Pages

Cari

Rabu, 14 Juni 2017

Eksplor Ternate XII :Blusukan di Falajawa

Lorong Kampong Falajawa

Seminggu yang lalu, saya melihat di instagramnya komunitas Ternate Heritage Society, akan mengadakan acara buka  bersama yang bertajuk Jelajah Pusaka Falajawa ( JPF ). Dalam keterangan di e-posternya tertulis, menjelajahi salah satu kampong tua di Ternate, menikmati arsitektur khas Fala Kanci dan Rumah Indis, melihat proses pembuatan kue tradisonal, dan berburu takjil untuk buka puasa bersama di Pantai Falajawa.

Saya teringat kira – kira setahun yang lalu ketika menginjakkan kaki pertama kali di Ternate, suatu sore diajak oleh teman kos main ke pantai. Dalam bayangan saya lokasi pantai tersebut pasti jauh dan berpasir putih sepanjang bibir pantai. Lima menit berkendaraan roda dua dari kos, sampailah saya di laut bening yang letaknya dipinggir jalan besar. Banyak orang bermain disitu, ada yang renang di laut, ada yang duduk –duduk dipinggir sambil menikmati jagung rebus. “Pantainya mana?” Tanya saya. “Ya ini, namanya Pantai Falajawa.” “Kok gak ada pasirnya?”



Hari Minggu, 11 Juni 2017, jam 16.00, 20 orang peserta JPF telah berkumpul di Masjid Muhajirin yang letaknya persis di seberang Pantai Falajawa. Sebagian peserta sudah tidak asing lagi bagi saya, sebagian lagi baru kenal. Setelah solat Asar berjamaah di Masjid Muhajirin, ke 20 orang peserta di kumpulkan di serambi masjid. Ada sedikit sambutan dari Pak Lurah Falajawa. Pada initinya Pak Lurah sangat mengapresiasi kegiatan ini, karena kegiatan ini sesuatu yang unik yang tidak dipunyai di wilayah lainnya. Pak Lurah berharap suatu saat akan ada Festival Falajawa.

Fala dalam bahasa Ternate berarti rumah, sedangkan Jawa ya Jawa. Falajawa berarti Rumah Jawa. Tapi bukan berarti Kampong Falajawa dihuni oleh orang Jawa, sebagian besar yang tinggal di kampong Falajawa adalah orang – orang Arab.

Kata Falajawa pertama kali muncul ketika Sultan Zainal Abidin Syah pulang dari belajar agama Islam di Gresik. Sultan Zainal Abidin Syah datang ke Ternate bersama dengan ulama Datuk Maulana Husein. Mereka mendirikan Pangaji, atau semacam pondok pesantren. Bangunan – bangunan di pangaji ini mempunyai struktur atap seperti struktur atap joglo di Jawa. Ada juga yang mengatakan disebut Falajawa karena dahulu ada pintu gerbang pangaji yang sangat besar, persis di sebelah masjid Muhajirin yang mempunyai struktur atap menyerupai atap joglo di Jawa.

Jalan kampong Falajawa ini mengingatkan akan kampong Laweyan, kampong halaman saya di Solo. Dengan jalan berupa lorong – lorong kecil, cuman bedanya kalau di Laweyan, kiri kanan lorong adalah tembok tinggi rumah para Mbok Mase juragan batik, sedangkan kalau di Falajawa, di kiri kanan lorong menguar harum kue – kue tradisonal yang sedang di oven di forno.

Forno

Rumah pertama yang kita singgahi adalah rumah Ibu Noni. Ibu Noni, menurut keterangan beliaunya, adalah generasi ke 4 pembuat kue tradisonal dengan menggunakan forno. Forno ini mungkin semacam ruang pembakaran. Berupa dinding berbentuk segi empat dengan lobang kecil di tengah bagian bawah. Cara kerjanya adalah, kayu soki atau kayu bakau dibakar di dalam forno selama kurang lebih satu jam. Setelah kayu soki mejadi arang, arang – arang tersebut dikeluarkan sampai tak bersisa. Baru kemudian kue yang sudah setengah jadi di masukkan dalam forno. Lama pengfornoan tergantung jenis kue nya. Ada yang 30 menit, ada yang 60 menit. Katanya sih rasanya lebih enak kalau di forno.


Fala Kanci

Rumah Ibu Noni ini merupakan Rumah Kanci, atau rumah kancing, atau Fala Kanci. Murni rumah kayu, sehingga sambungannya tidak dipaku tapi di kancing dengan kayu. Sistem Fala Kanci ini juga mengingatkan saya rumah di Laweyan, Solo. Kalau di Solo istilahnya adalah dipantek. Sambungan antar kayunya di kunci dengan kayu, tidak dengan paku. Fala Kanci ini sangat responsif terhadap gempa, karena ketika gempa, Fala Kanci ini ikut bergoyang.

Rumah ke dua yang kita singgahi masih tentang forno. 


Rumah ke tiga adalah rumah Indis. Sebutan Indis berasal dari kata Nederlansch Indie atau dalam bahasa Indonesia berarti Hindia Belanda. Jadi rumah indis adalah rumah yang arsitekturnya dipengaruhi oleh Belanda.

Rumah indis yang kita kunjungi ini sekarang di tempati oleh Bapak Saleh dan keluarga. Karena perkembangan jaman, rumah indis ini sudah mengalami beberapa perubahan, dan juga tidak kelihatan dari luar. Untuk menuju ke sana kita harus melewari lorong sempit. Pada teras depan masih tersisa dua pilar gemuk. Pilar tersebut mengingatkan saya pada rumah – rumah peninggalan Belanda di daerah Pasuruan.

Rumah Indis

Pak Saleh bercerita pernah ada beberapa peneliti mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi di Cina. Mereka memperlihatkan sebuah foto rumah di pinggir pantai, persis seperti rumah Pak Saleh ini. Jadi dahulu sebelum reklamasi pantai Falajawa, rumah indis ini menghadap ke laut dengan pantai berpasir yang menghampar.

Dinding rumah ini adalah seng, yang menurut Pak Saleh sejak dia lahir belum pernah mengganti dinding seng tersebut. Rumah Indis ini dilengkapi juga dengan pintu kacil. Yaitu pintu – pintu kecil rahasia yang menghubungkan antar kamar. Ada yang menyebutnya pintu anjing, atau pintu pancuri. Pada dinding seng bagian atas terdapat beberapa lubang. Menurut cerita Pak Saleh, itu adalah bekas tembakan pesawat sekutu ketika merebut Ternate dari tangan Jepang.

Setelah dari rumah indis, sasaran berikutnya adalah berburu kuliner khas Falajawa yang dijajakan di sepanjang Pantai Falajawa. Seru, hujan – hujan berburu kuliner untuk takjil. Rencananya adalah berbuka puasa di pinggir Pantai Falajawa, sambil menikmati angin laut, melihat matahari terbenam, apa daya hujan tak berhenti. Ya sudah, akhirnya kembali ke selera asal, berbuka di Masjid Muhajirin.