluncur ke atas. Ada yang mengenai kepala temannya, ada yang terbangnya rendah nyungsep di bawah kolong meja, ada yang terbang menabrak plafon, ada yang terbang keluar kelas. Wajah - wajah sumringah, teriakan - teriakan cemengkling, semuanya berbaur. Setelah semua murid mengambil pesawat kertas secara random, Saya persilakan masing masing bergiliran membacakan cita - cita yang tertulis di kertas tersebut. 


Semangat anak - anak Loleongusu gilak.

Dari yang saya dengar, sebagian besar bercita - cita mejadi tentara, polisi, bidan, guru, dokter. Ada satu anak yang menuliskan cita - citanya adalah astronot. Anak laki - laki kelas 3, perawakannya kecil mungil. Yang paling gak laku adalah pegawai pajak. Apa mungkin karena saya salah memberikan gambaran profesi ya? Mungkin juga karena ini baru pertama kalinya mereka mendengar ada profesi sebagai pegawai pajak alias fiskus. 

Haripun mulai beranjak sore. Tibalah saat dimana kita harus mengakhiri perjumpaan yang istimewa ini. Sebelum para murid pulang, mereka diminta menuliskan nama dan cita - cita mereka di secarik post-it untuk kemudian ditempelkan di Perahu Impian. Sebagai suatu simbol, nantinya mereka akan menaiki perahu impian tersebut meraih cita - cita mereka.

Sebelum pulang, kami dipersilakan oleh Pak Lurah dan warga Loleongusu untuk bersantap siang dulu. Bagi kami para relawan, ini adalah acara yang paling ditunggu. Ikan bakar, ikan goreng, kasbi goreng, sagu, sayur pepaya, apa lagi ya.... Pokoknya nikmaattt.

Terimakasih murid - murid SDN Loleongusu, semangatnya gilak. Terimakasih bapak ibu guru SDN Loleongusu, jaga semangat, jaga kesehatan. Terimakasih Pak Lurah dan staf - warga Loleongusu, terimakasih atas sambutan yang hangat dan sangat menghargai. Terimakasih Erita Apriliasih (guru muda PPD ), you rock ma lady. Terimakasih Catur ( fasiliatator ), atas sarapan nasi kuningnya. Terimakasih Agung ( fasilitator + guru muda PPD ), we will meet again, brader. 

Terimakasih para relawan dan PPD, jang lupa badai dahsyat pernah mau menenggelamkan kita di Nusara.

Terimakasih Allah SWT.

*) Foto - foto KI Halsel3 bisa dilihat di IG :arif_kancil_wibowo