Pages

Cari

Rabu, 05 April 2017

Traveling N Teaching 1000 Guru Maluku Utara di Tidore Kepulauan.


Benar kata pepatah bahwa hidup itu adalah pilihan. Disaat teman - teman pajak seluruh Indonesia pada tanggal 1 April 2017 jam 05.30 WIT masih terbuai mimpi karena kecapekan setelah lembur sampai jam 24.00 tanggal 31 Maret 2017, saya malah memilih cari ojek untuk mengantar ke Pelabuhan Residen. Sesuai pesan di grup WA, paling lambat jam 05.30 WIT rombongan 1000 Guru Malut diharap sudah berkumpul di Pelabuhan Residen. Jarak kos saya ke Pelabuhan Residen sekitar lima menitan, sampai disana saya tidak melihat teman - teman relawan 1000 Guru Malut, hanya ada tiga orang tukang ojek yang sedang istirahat. "Wah, terlambat nih." Pikir saya. Saya buka grup WA 1000 Guru Malut. Oh, ternyata mereka lagi otw. Kalau kata Iwan Fals, "Biasanya...kereta terlambat. Dua jam mungkin biasa."



Awal Maret 2017 saya dapat kiriman di WA dari seorang teman, gambar e - poster open recruitment kegiatan Traveling N Teaching yang akan diadakan oleh 1000 Guru Malut pada tanggal 1-2 April 2017 dengan lokasi di daerah Tidore Kepulauan. Gak tau kenapa, sejak saya ikut Kelas Inspirasi Halmahera Selatan, saya seperti ketagihan untuk ikut hal - hal seperti itu. Adalah menyenangkan melihat kepolosan anak - anak SD, keramahtamahan penduduk, keindahan alam pelosok Indonesia dari dekat. Mungkin bagi sebagian orang, kata - kata saya adalah klise.

Kalau kita lihat di akun instagram 1000gurumalut, ada penjelasan bahwa mereka adalah komunitas yang peduli dengan pendidikan di pedalaman Maluku Utara. Komunitas 1000 Guru Malut adalah bagian dari komuitas 1000 Guru yang didirikan oleh Jemi Ngadiono. Diseluruh Indonesia sekarang sudah ada 35 regional dan 1000 Guru Malut merupakan regional paling muda. Salah satu kegiatannya adalah Traveling N Teaching (TNT) yaitu jalan - jalan namun memberikan manfaat kepada sesama dengan cara mengajar dan berbagi dengan anak - anak di pedalaman atau di daerah perbatasan Indonesia. Kali ini, 1000 Guru Malut akan mengadakan TNT di SDN Todapa dan SDN Talasi, Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan.


Untuk mencapai lokasi, kita harus menaiki sebuah speedboat dengan lama perjalanan sekitar 2 jam. Kurang lebih 34 orang relawan dan panitia dari berbagai profesi harus rela berbagi tempat. Ada yang didalam lambung, ada yang di anjugan duduk dekat motoris, ada yang di dek depan, ada yang di dek belakang, dimana saja yang penting keangkut. Mungkin karena malamnya kurang tidur, tanpa sadar tubuh saya ternyata telah merebahkan diri dengan nyenyaknya. Ketika membuka mata, speedboat sudah merapat di Pelabuhan Gita, Tidore Kepulauan.


Rombongan dibagi dua, satu menuju SDN Todapa dan satunya menuju SDN Talasi, dan saya ikut rombongan Talasi. Relawan yang ikut kegiatan TNT kali ini dari beragam profesi. Ada pegawai Kementerian Keuangan, dokter gigi, polisi, dosen, karyawan swasta, pegawai Pemkot Ternate, pegawai BPS, pegawai kantor pos, tenaga ahli USAID, pegawai Kementerian Perhubungan, pegawai lembaga pemerintahan, notaris, bankir, anggota Ternate Heritage Society, dan banyak lagi. 


Jarak SDN Talasi kurang lebih 10 menit perjalanan dari Pelabuhan Gita dengan menggunakan mobil pickup. Letaknya di pinggir jalan, bangunannya berbentuk letter L, berdinding bata, lantainya keramik putih bersih, sebuah lapangan upacara berada di depan kantor sekolah. 


Kedatangan kita langsung disambut anak - anak dan para guru. Wajah - wajah polos berbinar - binar, entah apa yang ada di benak mereka melihat banyak wajah asing berkunjung ke sekolah mereka. 


Jumlah murid SDN Talasi ada 46 anak. Kelas 1 = 10 murid, kelas 2 = 5 murid, kelas 3 = 2  murid, kelas 4 = 6 murid, kelas 5 = 8 murid, kelas 6 = 7 murid. Tenaga pengajarnya terdiri seorang Ibu Kepala Sekolah, empat orang ibu guru. Mungkin karena jumlah penduduk di Talasi masih sedikit, sehingga murid SDN Talasi juga masih sedikit.


Sesuai arahan pada saat Tehnical Meeting, bahwa nantinya para relawan akan dibagi menjadi enam kelompok dan setiap kelompok akan mengajar di kelas yang telah ditentukan. Kebetulan saya mendapatkan kelompok kelas 1 yang terdiri Kak Ian, Kak Winda, Kak Endang. Kak Ian akan mengajarkan huruf, Kak Winda mengajarkan warna, Kak Endang mengajarkan angka, dan saya mengenalkan macam - macam profesi.

Yang pertama open mic di depan kelas adalah Kak Endang. Dengan alat peraga yang dibuat sendiri oleh Kak Endang, murid - murid diajak bermain angka. Merekapun begitu antusias mengikuti permainan dan menjawab pertanyan. Di akhir sesinya, Kak Endang bikin kuis, siapa yang bisa menjawab dengan benar mendapat hadiah dari Kak Endang.

Giliran komika kedua adalah Kak Ian yang akan mengajak murid - murid bermain dengan huruf. Mereka dengan lancar mengeja huruf per huruf. Kak Ian menggambar di papan tulis sebuah rumah. "Yang tahu gambar ini, tuliskan di papan tulis ya..." Murid - murid saling pandang. "Gambar apa ini?" Belum ada yang menjawab. "Ini adalah tempat kita tinggal. Apa namanya?" Seorang murid mengacungkan jari. "Apa namanya?" "Talasi, Kak." Begitulah anak - anak, menjawab dengan apa adanya.

Kak Winda mendapat giliran ke tiga. Dengan semangat 45, Kak Winda memulai pengenalan warna dengan mengajak menyanyi lagu Balonku. Kemudian mereka diajak main tebak - tebakan warna. "Ini warna apa?" "Kuninggggg..." "Ini warna apaaa?" "Meraaahhh.." "Kalau ini?" Kak Endang menunjuk sebuah warna ungu. "Purple." Kak Endang terperangah dengan mulut menganga lebar. Begitulah anak - anak, jawaban mereka melewati batas - batas negara.

Giliran terakhir, saya mengajak mereka untuk mengenal berbagai macam profesi. Saya bawakan gambar dari macam - macam profesi. "Ini gambar apa?" Serentak mereka menjawab, "Polisiiiii." "Kalau ini?" "Pak tentaraaaa." "Siapa mau jadi tentara?" "Sayaaaaa." Sebuah gambar nelayan mencari ikan saya tunjukkan kepada mereka. "Siapa yang tahu apa ini?" "Kapal, Kak." "Bukan kapalnya, yang cari ikan namanya apa?" Diam semua. "Ne...." Masih diam semua. "Ne...." "Nenek, Kak.". Kemudian saya tunjukkan gambar seorang artis. "Boy, anak jalanan, Kak." Begitulah anak - anak, menjawab dengan jujur.

Di akhir sesi 1000 Guru Malut memberikan donasi berupa sepatu dan tas ke masing - masing murid. Wajah - wajah sumringah memancar ke semesta.

Sore hari setelah hujan deras, kitapun berpamitan pulang. Murid - murid masih memakai name-tag yang terbuat dari karton dengan berbagai macam bentuknya, mengantarkan dipinggir jalan. "Kak, kalau mandi boleh dilepas gak ini?" Sambil menunjuk name-tag mereka. Begitulah anak - anak.

Malamnya kita menginap di SDN Todapa. Saya yakin bagi sebagian besar relawan, tidur dengan beralaskan matras, antri mandi, makan bareng - bareng, gelak tawa lepas, naik mobil bak terbuka, malam hari dengan penerangan seadanya, adalah sesuatu yang sudah bertahun - tahun tidak mereka lakukan. Atau bahkan ada yang belum pernah mengalami sama sekali. Ini akan menjadi pengalaman berharga atau buruk, tanya saja pada rumput yang joget poci - poci.

Keesokan paginya, sebuah pulau kecil di dekat Tidore, Pulau Filonga menjadi tujuan traveling kita. Semua terlihat semangat sekali menuju Filonga. Gerimis tidak menghalangi niat kita. Speedboatpun melaju menuju Pulau Filonga. Ditengah perjalanan hujan mulai menderas, ombak menghentak - hentak. Mendekati Filonga, hujan menjadi - jadi. Kata Si Motoris, speedboat tidak bisa masuk ke Pulau Filonga.  "Yaahhhh....." Koor pasrah dari relawan beradu dengan derasnya hujan. Untuk mengobati kekecewan akhirnya speedboat diarahkan menuju Pulau Maitara, pulau yang diabadikan di selembar uang seribuan. Meskipun tidak seindah Pulau Filonga, lumayanlah bisa snorkeling melihat ikan dan karang hidup.

Adalah sesuatu yang nagih, ikutan membayar utang para pendiri bangsa, "mengantarkan rakyat Indonesia menuju gerbang kemerdekaan."

Peduli itu butuh aksi yang memotivasi dan menginspirasi.